Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Kado Istimewa Gie untuk Bung Fahri Hamzah

Kolaborasi Mengatasi Stunting

Awal November ini, Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia K.H. Ma'ruf Amin, mengadakan rapat terbatas yang dihadiri sejumlah menteri terkait yang berfokus pada pengentasan kemiskinan...

Tahun Baru Islam dan Ibu Kota Baru

Sebentar lagi akan memasuki tahun baru Islam. 1 Muharram 1441 H akan jatuh pada hari Ahad 1 September 2019. Ini merupakan tahun baru bagi...

Haruskah Munas Partai Golkar Dipercepat?

Partai Golkar kembali bergejolak, kali ini terkait dengan desakan kader dan beberapa elit Partai Golkar yang mendesak dilakukannya percepatan diselenggarakannya Musyawarah Nasional (Munas) Partai...

Nadiem Makarim dan Lelucon Link and Match

Mengatakan satu pos kementerian atau lembaga pemerintahan lebih baik dan strategis dibanding yang lain tentu saja tidak tepat. Antara satu kementerian dengan kementerian yang...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Ketika ribuan Mahasiswa bergerak untuk melakukan pergerakan demonstrasi di berbagai wilayah, saya langsung teringat dengan sosok aktifis yang mati muda itu, namanya Soe Hok Gie.

Seorang Mahasiswa sekaligus aktifis yang tetap menjadi aktifis dan tetap menjaga nyala api idealismenya meskipun berbagai tawaran untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan menghampirinya. Namun sayang, rekan-rekan aktifis seperjuangannya dalam barisan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) di era Orde Lama memilih jalan lain dan kehilangan sikap idealis yang menjadi satu-satunya karakter kuat seorang aktifis.

“Ujian pertama dari KAMI datang pada saat penawaran menjadi anggota DPR-GR. Golongan moral forces menolaknya, karena melihat racun berbungkus madu di atas kursi empuk DPR-GR.

Sebaliknya golongan politisi setuju karena suara mereka diperlukan untuk voting anti Soekarno (yang makin lemah) dan menyusun UU Pemilihan Umum,” tulis Soe Hok Gie dalam artikel “Menyambut Dua Tahun KAMI: Moga-Moga KAMI Tidak Mendjadi Neo PPMI”, Kompas, 26 Oktober 1967.

Itulah sikap serta pernyataan radikal Soe Hok Gie ketika tahu bahwa sebagian rekan seperjuangnnya dalam KAMI memilih jalan perjuangan lain: masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Sebuah jalan yang dianggap Gie sebagai sebuah jalan yang akan membuat rekan-rekannya itu ‘keblinger’ dan silau oleh kekuasaan. Gie tidak yakin jika rekan-rekannya itu mampu menjaga idelismenya ketika sudah berada di dalam sistem. Dan kegelisahan Gie terbukti.

Gie tetap pada jalannya, menjadi Mahasiswa yang berpolitik, bukan politikus yang berkartu Mahasiswa. Menyaksikan perangai cacat mantan kawan seperjuangannya, Gie tergerak memberikan apresiasi. Bersama beberapa rekannya, dia mencetuskan rencana untuk mengirimkan hadiah “Lebaran-Natal” kepada wakil-wakil mahasiswa di parlemen.

Sebuah paket diantar pada 12 Desember 1969. Isinya antara lain: pemulas bibir, bedak pupur, cermin, jarum, dan benang. Sepucuk surat dan kumpulan tanda tangan mengiringi. Sebagaimana termuat dalam harian Nusantara, 15 Desember 1969, demikian pesan dalam paket tersebut.

Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosemetik dan sebuah cermin kecil sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR.

Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda –tidurlah nyeyak!

Teman-teman mahasiswa anda di Jakarta dan ex-demonstran ’66.

Kado Istimewa Gie untuk Bung Fahri

“Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi.”– Soe Hok Gie dalam buku Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Saat ini, ada beberapa mantan aktifis 98′ yang masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, salah satunya Bung Fahri Hamzah. Dalam berbagai kesempatan, dia menyangsingkan pergerakan ribuan Mahasiswa di berbagai daerah beberapa hari ini.

Berkali-kali dalam tayangan televisi saya melihat Bung Fahri menyepelekan pergerakan Mahasiswa yang turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi. Kata-katanya selalu sama, diawali dengan menegaskan bahwa dulunya dia adalah seorang Mahasiswa sekaligus aktifis 98 yang berhasil menciptakan Reformasi. Setelah itu, dengan pongah Bung Fahri mempertanyakan arah pergerakan Mahasiswa saat ini yang dilihat sebagai sebuah ketidakjelasan dan jauh dari pergerakan 98.

Sebagai mantan Mahasiswa dan mantan aktifis, Bung Fahri semestinya tidak berpikiran seperti itu. Sebab, tuntutan rekan-rekan Mahasiswa sudah jelas. Tentu sebagai mantan Mahasiswa dan mantan aktifis, Bung Fahri paham betul bahwa Mahasiswa sebagai Alarm Demokrasi yang akan berbunyi keras ketika ada kekiliruan dalam penyelenggaran pemerintahan itu sendiri.

Namun, saya memahami bahwa ketika seorang mantan Mahasiswa dan aktifis seperti Bung Fahri kehilangan idealisme dan heroisme, maka ia akan menjadi daun kering yang terseret arus politik praktis. Dan hal itulah yang saat ini dialami Bung Fahri.

Bak katak dalam tempurung, Bung Fahri benar-benar sudah tidak berdaya. Hanya dua hal yang masih ia punya, pandai berbicara dan pandai berteori belaka. Selebihnya, karakater sebagai aktifis hilang tidak tersisa.

Jika saja Gie masih hidup, tentu ia akan mengirim kado kepada Bung Fahri serupa saat mengirim kado kepada rekan-rekannya dulu yaitu berupa gincu, rok mini, bedak, cermin, dan peralatan make-up lainnya agar lebih terlihat seksi di hadapan tuannya.

Yogya, 2019

Foto: Soe Hok Gie seorang aktifis, Foto: dok istimeWA

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Berita sebelumnyaRahayu, Pak Ketua MPR!
Berita berikutnyaMenabrak Blokade Kekuasaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.