Minggu, Februari 28, 2021

Kado Istimewa Gie untuk Bung Fahri Hamzah

Sesat Pikir LHKPN Capim KPK

Panitia seleksi calon pimpinan (capim) KPK periode 2019-2023 telah selesai melakukan seleksi tahap ketiga dengan menghasilkan sebanyak 40 orang dinyatakan lolos seleksi tes psikologi,...

Siapa Sejarawan Corong Propaganda Orde Baru?

Tiga bulan setelah peristiwa kup 30 September 1965, ketika PKI dan para pengikutnya, atau orang-orang yang sekedar dituduh menjadi pengikutnya dibantai habis oleh pihak...

Nasionalisme Sempit Kaum Reaksioner

Barangkali penting merefleksikan kembali gagasan besar Bung Karno yang termanifestasi dalam Pancasila saat suasana hari kemerdekaan ini. Mengingat, belakangan ini bermunculan nyanyian ‘sumbang’ beserta...

Papua dan Hantu Rasial

"Bhineka Tunggal Ika", saat ini sedang berkabung, melihat peristiwa represif yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, menandakan masih kentalnya kebencian berbasis rasial....
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Ketika ribuan Mahasiswa bergerak untuk melakukan pergerakan demonstrasi di berbagai wilayah, saya langsung teringat dengan sosok aktifis yang mati muda itu, namanya Soe Hok Gie.

Seorang Mahasiswa sekaligus aktifis yang tetap menjadi aktifis dan tetap menjaga nyala api idealismenya meskipun berbagai tawaran untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan menghampirinya. Namun sayang, rekan-rekan aktifis seperjuangannya dalam barisan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) di era Orde Lama memilih jalan lain dan kehilangan sikap idealis yang menjadi satu-satunya karakter kuat seorang aktifis.

“Ujian pertama dari KAMI datang pada saat penawaran menjadi anggota DPR-GR. Golongan moral forces menolaknya, karena melihat racun berbungkus madu di atas kursi empuk DPR-GR.

Sebaliknya golongan politisi setuju karena suara mereka diperlukan untuk voting anti Soekarno (yang makin lemah) dan menyusun UU Pemilihan Umum,” tulis Soe Hok Gie dalam artikel “Menyambut Dua Tahun KAMI: Moga-Moga KAMI Tidak Mendjadi Neo PPMI”, Kompas, 26 Oktober 1967.

Itulah sikap serta pernyataan radikal Soe Hok Gie ketika tahu bahwa sebagian rekan seperjuangnnya dalam KAMI memilih jalan perjuangan lain: masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Sebuah jalan yang dianggap Gie sebagai sebuah jalan yang akan membuat rekan-rekannya itu ‘keblinger’ dan silau oleh kekuasaan. Gie tidak yakin jika rekan-rekannya itu mampu menjaga idelismenya ketika sudah berada di dalam sistem. Dan kegelisahan Gie terbukti.

Gie tetap pada jalannya, menjadi Mahasiswa yang berpolitik, bukan politikus yang berkartu Mahasiswa. Menyaksikan perangai cacat mantan kawan seperjuangannya, Gie tergerak memberikan apresiasi. Bersama beberapa rekannya, dia mencetuskan rencana untuk mengirimkan hadiah “Lebaran-Natal” kepada wakil-wakil mahasiswa di parlemen.

Sebuah paket diantar pada 12 Desember 1969. Isinya antara lain: pemulas bibir, bedak pupur, cermin, jarum, dan benang. Sepucuk surat dan kumpulan tanda tangan mengiringi. Sebagaimana termuat dalam harian Nusantara, 15 Desember 1969, demikian pesan dalam paket tersebut.

Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosemetik dan sebuah cermin kecil sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR.

Bekerjalah dengan baik, hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi anda –tidurlah nyeyak!

Teman-teman mahasiswa anda di Jakarta dan ex-demonstran ’66.

Kado Istimewa Gie untuk Bung Fahri

“Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi.”– Soe Hok Gie dalam buku Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Saat ini, ada beberapa mantan aktifis 98′ yang masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, salah satunya Bung Fahri Hamzah. Dalam berbagai kesempatan, dia menyangsingkan pergerakan ribuan Mahasiswa di berbagai daerah beberapa hari ini.

Berkali-kali dalam tayangan televisi saya melihat Bung Fahri menyepelekan pergerakan Mahasiswa yang turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi. Kata-katanya selalu sama, diawali dengan menegaskan bahwa dulunya dia adalah seorang Mahasiswa sekaligus aktifis 98 yang berhasil menciptakan Reformasi. Setelah itu, dengan pongah Bung Fahri mempertanyakan arah pergerakan Mahasiswa saat ini yang dilihat sebagai sebuah ketidakjelasan dan jauh dari pergerakan 98.

Sebagai mantan Mahasiswa dan mantan aktifis, Bung Fahri semestinya tidak berpikiran seperti itu. Sebab, tuntutan rekan-rekan Mahasiswa sudah jelas. Tentu sebagai mantan Mahasiswa dan mantan aktifis, Bung Fahri paham betul bahwa Mahasiswa sebagai Alarm Demokrasi yang akan berbunyi keras ketika ada kekiliruan dalam penyelenggaran pemerintahan itu sendiri.

Namun, saya memahami bahwa ketika seorang mantan Mahasiswa dan aktifis seperti Bung Fahri kehilangan idealisme dan heroisme, maka ia akan menjadi daun kering yang terseret arus politik praktis. Dan hal itulah yang saat ini dialami Bung Fahri.

Bak katak dalam tempurung, Bung Fahri benar-benar sudah tidak berdaya. Hanya dua hal yang masih ia punya, pandai berbicara dan pandai berteori belaka. Selebihnya, karakater sebagai aktifis hilang tidak tersisa.

Jika saja Gie masih hidup, tentu ia akan mengirim kado kepada Bung Fahri serupa saat mengirim kado kepada rekan-rekannya dulu yaitu berupa gincu, rok mini, bedak, cermin, dan peralatan make-up lainnya agar lebih terlihat seksi di hadapan tuannya.

Yogya, 2019

Foto: Soe Hok Gie seorang aktifis, Foto: dok istimeWA

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Berita sebelumnyaRahayu, Pak Ketua MPR!
Berita berikutnyaMenabrak Blokade Kekuasaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.