OUR NETWORK

Jokowi Merindukan Fahri Hamzah

Ia adalah sosok yang konsisten sebagai oposisi, terlepas dari kontoversinya Fahri yang kita lihat di media selama ini

Presiden Jokowi tadi pagi (16/8/2019) telah menyampaikan pidato kenegaraannya pada sidang gabungan antara DPR dan DPD. Pidato itu adalah agenda rutin tahunan yang jamak kita saksikan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, tak terkecuali tahun ini, kala Indonesia akan merayakan hari jadinya yang ke-74.

Saya mendengarkan utuh pidato Presiden Jokowi melalui kanal youtube. Pidato itu berdurasi lebih kurang 31 menit 34 detik. Secara substansi pidato presiden tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sangat konseptual dan terdengar normatif.

Satu-satu hal teknis yang baru dalam pidato tersebut dalam pandangan saya, mungkin soal permohonan restu Presiden Jokowi pada peserta sidang tahunan MPR adalah ihwal pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Pulau Kalimantan.

Kurang lebih dari substansi pidato, saya sangat menikmati tatapan “sinis” Fahri Hamzah yang duduk tak jauh dari Presiden Jokowi berpidato. Fahri terlihat sangat ekspresif, sadar pula kamera menyorot tatapannya. Sesekali dia tersenyum sembari bertepuk tangan. Menoleh ke arah belakang berkomunikasi dengan Humas Sekretariat Jendral MPR dan pimpinan MPR perempuan di sebelah kanannya.

Bagi saya, Fahri Hamzah adalah representasi ideal dan baik anggota DPR 2014-2019 yang rutin mengkritisi pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Ia adalah sosok yang konsisten sebagai oposisi, terlepas dari kontoversinya Fahri yang kita lihat di media selama ini. Ia adalah seorang individu yang bebas. Termasuk melihat caranya berhadapan di lembaga hukum dengan internal partainya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Jauh daripada itu, jika kita masih ingat bersama, kala UU Pemilu harus berakhir lewat voting pada 2017 lalu. Saat 4 partai politik seperti: Demokrat, Gerindra, PAN dan PKS Walk Out dari ruang sidang. Fahri adalah sosok yang tetap berada di ruang sidang, menemani pimpinan DPR Setia Novanto dengan alasan waktu itu : dirinya independen dan agar supaya keputusan lebih lancar.

Kembali ke sidang tahunan MPR tadi pagi. Presiden Jokowi memakai Sasak NTB, pakaian adat dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kala Presiden Jokowi berucap soal pakaian yang ia kenakan, Fahri praktis tertawa bangga sembari bertepuk tangan dengan ucapan presiden.

Siapapun pasti demikian, merasakan apa yang dirasakan Fahri tentunya. Sebab, Fahri berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Alangkah bangganya bila seorang presiden memakai pakaian adat tempat kita berasal dalam sidang tahunan MPR.

Tentu saja, alasan Presiden Jokowi memakai pakaian adat NTB bukan soal politis dan ingin merebut hati masyarakat NTB. Sebab, Jokowi tidak akan bertarung lagi untuk Pilpres 2024 karena ditahun tersebut sesuai konstitusi Jokowi akan purna tugas. Pun pada Pilpres 2019 lalu, di NTB, Jokowi kalah telak dari Prabowo yang meraup suara hampir 73%.

Hal ini berbeda tentunya, kala Jokowi memakai pakaian adat Bali di Kongres PDI Perjuangan minggu lalu. Yang banyak ditafsirkan karena Jokowi menang 92% dari Prabowo di Provinsi Bali.

Kata kuncinya tentu Indonesia Sentris, seperti ucapan Presiden Jokowi tadi pagi. Pun harus diingatkan pula, bahwa 4 (empat) wilayah pariwisata super prioritas Jokowi seperti : Danau Toba, Mandalika, Labuhan Bajo dan Borobudur yang mana dua diantaranya berada di NTB, tempat Fahri berasal dan menjadi Daerah Pemilihannya dalam beberapa Pemilu terakhir..

Presiden Jokowi tentu sangat mengenal Fahri bukan hanya karena posisinya sebagai pimpinan DPR. Tapi juga karena kritik kerasnya selama ini pada pemerintah. Namun, sangat diperlukan demi keseimbangan demokrasi di indonesia.

Pun pada periode mendatang, nampaknya kita akan kehilangan sosok kritis seperti Fahri Hamzah, karena di Pileg 2019 lalu Fahri tidak ikut dalam kontestasi menjadi calon legislatif. Entahlah, mungkin Presiden Jokowi pun demikian, bahwa ia akan merindukan “mulut pedas” Fahri Hamzah hingga ia akhirnya memilih pakaian adat NTB.

Setidaknya Fahri lebih baik, daripada sekedar politisi yang berbondong-bondong merapat meminta kursi kekuasan ke Presiden Jokowi.

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Politik UNPAD. Dosen dan peminum kopi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…