Sabtu, Maret 6, 2021

Joker, Satire yang Memuaskan

Amnesti Baiq Nuril, Ketika Jokowi Menjadi Hakim?

Baiq Nuril, kembali menjadi pusat perhatian, setelah memutuskan menempuh langkah pengajuan Amnesti. Mahkamah Agung (MA) menolak langkah Peninjauan Kembali (PK) atas Putusan MA yang...

Sisi Lain dari Kontroversi Disertasi Milk Al-Yamin

Baru-baru ini geger tentang sebuah disertasi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang ditulis oleh Abdul Aziz, yang memaparkan konsep milk al-yamin (atau...

Perempuan dalam Pusaran Ekstremisme

Pelaku bom bunuh diri di Markas Kepolisian Resor Kota Medan, Sumatera Utara (13/11) ditengarai terpapar pandangan ekstrem dari istrinya sendiri. Fenomena ini menjadi unik...

Wacana Cadar dan Cingkrang Berpotensi Konflik

Belakangan santer pemberitaan Jenderal (Purn.) Fachrul Razi melempar wacana pelarangan bercadar dan penggunaan celana cingkrang di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Walaupun kemudian pernyataan...
Alrdi Samsa
Magister Politik Pemerintahan UGM. Seorang Penulis Lepas.

Joker telah memikat para penikmat film di Indonesia. 300 ribu lebih penonton dihari pertama telah tercurahkan perhatiannya pada film ini. Ini membuktikan bahwa tingkat antusias masyarakat Indonesia cukup tinggi.

Dibalik kontroversi kekerasan yang hadir dalam film ini, nyatanya jumlah penonton di Indonesia sendiri cukup banyak. Tentunya hal ini menjadi pertanyaan?

Apakah film Joker mengandung sebuah pernyataan yang isinya selaras dengan isi hati para penonton? Atau justru Joker laris karena alur cerita, dan syarat akan makna tentang perjalanan hidup?

Menengok kelamnya Joker

“Bagian terburuk dari punya penyakit mental adalah orang mengharapkanmu berperilaku seolah tidak sakit.

Kalimat itu kiranya dapat menggambarkan siapa sosok joker sebenarnya. Hidup di kota Gotham City diawal 1980an membuat awal cerita ini menjadi latar yang menarik.

Hal itu pula yang membuat kebahagiaan, kesenangan dan keceriaan tidak dapat ditemui di film Joker. Sendu dan pilu adalah alur utama penggambaran dari seorang Arthur Flex yang berhasil diperankan dengan sangat baik oleh Joaquin Rafael Phoenix.

Tidak ada sama sekali yang bisa menerjemahkan keinginannya. Kekhawatirannya selalu menjadi kenyataan. Sakit dan rasanya tersayat ketika semua harapannya hanya menjadi bualan orang semata.

Tidak henti-hentinya Joker menertawakan kehidupannya. “Aku berharap kematianku lebih masuk akal atua lebih menghasilkan uang daripada kehidupanku.” kata Joker dalam filmnya.

Belakangan akhirnya diketahui bahwa Joker mengidap pseudobulbar affect (PBA). Penyakit inilah yang menyebabkan Joker sering kali mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan perasaan sebenarnya. Mayo Clinic menuturkan bahwa mereka akan tertawa sampai beberapa menit, setiap kali merasa sedih atau gugup.

Cukup miris bukan? Sampai-sampai dia harus membawa kartu pengenal bahwa dirinya mengidap penyakit itu, agar orang disekelilingnya mengerti dan mengetahui.

Namun, malangnya nasib Arthur, akibat gangguan tersebut dirinya sering dipukul tidak henti-hentinya oleh ibu-ibu karena dianggap tidak sopan.

Akhirnaya, dengan tidak adanya kepedulian pada penyakitnya tersebut. Kekerasan fisik, dan Psikis terus menerjang Arthur, dapat disimpulkan inilah awal dari kisah perjalanan seorang Joker.

Joker sang Pembawa Pesan

Tidak dipungkiri, setiap film pasti ada maksud dan makna yang menyelinap dari sisi ceritanya. Sama halnya dengan film Joker, tidak bisa dipungkiri rasa lebih aware terhadap kesehatan mental.

Rentetan cerita yang selalu dibungkus oleh penyakit jiwanya dalam film tersebut, mau tidak mau membawa rasa penasaran berlebih pada penonton untuk mengenal dan mengerti terkait dengan gangguan kesehatan mental.

Cuitan di Film lain, yang diucapkan Joker adalah “orang jahat berawal dari orang baik yang disepelekan.” Seolah-olah pernyataan tersebut membawa pada pemaknaan bahwa setiap orang harus menghargai perbedaan yang diderita oleh manusia lainnya.

Ini cukup menunjukan realitas sosial di Indonesia bahkan dunia. WHO mencatat bahwa di negara berkembang isu kesehatan mental masih terpinggirkan, bahkan dianggap tidak terlalu penting.

4 dari 5 penderita kesehatan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai. Pihak keluarga pun hanya mengeluarkan 2% dari pendapatannya untuk penanganan penderita gangguan mental.

Bahkan di Indonesia, orang yang mengidap ganguan mental sering dianggap gila, gusar antara harus peduli dan harus ditakuti. Bukankah ini sebuah hal yang gila?

Satire Joker dan Fakta Politik Indonesia

Dengan latar Gotham di tahun 1980an, seluruh fasilitas publik nampaknya kurang mendapatkan perhatian. Kekejaman merajalela, kericuhan juga nampak digambarkan di dalam latar film Joker.

Film Joker menarik karena berhasil merangkum masalah menajadi satu kesatuan yang tidak terlepaskan.

Konflik sosial politik hadir, pencitraan politikus digambarkan secara gamblang termasuk didalamnya terkait dengan ketidak-pedulian pemerintah pada kaum-kaum terpinggirkan.

Terbukti, hal itu muncul dalam salah satu adegannya. Joker terlihat kebingungan, tiba-tiba pskiatri tersebut mendadak menjelaskan kondisi dinas sosial yang mengalami pendanaan yang minim, dan  harus dihapuskan.

Psikiatri tersebut juga tidak bisa lagi menemani keluhan Joker. “lalu pada siapa aku meminta obat untuk penyakitku?”

Pernyataan Joker bukan hanya terlihat bingung, ia merasakan keterasingan dalam lingkungannya, bahkan pemerintah tidak tampak pada hadir untuk merangkul para penderita gangguan jiwa tersebut.

Gagal merangkul kelompok minoritas, akhirnya yang ditunjukan oleh Joker adalah kekesalan tiada tara pada calon wali kota Gotham.

Film ini menjadi sindiran yang telak seharusnya bagi pemerintah, khususnya Indonesia. Perlu kiranya kita melihat masa depan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.

Dilansir oleh wartaekonomi.co.id gangguan mental menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia saat ini. Namun data menunjukan bahwa pada 2018 sebanyak 282.654 rumah tangga atau jika dipersenkan 0,67 persen masyarakat di Indonesia mengalami Skizofrenia yakni permasalahan gangguan mental dalam jangka panjang.

Penyakit Psikosi pun termasuk didalamnya yakni kondisi dimana penderita sulit membedakan mana realita dan imajinasi.

Tentunya melambungnya angka tersebut mengakibatkan rendahnya kualitas serta produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.

Menjadi menarik bukan ketika Gotham kehilangan dinas sosial karena dihapuskan oleh pemerintah Gotham saat itu, maka Joker muncul menjadi sosok menakutkan?

Bukan tidak mungkin, akan muncul joker-joker lain di Indonesia, jika pemerintah tidak sigap dalam penanganan terkait dengan hal ini, dan masyarakat masih memiliki persepsi kerdil dengan menyebut mereka orang gila.

Alrdi Samsa
Magister Politik Pemerintahan UGM. Seorang Penulis Lepas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.