Minggu, Oktober 25, 2020

Hutan Beton dan Awan Pekat Ibu Kota Jakarta

Menunggu Amerika Serikat yang Baru

Amerika Serikat akan melaksanakan Pemilihan Umum untuk memilih presiden pada bulan November tahun depan. Pemilu Amerika Serikat 2020 kiranya akan menjadi salah satu pemilu...

Masyarakat Adat Sebagai Penyandang Hak

Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) menggunakan istilah kesatuan masyarakat hukum adat dan masyarakat tradisional untuk menunjuk entitas masyarakat adat. UUD 1945 tak menjelaskan dua...

Diplomasi Sate Senayan dan Rekonsiliasi Nasi Goreng

Sudah banyak fenomena politik praktis terjadi, setidaknya di tingkat nasional, yang menguatkan tesis bahwa politik sejatinya merupakan seni dari segala kemungkinan yang ada (the...

Save KPK, Dukungan dan Peran Publik

Sesungguhnya upaya memadamkan semangat antikorupsi di tubuh KPK sudah menjadi persoalan yang tak berkesudahan. Pelbagai polemik selalu mengiringi KPK semenjak lembaga ini lahir di...
Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

Saat kita menyusuri jalanan Ibu Kota Jakarta, tampak jelas pandangan tertuju pada bangunan-bangunan tinggi ibarat hutan beton yang dihiasi dengan papan nama dipermukaan gedung sebagai tanda kebesarannya, namun jangan dibayangkan ini rimba hutan seperti yang masih tersisa di dataran Kalimantan.

Gedung-gedung berjejer saling bertautan memancarkan kemegahan terlihat jelas dari jalanan ibu kota, kita bisa menyaksikan hiasan gedung-gedung pencakar langit yang umum tidak saling kenal tetangganya, tentunya bukan rumah warga, tapi bangunan komersial yang siap bersaing menggaet pundi uang, sebagai perkantoran dan hotel.

Menurut catatan data yang penulis sadur, Jakarta berada di urutan ke 7 sebagai pemilik gedung tinggi terbanyak dunia. Jumlah gedung pencakar langit yang ada di Jakarta mencapai 382 gedung.

Dari data tersebut, beberapa gedung masih dalam proses pembangunan, di antaranya Icon Tower 1 dengan tinggi 350 meter, Thamrin Nine Tower 1 setinggi 334 meter, Gama Tower setinggi 286 meter dan Wisma 46 Setinggi 262 meter, perkiraan akan rampung semua pada tahun 2019 ini (The Skyscraper Center). Tugu Monumen Nasional sebagai icon gedung tertinggi, hanya akan menjadi catatan sejarah sempat menjadi tower tertinggi di Ibu Kota Jakarta.

Udara Pekat

Seiring pesatnya kemajuan industri dan pembangunan, kita akan sering menyaksikan pekatnya awan menyelimuti Ibu Kota Jakarta, hal itu bukan karena proses perubahan uap air ke air hujan, namun hitam pekat awan yang menyelimuti ibu kota akibat dari emisi cerobong asap industri dan polusi kendaraan yang tiap tahun semakin meningkat.

Tiap harinya ada ribuan paku alam menancap ke dalam perut bumi Jakarta, meningkatnya pembangunan gedung pencakar langit yang sudah tentu menghentikan setiap tetes resapan air.

Hutan beton yang dibangun oleh jutaan buruh tersebut, menghasilkan peluh yang terkucur mengalir tak terhitung derasnya serta lepuhan tangan mengepal, seperti aspal mulus didepan gedung-gedung yang terlihat mulus namun saat disentuh tetap terasa kasar.

Menurut Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan kualitas udara Jakarta belakangan ini disebabkan oleh tiga faktor yakni, polusi kendaraan, pembangunan, dan musim kemarau.

Selain itu dalam catatan Greenpeace Indonesia faktor pokok disebabkan adanya pembangkit listrik tenaga uap batu bara dalam radius 100 meter di sekitaran Jakarta, sekaligus kondisi tersebut menempatkan Jakarta sebagai kota penyumbang polusi terbesar di Asia Tenggara.

Penulis teringat beberapa tahun silam, yang mengumpamakan hanya ada satu hari udara Jakarta bisa dikatakan cerah dan bersih yaitu, pada saat hari pertama Idul Fitri, yang kala itu sempat viral dalam pemberitaan cuaca Jakarta bebas dari polusi.

Jika menelisik ke belakang di mana ibu kota Jakarta, kisaran 40 tahun yang lalu, semua orang masih dapat melihat ke kubah langit malam untuk menyaksikan taburan ribuan bintang berkedap kedip memancarkan cahaya mungil. Kunang-kunang pun laksana bintang berkerlap kerlip bercengkerama satu sama lainnya.

Hampir setiap malam tiba, teramat susah bagi penghuni Ibu Kota untuk menikmati bentangan galaksi bima sakti secara natural. Alam semesta yang tercemari oleh noda emisi karbon, nyata secara fisik sudah mulai mengganggu lingkungan, keselamatan, konsumsi, energi, hingga taraf untuk mengubah pola hidup sehat.

Kemacetan dan Meluapnya Kendaraan di Jakarta

Meningkatnya volume kendaraan, sejalan dengan kemacetan yang tidak bisa kita hindari, sering pula kita temukan jalan-jalan di Kota Jakarta menyatu dengan bibir pagar gedung dan halaman rumah penduduk (apalagi dalam perkampungan sudah tentu sempit dan sesak), bukan cuma satu alasan pemerintah tidak mampu melebarkan jalan.

Namun banyak yang harus dikorbankan serta biaya begitu mahal jika harus melakukan penggusuran pemukiman warga. Selain itu akan terdengar tak populis jika penggusuran menjadi pilihan pemerintah, sekalipun sering juga menjumpai penggusuran secara langsung terjadi di sekitaran Ibu Kota Jakarta.

Kendaraan yang terus meningkat tak sebanding lurus dengan pelebaran jalan yang diberikan pemerintah, sekalipun jalanan tol yang berleok leok seperti ular tanggga terus dibangun, seakan kemegahannya seperti jembatan tol yang ada di Kelok Sembilan, Payukumbuh, Sumatera Barat.

Pesatnya pembangunan infrastruktur menjadi agenda rutin pemerintah menggalang kerjasama investasi, seakan sudah dipastikan hanya melalui investor kelas kakap, pembangun mega proyek infrastruktur tol bisa dilaksanakan.

Sekalipun pembangunan fasilitas umum menjadi alasan tunggal yang terus digenjot, namun belum juga menuai hasil mengatasi kemacetan. Kebijakan wacana untuk memperluas jangkauan ganjil-genap pembatasan kendaraan mobil pribadi baru baru ini mulai digengungkan kembali oleh pemerintah DKI Jakarta, untuk mengurai kemacetan jalanan tersebut.

Berdasarkan data dari BPS DKI Jakarta, tahun 2019 jumlah kendaraan bermotor rata-rata tumbuh lima persen dalam lima tahun, kurang lebih ada 18 Juta kendaraan bermotor masuk Jakarta setiap hari nya.

Sedangkan panjang jalan yang ada hanya bertambah kurang dari 0,1 persen. Komposisi lalu lintas secara umum adalah sepeda motor 73,92 persen, angkutan umum 19,58 persen (terus berkurang tiap tahunyan, terkecuali angkutan online), mobil beban 3,83 persen, mobil bus 1,88 persen serta kendaraan khusus 0,79 persen.

Artinya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta jauh lebih banyak dari ruas dan panjang jalan yang tersedia. Sehingga jalanan Jakarta overload, akibatnya kemacetan parah terjadi di hampir seluruh ruas jalan.

Isu Kepindahan 

Gemuruh mesin kendaraan dan peralatan berat tiap harinya akan mudah ditemukan ditangan buruh yang sibuk menancapkan paku alam, di atas petak tanah yang sudah tak begitu luas lagi di dataran Jakarta, memang ketersedian lahan semakin hari semakin tak terlihat tanahnya, karena sudah tersirami oleh tumpahan hotmic dan aspal. Mungkin jalan satu satunya adalah reklamasi bibir pantai yang ada di Jakarta.

Gedung tinggi yang tertata terlihat ramping keatas berjajaran tersebut, menurut logika bukan karena tak mampu membangun melebar kesamping, namun seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, ketersedian lahan yang sudah tidak nampak lagi tanahnya. Kita bisa taksirkan, dimana gedung itu semakin keatas semakin tercermin bahwa bangunan tersebut bernilai tinggi yang tak mampu saya hitung satu persatu nilai aset nya.

Beriringan dengan gedung-gedung megah yang terus akan tumbuh, nuansa hangat hadir dari para elit politik ibu kota yang sibuk sedang tarik menarik menyusun Kabinet Kerja Jilid II. Sehingga alangkah baiknya jika isu akan kepindahan ibu kota ke pulau Kalimantan segera direalisasikan.

Alasannya sederhana, lingkungan sehat, kondusif dan cagar alam masih tumbuh subur, sebagai penghambat emisi karbon, tidak untuk di Jakarta. Karena sudah penuh sesak penduduknya, sesak pula polusi udara dan kemacetan nya.

Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.