OUR NETWORK

Harari Tentang Manusia: Dari Perekayasa, Hingga Sekadar Data

Kemanusiaan kita memang sangat arogan. Tetapi, apa kita mau diambilalih algoritma?

Semakin kita terkoneksi dengan internet, semakin baik algoritma menyimpan data kita dan semakin presisi rumus tersebut mendefinisikan siapa kita. Bagi kita, berselancar di dunia maya atau menggunakan teknologi yang terhubung dengan internet adalah sebuah pengalaman.

Bagi algoritma dalam machine learning, pengalaman kita itu akan terakumulasi dan berubah menjadi data. Aktifitas apapun yang kita lakukan di medsos dan pencarian di google adalah pengalaman. Pengalaman itu secara akumulatif terekam oleh rumus dan menentukan, apakah kita seorang liberal atau konservatif.

Saat hubungan antara tubuh, pikiran, dan teknologi semakin dekat, algoritma dapat mempelajari emosi terdalam kita lebih baik. Dari mana data tersebut diperoleh? Dari setiap aktifitas media sosial, kecenderungan pencarian google, teknologi penangkap ekspresi wajah, hingga alat yang mampu membaca tembakan neuron dalam otak.

Proyek teknologi abad 21 yang menghubungkan ketiga-tiganya sedang terjadi. Konsekuensinya, kita akan menyerahkan sepenuhnya pada AI untuk membaca siapa diri kita. Demikian Yuval Noah Harari dalam “Homo Deus – a Brief History of Tomorrow”.

Konsekuensinya, humanisme liberal yang mengagungkan kekuatan manusia sebagai makhluk individual digugat. Ideologi ini percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan bertindak menurut kehendak tersebut.

Harari berpendapat kita bukan kesatuan unit yang memiliki suara hati otentik sebagai sumber makna untuk bertindak. Perilaku kita berproses secara deterministik atau acak menurut algoritma hukum biokimia dan fisika. Kita bukanlah makhluk individual tetapi makhluk dividual yang terdiri dari sekian banyak komponen seperti gen, hormon, dan neuron.

Harari mendeskripsikan hal ini melalui ilustrasi seorang pria yang menarik pisau dan menusuk orang lain sampai mati. Ketika ditanya apa alasannya, Harari menulis dalam Homo Deus bahwa jawaban “karena dia memilih untuk melakukannya” tidaklah memadai. Yang pasti, ahli genetika dan ilmuwan otak dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci: “dia melakukan itu karena ada proses elektrokimiawi dalam otak, yang dibentuk oleh susunan genetik tertentu, yang merefleksikan tekanan-tekanan evolusi kuno bercampur dengan mutasi-mutasi kebetulan (2017:324).”

Kita berargumentasi bahwa kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan kehendak bebas. Harari berpendapat, kita hanya merasakan keinginan untuk bertindak, tetapi kita tidak memilih keinginan tersebut.

Ilmuwan yang mengobservasi aktivitas neuron dalam otak seorang pasien, demikian Harari, mampu memprediksi apa yang akan dilakukan oleh pasien tersebut dalam sekian detik setelahnya, bahkan sebelum pasien tersebut menyadari niatnya. Bila benar kita tidak memiliki kehendak bebas, apa jadinya ketika kita berhadapan dengan berjibunnya informasi?

Bagi orang beragama monoteistik, suara hati nurani adalah suara Tuhan dan bagi kalangan humanis, suara tersebut adalah suara kita sendiri. Namun bagi ilmuwan, suara tersebut adalah perasaan jutaan leluhur, algoritma rumit yang terbangun dalam evolusi jutaan tahun dalam seleksi alam yang keras.

Sehingga, ketika teknologi internet abad 21 mampu membaca dan mengolah tembakan neuron dalam otak sebagai respons atas peristiwa eksternal tertentu, akumulasi data memungkinkan mesin menerjemahkan siapa kita dan apa yang paling kita inginkan.

Dalam posisi seperti ini, muncul pertanyaan reflektif. Bila pikiran manusia sudah bisa diretas oleh mesin, apa yang harus dilakukan? Harari menggambarkan skenario yang paling pelik. Ketika mesin dan internet mengambil alih kehidupan, posisi manusia turun dari perekayasa teknologi, menjadi sebuah komponen, hingga kemudian terjerumus menjadi sekedar data.

Dalam kontestasi politik di dunia, fakta manusia sebagai “sekedar” data sudah mulai terasa. Penetrasi propaganda dalam pemilu di AS dan Indonesia adalah contoh bagaimana kehendak bebas adalah konsep yang mulai usang.

Dalam perspektif liberalisme, suara hati manusia adalah sumber kekuasaan. Dalam politik, adagium “dengarkan suara hatimu” menuntun orang untuk memilih politisi tertentu. Tetapi apakah pernyataan ini tetap relevan dalam situasi kita ke depan?

Kasus Cambridge analytica menunjukkan bagaimana permainan data mampu memoles ketokohan Donald Trump dan bagaimana narasinya terus menerus merasuki alam mental pemilih. Dalam survey politik pada pemilu di Indonesia sangat dirasakan bagaimana suara rakyat bagi elit hanyalah direduksi sebagai angka.

Bila dulu, penguasaan akan data menjadi keunggulan yang dikejar, sekarang kemampuan tersebut sudah sangat mustahil. Ketika google menjadi referensi pencarian utama, kita disuguhkan begitu banyak informasi dan pengetahuan. Keterbukaan tersebut membuat kita bingung harus mengacu pada kebenaran yang mana.

Karena semuanya menawarkan proposisi “kebenaran”, “kebenaran” menjadi tidak penting. Orang hanya membaca apa yang ia ingin ia baca dan mendengarkan apa yang ingin ia dengar. Bahasa menjadi politis serta dipenuhi curiga, karena asumsi mendahului fakta.

Informasi harus dikemas secara memikat agar memiliki kekuatan viral dan mampu mempengaruhi publik. Ketika tubuh telah terhubung dengan teknologi atau komputer terkoneksi dengan otak, nyaris tidak ada yang bisa disembunyikan.

Endapan emosi kita bisa diekstrak oleh algoritma menjadi folder data-data yang beragam; apakah kita penentang FPI dan pemuja tentara NAZI sekaligus? Bisa jadi, dalam diri kita, ada sisi tertentu yang menggambarkan kita sebagai seorang konservatif, ada pula sisi lain yang menampakkan kita sebagai seorang yang liberal.

Maka, apa yang terjadi jika data dipegang sepenuhnya oleh sekelompok penguasa tertentu? Bukan cuma membaca perasaan, algoritma bahkan dapat membentuknya, agar sesuai dengan preferensi politik, ekonomi, atau ideologisnya.

Namun ketika algoritma non kesadaran semakin berkembang, apakah ia akan selamanya tetap mampu dikontrol? Ketika semuanya telah terisap oleh teknologi data berskala besar, manusia akan berhenti memercayai penalarannya sendiri. Kita kehilangan akses pada persoalan benar dan salah. Hoaks, contohnya, adalah praktik propaganda yang melampaui keduanya.

Hoaks terjadi justru karena kita sudah kehilangan kompetensi untuk “menunda”. Fear of missing out membangun keharusan agar kita selalu up to date. Perasaan takut akan “ketertinggalan” ini membuat benar dan salah tidak relevan, karena yang terpenting adalah sisi ‘sentimentil’ dari sebuah ‘teks’. Bahayanya, ketika benar dan salah semakin diabaikan, kita tidak membiasakan penalaran untuk memvalidasi informasi apapun. Tak mampu menyeleksi informasi, nalar kita akan menuntut mesin dengan memori berkekuatan super.

Ini bencana besar humanisme yang mengagungkan superioritas penalaran manusia. Setelah diretas oleh algoritma, kita pun hanyalah seonggok otak yang tak berdaya dalam lautan data. Tetapi di akhir buku Homo Deus, Harari berkata bahwa cerita panjangnya itu bukanlah risalah tentang masa depan.

Ia hanya memberikan skenario apa yang mungkin terjadi ke depan dan merangsang kita semua untuk mengantisipasinya. Kemanusiaan kita memang sangat arogan. Tetapi, apa kita mau diambilalih algoritma? Algoritma akan tahu lebih banyak dan baik, itu yang pasti!

Lulusan Bahasa Jerman yang kemudian menekuni Linguistik Budaya. Minat studi pada CDA dan Semiotika. Pecinta Trans Jakarta yang tinggal di selatan ibu kota.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…