Minggu, Februari 28, 2021

Gerindra dan PKS Maunya Apa?

Pep Guardiola dan Insting Belanja Pemain

Sejak berlabuh ke Manchester City, Pep Guardiola getol belanja pemain. Para pemain yang menjadi target buruannya berhasil didatangkan karena mendapat sokongan penuh dari manajemen...

Kematian Demokrasi di Hong Kong?

Gejolak demonstrasi di Hong Kong tahun ini dimulai ketika seorang pemuda Hong Kong yang melakukan pembunuhan di Taiwan tidak dapat diekstradisi untuk dihukum di...

Belajar dari @Katolik Garis Lucu

Saya sangat gembira. Kegembiraan itu tak bisa saya tutup-tutupi. Betapa tidak, saya melihat betapa kita sebenarnya potensial untuk beragama secara spritual, bukan  semata ritual. Itu...

Buzzer, Fake News, dan Frame

Buzzer, fake news, dan frame adalah beberapa kosakata yang marak kita temukan akhir-akhir ini. Ketiganya adalah satu kesatuan yang hadir dalam politik pasca-kebenaran. Buzzer politik...
Muhammad Rafiq
Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat politik hukum

Penegasan sikap partai untuk menjadi oposisi mulai diperbincangkan setelah penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum pada 29 Juni lalu. Para elite politik partai angkat suara untuk rekonsiliasi paska tiga kali berturut-turut tumbang. Khususnya Gerindra dan PKS sebagai partai paling konsisten dalam hal ini.

Aroma rekonsiliasi mulai membungkus wacana politik nasional. Perceraian antara Prabowo Subianto dengan Persatuan Alumni 212 seakan memberikan sinyal bahkan oposisi seperti tidak konsisten dan terkesan lemah. Entah karena lelah tampil di luar pemerintahan ataukah para elite politik mulai miskin jabatan. Entahlah.

Jika merujuk pada pengertian sebenarnya, oposisi diartikan sebagai pihak yang tidak berada di lingkaran kekuasaan. Pemerintahan parlementer menjadi wadah paling efektif memainkan kritik terhadap eksekutif. Jika dibawa dalam konteks demokrasi, peran aktif oposisi menjamin keseimbangan politik nasional.

Menurut Firman Noor dalam artikelnya di jurnal LIPI berjudul ‘Oposisi Dalam Kehidupan Demokrasi’, mengemukakan oposisi merupakan bagian penting dari demokrasi yang  berfungsi melakukan kritik dan kontrol atas sikap, pandangan, atau kebijakan pemerintah berdasarkan pada perspektif ideologis.

Dikuatkan lagi menurut ilmuwan politik, Ian Shapiro dalam bukunya yang berjudul the Moral Foundation of Politics (2003) mengemukakan Demokrasi tidak akan maju dan berkembang tanpa kehadiran oposisi. Demokrasi hanya akan dapat berkembang dengan dinamisnya kontestasi gagasan antara pemerintah dan oposisi.

Setelah Joko Widodo-Ma’ruf Amin ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih, banyak yang beraharap Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno tetap berdiri pada posisinya sebagai oposisi. Walaupun beberapa partai koalisi memilih bergabung dengan partai pemenang, masih ada harapan pemerintahan lima tahun akan datang tetap berjalan pada koridor yang sebenarnya.

Namun pada faktanya, keseimbangan itu sedikit menjauh dari harapan. Penegasan oposisi Partai Gerindra seakan luntur dengan lobi-lobi kursi menteri. Sementara PKS tetap teguh pada pendirian dan memiliki pandangan berbeda dari partai Koalisi Probowo-Sandi.

Prabowo Subianto menyatakan dengan tegas kepada para pendukungnya bahwa akan terus memperjuangkan cita-cita yang selama ini diperjuangkan. Bisa melalui forum legislatif maupun forum lainnya. Sementara PKS ingin mempertahankan Koalisi Adil Makmur pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan menjadi oposisi terhadap pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Keseimbangan politik semakin menjauh saat Amien Rais angkat bicara soal bagi – bagi kursi dengan formula 55 persen berbanding 45 persen sesuai perolehan suara masing-masing kubu di Pilpres 2019 sebagai sarat rekonsiliasi. Awalnya Amien Rais paling getol mengkritisi lewat untaian kalimat pedas nan keras. Entah kenapa Amien Rais bisa seperti itu.

Sulit rasanya mengukur konsistensi oposisi di Indonesia. Di saat aura kritik menggema di seluruh pelosok nusantara, agenda perlawanan tersusun secara sistematis, ratusan komunitas senasib bergabung dalam satu frame gerakan PrabowoPresiden2019, seketika berantakan hanya persoalan piring makan. Apa yang salah dari Pilpres 2019?

Di sisi lain, ada baiknya bergabung di pemerintahan meski bukan bagian dari Koalisi partai pemenang dengan dalil sistem pemerintahan presidensial yang mana dalam pembentukan pemerintahan hak prerogatif presiden. Ini sudah jadi hukum mutlak Presiden dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun.

Tapi apakah benar pemerintahan bisa terbentuk secara teoritis? Mengingat politik sangat dinamis dan fleksibel. Bisa dibilang pesimis jika Presiden Jokowi mengambil kader dari partai oposisi mengisi kursi kabinet ditengah jutaan pendukung yang telah bersusah payah memenangkan Presiden Joko Widodo.

Fakta sebenarnya, konsep teknis bagi-bagi kursi memprioritaskan kepada para pendukungnya. Sungguh tidak mungkin posisi strategis diberikan kepada partai oposisi. Kalaupun hak prerogatif mengedepankan asas kebersamaan dengan bersandar pada kompetensi sumber daya manusia, bisa dipastikan akan berbenturan dengan sumber daya manusia dari partai pendukung.

Memang konsep teknis bagi-bagi kursi tidak sebatas pada pengisian kabinet, tapi seluruh segmen paling terkecil juga bisa diisi oleh partai oposisi, seperti posisi direktur jenderal, lembaga-lembaga independen, dan komisaris badan usaha milik negara.

Namun, apakah partai oposisi sekelas Partai Gerindra dan PKS mau ditempatkan pada posisi itu? Hemat saya, sulit dan tidak mungkin terjadi. Kalaupun ada, mereka adalah kader “ecek-ecek” dan tidak masuk dalam hitungan elit politik.

Tapi lagi Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Hidayat Nur Wahid memperjalas bahwa rekonsiliasi bukanlah bagi-bagi jabatan. Jika bukan bagi-bagi jabatan, apa manfaat rekonsiliasi itu? Rekonsiliasi tanpa kursi sama artinya sayur tanpa garam.

Muhammad Rafiq
Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat politik hukum
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.