Kamis, Maret 4, 2021

Film “Joker” dan Mimpi Kaum Anarkis

Gaji 8 Juta, Lulusan UI, dan Guru Honorer

Lulusan UI gaji 8 Juta? Kok sedikit sekali? Wah, tidak menghargai kerja keras untuk bisa masuk di UI dan lulus dari UI kalau seperti...

Politisi Muda di Senayan, Tumpuan Harapan atau Numpang Eksis?

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca tulisan di sebuah media besar tentang kaum muda di Senayan. Dalam tulisan itu diceritakan bahwa ada sekitar 72...

Kaum Terdidik, Gagal Niat

Dunia pendidikan memang selalu menarik untuk dikaji dan ditelisik, terlebih pendidikan di Indonesia. Beberapa pergantian penguasa –yang berarti berganti menteri– tak jarang berganti pula...

Semangat Baru Faldo Maldini dan PSI

Perolehan suara Partai Solidaritas Indonesia pada Pemilu 2019 di Sumatera Barat hanyalah 38.373 dari total 2.929.309 suara atau sekitar 1,3% saja. Sekiranya tidaklah memerlukan...
Harsa Permata
Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Sudah banyak sebenarnya ulasan tentang film “Joker” tahun 2019, yang cukup fenomenal ini. Tulisan ini ingin mencoba memahami film tersebut dari sudut pandang yang berbeda.

Joker adalah salah satu karakter villain (penjahat) DC, yang biasanya merupakan musuh bebuyutan vigilante, yang juga seorang borjuis (pemilik modal/pengusaha) kaya-raya, yaitu Bruce Wayne a.k.a Batman.

Dalam film “Joker” yang disutradarai oleh Tod Phillips dan dirilis Warner Bros tahun 2019 ini, kita tak akan menemukan sosok Batman sebagai seorang pahlawan yang biasanya dilengkapi oleh berbagai kendaraan dan senjata mahal dan supercanggih. Sosok Bruce Wayne, sebagai seorang anak borjuis kaya, Thomas Wayne memang ada, hanya saja di film ini si Bruce masih kanak-kanak, masih belum punya alasan untuk menjadi seorang vigilante.

Baru pada akhir film, dikisahkan bahwa kedua orang tuanya mati ditembak salah seorang perusuh bertopeng badut. Hal yang biasanya dalam komik dan film Batman, digambarkan sebagai penyebab Bruce Wayne memilih jalan sebagai seorang vigilante.

Karakter Joker, yang diperankan oleh Joaquin Phoenix ini, memang terlihat berbeda dari penggambaran berbagai karakter Joker dalam film dan komik DC sebelumnya. Ia digambarkan sebagai seorang yang mengalami kelainan mental, yaitu tidak bisa mengontrol ketawanya sendiri, akibatnya ia akan tertawa pada waktu-waktu yang seharusnya manusia pada umumnya tidak melakukannya.

Joker, yang bernama asli Arthur Fleck ini, sehari-harinya berprofesi sebagai seorang badut jalanan. Ia kerapkali dirisak oleh anak-anak berandalan, hal yang mengakibatkan penderitaan fisik dan psikis baginya. Ia juga dianggap sebagai komedian gagal, oleh Murray Franklin, seorang host dalam acara televisi Murray Show, karena tak bisa mengontrol tawanya, dan kesulitan ketika menyampaikan lelucon dalam stand-up comedy.

Pada dasarnya, Joker adalah korban dalam sistem penindasan manusia atas manusia, atau kapitalisme. Kebiasaan merisak manusia lain yang lebih lemah, merupakan bagian dari sistem kapitalisme yang eksploitatif dan penuh persaingan. Manusia selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam sistem kapitalisme, karena biasanya para pemenang persaingan akan mendapatkan banyak uang dan kekuasaan.

Arthur Fleck alias Joker memilih berontak terhadap sistem kapitalisme, dengan cara menghabisi nyawa orang-orang merisaknya. Pemberontakannya dimulai dengan menembak mati tiga pengusaha Wayne Enterprises, yang sedang mabuk dan mencoba merisak Joker secara fisik dalam gerbong kereta api bawah tanah.

Korban Joker berikutnya adalah koleganya sesama badut jalanan, Randall, orang yang memberikan pistol padanya, nyawanya dihabisi oleh Joker dengan cara menghunjamkan gunting ke kepala dan lehernya. Orang terakhir yang dibunuh Joker, adalah Murray Franklin, yang menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan dalam Murray Show, setelah ia mengakui bahwa pelaku pembunuhan terhadap tiga pengusaha mabuk dalam kereta bawah tanah, adalah dirinya.

Kerusuhan yang melumpuhkan kota Gotham tengah berlangsung saat itu. Hal yang dipicu oleh ucapan Thomas Wayne, yang mengutuk dan menganggap pelaku pembunuhan dalam kereta bawah tanah sebagai orang yang iri pada golongan orang yang sukses, atau golongan borjuis/pengusaha. Ia juga melabeli golongan orang yang iri ini, sebagai badut.

Pemberontakan individual Joker, yang diikuti oleh pemberontakan rakyat secara massif dalam wujud kerusuhan, sebagaimana digambarkan dalam film ini, pada dasarnya adalah sebuah mimpi dari kaum anarkis, untuk menghancurkan sistem penindasan manusia atas manusia.

Bagi kaum anarkis, khususnya Mikhail Bakunin, revolusi untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas, adalah dengan menghancurkan seluruh institusi penopang otoritas negara modern (Lihat tulisan Eddward S Kennedy, dalam situs tirto.id, yang berjudul “Para Pemikir Anarkisme, Siapa Saja Mereka?”, 5 Mei 2019).

Persoalannya kemudian, bagaimana bisa menghancurkan begitu saja sebuah negara kapitalis modern, yang sistemnya sudah sangat kuat, solid, dan terstruktur rapi? Epilog film “Joker”, sebenarnya kurang lebih menggambarkan realitas bahwa pemberontakan rakyat tanpa orientasi perebutan kekuasaan negara, hanyalah sebuah riak kecil belaka, yang bisa dengan mudah dipadamkan.  Joker di akhir film, digambarkan berada di Rumah Sakit Jiwa cum Penjara, “Arkham Asylum”.  Sementara, negara dan sistem kapitalisme, tetap tegak dan digdaya.

Hal ini pulalah, yang seharusnya dijadikan pelajaran oleh para demonstran, yang dalam beberapa minggu terakhir ini berdemonstrasi menolak berbagai kebijakan negara Indonesia, yang dibuat melalui persetujuan antara lembaga legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) dan eksekutif (Presiden dan Para Menteri), seperti Revisi UU KPK, RUU KUHP, dan lain-lain.

Yaitu bahwa, negara kapitalisme, yang dikuasai oleh para elit borjuis, akan selalu membuat kebijakan, yang menguntungkan golongan mereka saja. Bahkan konsesi yang seharusnya bisa menenangkan protes rakyat, seperti Perppu KPK untuk membatalkan UU KPK revisi pun tak dikeluarkan oleh Presiden. Terakhir bahkan, demonstrasi pun dilarang dan dibatasi pada saat pelantikan presiden dan wakil presiden.

Karena itulah, para demonstran yang benar-benar ingin mengubah keadaan, seharusnya sadar bahwa demonstrasi saja tak akan membuat negara borjuis prokapitalis berubah menjadi negara prorakyat. Kekuasaan negara harus direbut, jika ingin mengubahnya.

Kongkritnya, kita bisa mencontoh pada gerakan mahasiswa 1998, yang berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Hanya saja karena saat itu mereka hanya berorientasi menjatuhkan Presiden Soeharto, maka setelah Soeharto mundur, gedung DPR/MPR mereka tinggalkan begitu saja, untuk tetap dikuasai oleh elit-elit politik borjuis. Akibatnya, sistem ekonomi politik Orde Baru yang kapitalis tetap langgeng dan bahkan semakin kuat di era pemerintahan yang sekarang ini.

Pertanyaan terakhir, apakah para demonstran yang berdemonstrasi akhir-akhir ini ingin mengubah negara Indonesia menjadi lebih prorakyat atau tidak? Kalau iya, maka organisasikanlah diri kalian, karena perlawanan yang tak terorganisir, tak akan mengubah apa-apa.

Jika organisasi perlawanan sudah solid, maka rebutlah kekuasaan negara, jangan lagi percayakan negara pada para elit yang tak membela kepentingan rakyat.  Pembentukan unit pertahanan diri, guna melindungi para demonstran dalam berdemonstrasi juga patut dipertimbangkan. Belajar dari gerakan mahasiswa Korea Selatan dan Hongkong, yang berhasil mempertahankan diri dari represifitas negara borjuis.

Akhir kata, sebuah gerakan moral, selayaknya koboi yang menembaki para bandit di film-film Hollywood, tak akan mengubah keadaan secara permanen. Bandit-bandit akan selalu muncul kembali, jika sistem yang memungkinkan kemunculan mereka, tidak diubah. Untuk itulah, sebuah perubahan harus melalui sebuah gerakan politik kongkrit, yang tidak hanya memerangi para bandit, akan tetapi mengubah kota dan negara menjadi tempat yang tak mungkin lagi menjadi tempat hidup para bandit.

Harsa Permata
Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.