Minggu, Januari 17, 2021

Fanatisme, Rasisme, dan Sepak Bola

Muhammadiyah untuk Papua

Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia sekaligus organisasi Islam tertua yang masih eksis hingga saat ini. Selain dikenal sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah juga...

Papua dan Air Mata

Sangat disayangkan bulan Agustus yang dikenal sebagai bulan kemerdekaan dinodai dengan rendahnya etika moral kemanusiaan. Air Mata mana yang tidak membasahi pipi seseorang tatkala...

Maaf Bong, Pret, Kami Tak Sudi Terperangkap Cintamu!

Pasca Pemilu 17 April lalu seluruh tokoh bangsa meminta Prabowo dan Jokowi untuk segera rekonsiliasi. Mengingat perseteruan politik cukup menyita perhatian seluruh komponen anak bangsa....

Semangat Baru Faldo Maldini dan PSI

Perolehan suara Partai Solidaritas Indonesia pada Pemilu 2019 di Sumatera Barat hanyalah 38.373 dari total 2.929.309 suara atau sekitar 1,3% saja. Sekiranya tidaklah memerlukan...
Ahmad Shobrianto
penyandang status mahasiswa Unesa

Tidak hanya dialami dalam kehidupan bermasyarakat, ujaran rasisme kerap kali terdengar di dalam dunia olahraga sepakbola. Dalam perkembangannya isu rasisme sudah menyebar ke semua sendi kehidupan manusia itu sendiri, bahkan termasuk dunia sepak bola yang mana merupakan olahraga dengan intensitasnya melibatkan dua tim yang bertanding hingga supporter didalamnya.

Siapapun bisa menjadi pelaku rasis dari mulai pemain hingga supporter itu sendiri. Hal tersebut memang tidak bisa dipungkiri, karena masih banyak orang yang menganggap rasisme bukan masalah besar.

Belum lama ini striker asal Italia, Mario Balotelli menjadi korban rasisme oleh suporter saat Brescia bermain di markas Hellas Verona pada laga lanjutan Liga Italia Serie A di Stadion Marc Antonio, Bentegodi, Vergona, Minggu (3/11).

Atas perlakuan rasis itu membuat Balotelli meluapkan kekesalannya dengan mengamuk dan menendang bola ke arah suporter. Perlakuan rasisme yang diterimanya, Balotelli mengungkapkan rasa terima kasih dengan dukungan yang ia terima melalui akun media sosial Instagram.

“Terima kasih kepada setiap rekan-rekan, di lapangan dan di luar lapangan untuk solidaritas terhadap saya dan untuk semua pesan yang diterima dari penggemar,” ujar Balotelli.

Dalam konteks sepakbola, rasisme sangat ditentang. Beberapa upaya telah dilakukan salah satunya federasi tertinggi sepak bola (FIFA), sudah sejak lama  melakukan  kampanye anti-rasisme sebagai wujud perlawanan atas rasisme. Kaum minoritas yang seingkali dijadikan sasaran ujaran rasisme.

Pada kenyataanya, rasisme masih seringkali terjadi ditengah rumput hijau lapangan sepakbola hingga saat ini. Minimnya penegakan hukum terhadap pelaku acapkali kurang tegas untuk memberhentikan rasisme.

Sudah selayaknya, sepakbola sebagai olahraga yang mengusung sikap sportivitas dan menjunjung tinggi kesetaraan baik dalam ras, agama, suku, maupun gender. Jangan sampai upaya kampanye anti-rasisme hanya menjadi omong kosong belaka, jika masih terus muncul ujaran rasisme oleh pihak tertentu didalam dunia sepakbola.

Ikatan antara supporter dengan sepakbola

Sepakbola adalah salah satu olahraga yang diminati dan digemari dikalangan banyak masyarakat dunia. sepakbola mampu menarik dan memobilisasi banyak orang sehingga berpengaruh dalam kehidupan masyarakat pula. Salah satunya muncul pemain ke-12 yaitu keberadaan suporter atau pendukung tim sepakbola yang akhirnya memunculkan identitas baru didalam masyarakat.

Suporter berbeda dengan penonton. Perbedaannya terletak pada aktivitas didalam stadion. Penonton cenderung pasif dan hanya menikmati saja jalannya sebuah pertandingan sepakbola, sedangkan suporter lebih aktif dalam aktivitasnya di stadion, seperti menyayikan yel-yel bersama, membuat sebuah koreografi bentuk dukungan dan lain sebagainya.

Dapat dikatakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh suporter tim sepakbola dalam mendukung tim kesayangannya bertanding merupakan bentuk fanatisme terhadap sepakbola. Wujud dari fanatisme mereka adalah sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan afeksi dan emosi akan tim kesayangan mereka.

Terkadang, fanatisme dalam suatu kelompok tertentu seperti supoter sepakbola memiliki sifat yang berlebihan terhadap kelompoknya sendiri yang memunculkan arogansi atau memamandang rendah terhadap kelompok yang lain. Namun ada sisi positifnya dalam fanatisme kelompok suporter sepakbola adalah anggoota atau individu dalam kelompoknya menemukan pemikiran yang sama sehingga timbul kecocokan satu sama lain.

Dan apabila dua suporter fanatik atau arogan bertemu di stadion suatu pertandingan sepakbola. Seringkali terjadi perselisihan antar suporter sepakbola sehingga muncul sifat arogansi saling olok bahkan ujuran rasis terhadap pemain sepakbola lawan mereka. Hal inilah yang sulit sekali untuk dihindarkan akibat suatu fanatisme buta suatu suporter sepakbola.

Fanatis yang berujung Rasis dalam Sepakbola

Rasisme bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Bahkan dalam bentuk candaan pun rasisme dapat muncul. Dalam sepakbola kejadian rasisme seringkali lah muncul, baik itu dalam suatu pertandingan langsung atau bahkan di media sosial yang pernah dikatakan oleh pelatih timnas perempuan Inggris, Phil Neville.

“Mari kita lihat efek seperti apa yang akan terjadi pada perusahaan sosial media ini, apakah mereka akan benar-benar melakukan sesuatu tentang rasisme. Rasisme memang masalah pada masyarakat, tetapi karena sepakbola memiliki pengaruh kuat, kita harus benar-benar melakukan sesuatu,” kata Neville.

Rasisme merupakan suatu masalah kompleks krusial bila tidak ditanggulangi, karena ada saja pihak yang dirugikan dengan adanya rasisme. Kasus rasisme dalam sepakbola bisa berbentuk apa saja seperti dalam hal penampilan, warna kulit, suku, bahkan agama sekalipun.

Tetapi yang seringkali menjadi sasaran rasisme adalah pemain sepakbola seperti Kalidou Koulibaly, Mesut Ozil, Hakan Calhanoglu, Daniel Alves, Gervinho, Patrice Evra, Mario Balotelli, Paul Pogba, dan masih banyak pemain lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Motif suporter melakukan tindakan rasisme terhadap para pemain adalah untuk melemahkan mental pemain lawan saat laga berlangsung. Apakah tidak ada cara lain yang dapat dilakukan untuk melemahkan mental pemain selain dengan ujaran rasisme.

Hemat saya, tindakan seperti itu merupakan sikap yang tidak manusiawi. Dalam sepakbola kita menjunjung tinggi sportivitas dan fairplay saat pertandingan berlangsung, dan mengecam tindakan rasisme dalam bentuk apapun.

Rasisme dalam sepakbola juga merupakan fanatisme buta suporter yang hanya mementingkan golongannya sendiri dan menganggap rendah suporter lain. Sepakbola seharusnya memupus semua kesombongan sekat budaya, politik, sosial, dan agama. Dunialah yang seharusnya menjadi stadion besar, bukan justru stadion-stadion sebagai ajang aktualisasi sosial-politik yang saling menikam.

Ahmad Shobrianto
penyandang status mahasiswa Unesa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.