OUR NETWORK

Dilema Kabut Asap Riau

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah lahan gambut ini memang terbakar atau dibakar?
Ilustrasi Kumparan

Musim kemarau kembali datang dan musibah yang tidak menjadi hal baru di Riau (khususnya) kembali terulang. Permasalahan ini sudah terjadi sejak tahun 1997 dan hingga kini masih belum ada titik terang untuk benar-benar mengakhiri “Musim Asap” yang biasa disebut oleh masyarakat Riau ini.

Riau memang menjadi incaran empuk bagi si jago merah, kenapa? Karena lahan gambut di Riau adalah yang terbesar di Indonesia setelah Papua dan Kalimantan Tengah. Karakteristik lahan ini basah.

Pada kondisi alami, gambut menyimpan banyak air di saat musim hujan, lalu melepaskan air secara perlahan-lahan pada saat musim kemarau. Namun, saat keseimbangan ekologisnya terganggu, kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan air jadi tidak maksimal. Maka pada musim kemarau, lahan gambut akan mengalami kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah lahan gambut ini memang terbakar atau dibakar? Kemungkinan pertama, terjadi karena terbakar yang diakibatkan oleh kemarau (alam) atau kelalaian manusia.

Sebagai contoh, ada kejadian yang diberitakan tentang peladang (petani) yang membuang puntung rokok dan mengakibatkan kebakaran. Tapi apakah ini  bisa berdampak besar dan menghasilkan asap seperti hari ini? Asap yang sudah menyebar di beberapa provinsi seperti Sumatera Barat dan Jambi, bahkan sampai ke negara tetangga? Tentu hal ini tidak mungkin.

Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyebutkan bahwa KARHUTLA (Kebakaran Hutan dan Lahan) 99% disebabkan oleh pembakaran dengan sengaja oleh oknum tertentu (CNN, 2015 dan Liputan6, 2019). Pembakaran ini biasanya dimanfaatkan oleh korporasi untuk diubah menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang pada kenyataannya memang terbukti bahwa 1-2 tahun setelahnya akan terlihat HTI di daerah tersebut.

Dengan kejadian seperti ini, apakah semua pihak tidak ada yang bertindak? Apakah pemerintah sedang tenang-tenang saja? Ini tidak bisa dijawab secara gamblang, melihat asap di Riau yang pada tahun ini yang sudah merajalela selama beberapa bulan.

Pemerintah sebenarnya telah melakukan beberapa hal seperti penugasan Satgas untuk memadamkan titik api dan menyelidiki serta memproses pelaku terduga penyebab KARHUTLA. Namun, sampai di mana prosesnya? Karena dari tahun ke tahun selalu kejadian ini berulang. Apakah tidak adanya jera bagi mereka yang membakar hutan? Ataukah aturan kita yang masih lemah?

Semua harus memahami bahwa jika ini dibiarkan terus menerus banyak dampak buruk terhadap Riau ke depannya. Seluruh kehidupan masyarakat Riau sedang dan akan terganggu. Jika ditinjau lebih spesifik, dalam bidang kesehatan (contohnya), ini sudah pasti sangat besar dampaknya, banyak yang terkena Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) bahkan sudah ada anak yang meninggal akibat asap ini.

Banyak juga yang mendadak pingsan karena kekurangan oksigen dan harus dibawa kerumah sakit untuk diberi oksigen. Dampak kesehatan dari ISPA ini tentunya bukan hanya jangka pendek, tetapi jangka panjang karena otak akan sangat terganggu aktifitasnya ketika penyaluran oksigen terganggu. Bahkan, di kemudian hari, mungkin saja banyak anak Riau memiliki tingkat kecerdasan yang rendah.

Jika membahas tentang anak-anak, tentu akan erat hubungannya dengan aktivitas di sekolah yang pastinya akan terpengaruhi pula oleh asap ini. Sudah sering terjadi di Riau, Gubernur mengeluarkan edaran untuk meliburkan siswa akibat level udara yang sudah mencapai “Sangat tidak sehat” bahkan “Berbahaya”.

Seperti yang kita ketahui bahwa system disekolah berbeda dengan system di perkuliahan yang ketika kita libur hari ini, akan diganti jam nya di lain hari. Tapi di sekolah tidak seperti itu, ketika hari ini siswa tidak belajar, maka pelajaran akan digabungkan pada materi pelajaran di pertemuan berikutnya.

Ini pasti sangat tidak kondusif bagi guru maupun murid. Bahkan terkadang banyak materi yang seharusnya guru jelaskan di depan kelas, malahan diberikan menjadi sebuah tugas saja. Akibatnya apa? Tidakkah pendidikan di Riau akan semakin menurun? Besar kemungkinan jawabannya adalah iya.

Di sisi lain, ada sebuah hal positif yang terfikir oleh sebagian orang yakni makmurnya si penjual masker. Berbagai macam motif model dan jenis dengan rentang harga yang berbeda-beda ditawarkan oleh si penjual di masa kelam nya Riau ini.

Tapi itulah namanya hikmah di balik suatu kejadian. Kemudahan bagi para penjual masker ini merupakan jalan rezeki mereka yang ada di kelamnya Riau hari ini. Namun demikian, apakah masyarakat Riau menginginkan ini terjadi dalam waktu yang lama? Tentu saja tidak, bahkan bagi si penjual masker itu sendiri.

Pendidikan Fisika FKIP Universitas Riau

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…