Kamis, Oktober 22, 2020

Dibalik Tujuan RUU Pertanahan

Soeratin Menangis Melihat PSSI Kita

Dalam kondisi dehidrasi panas pekat Kota Jakarta, melalui Rapat Pleno DPP IMM saya diangkat menjadi Sekretaris Bidang Seni, Budaya dan Olahraga DPP IMM Periode...

Film “Joker” dan Mimpi Kaum Anarkis

Sudah banyak sebenarnya ulasan tentang film “Joker” tahun 2019, yang cukup fenomenal ini. Tulisan ini ingin mencoba memahami film tersebut dari sudut pandang yang...

Kita Tidak Boleh Mati Karena Kabut Asap

Jumat kemarin jutaan orang, sebagian besar siswa sekolah, turun ke jalan untuk berpartisipasi dalam protes perubahan iklim global. Dari New York ke Sydney mereka...

Tidak Ada Singasari dalam Babad Tanah Jawi

Penulisan (tafsir) sejarah selalu debatable terlebih bila berhubungan dengan kekuasaan. Kita sering mendengar ungkapan, sejarah ditulis para pemenang, tetapi kita pun juga mendengar bahwa...
Mukhammad Haykal Shokat Ali
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Peliknya persoalan konflik agraria menjadi persoalan laten di Indonesia yang terus berangsur bertambah setiap saat. Seiring berjalanya waktu dan pergantian kepemimpinan, pada kenyataanya belum mampu membuat perubahan yang berarti terhadap konflik-konflik agraria yang terjadi diseluruh penjuru tanah air. Dewasa ini, upaya ditegakanya aturan yang menyangkut tentang pertanahan dan agraria mulai diwujudkan.

Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertanahan telah masuk dalam Prolegnas dan menjadi salah satu fokus pembahasan pemerintah yang diklaim akan melengkapi kekurangan dari Undang-Undang no. 5 tahun 1960 (UUPA) dan mengatur secara lebih rinci tentang permasalahan agraria atau pertanahan sesuai kebutuhan bangsa, negara dan masyarakat.

Pada kenyataanya, RUU yang sedang diupayakan untuk disahkan ini mengandung banyak hal yang belum dapat menjawab persoalan agraria yang terjadi di Indonesia dan justru tidak mencerminkan tujuan dan cita-cita UUPA 1960 itu sendiri. UUPA justru ditafsirkan dengan sedemikian rupa dan dibelokan sejak era orde baru yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan modal dengan mengatasnamakan pembangunan negara.

Hak Pengelolaan (HPL) dan Jebakan Keberpihakan

Pasal 8 RUU Pertanahan mengatur tentang Hak Pengelolaan (HPL) atas tanah oleh negara melalui instrumen kementerian. HPL selama ini dianggap sebagai aturan yang mendasari lahirnya banyak perosalan dan konflik agraria.

Pemberian HPL oleh pemangku kebijakan seringkali hanya mementingkan kepentingan pemodal besar untuk menjalankan usahanya, seperti kasus yang terjadi pada 31 titik di wilayah Kepulauan Riau oleh klaim HPL wilayah otorita Batam.

Akibat dari hal tersebut, kepentingan atau keberadaan masyarakat dalam wilayah HPL yang diberikan harus dikorbankan. Kenyataan tersebut terjadi di berbagai wilayah di Indonesia dan menjadi sumber berbagai jenis konflik di berbagai sektor agraria. HPL juga dianggap telah menghidupkan kembali konsep domein verklaring pemerintah kolonial.

Domein verklaring adalah pernyataan yang menegaskan bahwa semua tanah yang orang lain tidak dapat membuktikan bahwa tanah itu miliknya, maka tanah itu adalah milik (eigendom) negara. HPL dikatakan menghidupkan kembali konsep domein verklaring karena seringkali dalam pemberian HPL tersebut oleh pemangku kewenangan, dilakukan tidak dengan memperhatikan kondisi lahan dan keberadaan masyarakat yang mendiaminya.

Inilah yang seringkali melahirkan konflik agraria antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan baik milik negara atau milik swasta. Pemberian HPL yang menyesuaikan dengan kebutuhan pemodal besar membuat pemerintah secara sewenang-wenang menguasai tanah yang oleh masyarakat tidak dapat dibuktikan kepemilikanya walaupun telah lama mendiami wilayah tersebut.

Kali ini, dengan naiknya status HPL dalam bentuk Undang-Undang pada kenyataanya tidak mengubah banyak dari tujuan HPL sebelumnya yang diatur dalam pasal 64 Peraturan Meteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 Tentang Tata Cara Pemberian Dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan.

Hal tersebut terbukti dari bahwa pasal 8 ayat (2) pada RUU pertanahan seakan-akan menyatakan bahwa HPL berpihak kepada masyarakat dengan diharuskanya pemegang HPL untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas tanah sesuai tujuan khusus yang kemudian diperjelas pada pasal 10 ayat (2) sebanyak 60% dari luas HPL.

Secara jelas, aturan tersebut tidak bertujuan untuk membuat masyarakat dapat menguasai tanah untuk dipergunakan selain dalam koridor tujuan khusus dari HPL tersebut, sehingga memungkinkan masyarakat hanya dapat mengolah tanah sesuai tujuan khusus pemberian HPL. Tidak pula diatur jumlah luasan HPL yang dapat diberikan oleh pemerintah kepada subyek yang berhak menerima HPL.

Reforma Agraria versi Pemodal

Pelaksanaan Reforma agraria dalam RUU Pertanahan telah diatur dengan harapan untuk memenuhi hak masyarakat atas tanah dan dapat menyelesaikan konflik-konflik agraria yang telah terjadi serta yang akan datang.

Namun jika dipahami secara lebih dalam, dapat disimpulkan bahwa reforma agraria yang diatur dalam RUU tersebut terlihat tidak serius dan berpihak pada kepentingan pemodal besar. Ketidakseriusan pemerintah dalam melaksanakan Reforma Agraria menurut RUU ini salah satunya adalah model penyelesaian konflik agraria yang menekankan pada proses mediasi dan peradilan. Hal tersebut dapat di artikan bahwa RUU tersebut menyamakan konflik agraria struktural dengan konflik pertanahan biasa.

Padahal, konflik agraria struktural memiliki dampak yang lebih luas dari pada konflik pertanahan biasa. Konflik agraria struktural berdampak luas secara sosial, budaya, ekonomi, ekologis dan tidak jarang memakan korban jiwa. Konflik agraria struktural harus diselesaikan dengan melibatkan seluruh pihak dan seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam setiap sektor konflik agraria struktural.

Lebih daripada itu, konflik agraria struktural seharusnya dapat diantisipasi sejak masih menjadi potensi dengan aturan yang tegas, sehingga selain menyelesaikan konflik agraria struktural yang telah terjadi, dapat juga menghindari atau mencegah potensi-potensi konflik agraria struktural yang akan terjadi.

Reforma agraria adalah upaya negara untuk menata ulang struktur agraria Indonesia yang timpang menjadi lebih berkeadilan, mensejahterakan dan berkelanjutan, yang dilakukan secara sistematis, terstruktur serta memiliki kerangka waktu yang jelas. Sedangkan RUU Pertanahan ini mengartikan Reforma Agraria hanya sebatas pada program penataan aset saja.

Masyarakat Adat dan Cita-Cita UUPA 1960

Secara konstitusi, Indonesia telah mengakui keberadaan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Keberadaan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya juga bagian yang diatur dalam RUU Pertanahan, walaupun aturan-aturan dalam RUU ini bersifat pasif terhadap hak atas tanah masyarakat adat. Masyarakat adat dituntut harus proaktif dalam hal mendapatkan hak atas tanah adatnya.

Pengakuan atas keberadaan masyarakat adat untuk memperoleh hak ulayat harus dikukuhkan oleh instansi pemerintah di berbagai lingkup dan tingkatan pemerintahan sesuai dengan wilayah keberadaan masyarakat adat tersebut. Pengukuhan atas keberadaan masyarakat adat harus didasari terlebih dahulu dengan permohonan pengukuhan masyarakat adat kepada kepala pemerintahan yang sesuai.

Sebagaimana telah dijelaskan, RUU Pertanahan menjadikan UUPA sebagai landasan dan tujuan dalam membuat aturan-aturan didalamnya. Namun, kontradiksi justru timbul dalam muatan dan substansi yang dibuat.

Peran proaktif yang seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah dalam mendaftarkan tanah diseluruh wilayah Indoneisa agar dapat memiliki data agraria yang lengkap dan akurat dalam rangka menentukan arah pembangunan nasional dan pemenuhan hak-hak agraria masyarakat, RUU Pertanahan justru mengharuskan masyarakat pada berbagai sektor yang harus mengambil peran proaktif tersebut.

Dapat dikatakan bahwa pendaftaran tanah dalam RUU Pertanahan memiliki tujuan untuk percepatan proses sertifikasi tanah saja tanpa mempertimbangkan kondisi wilayah terdampak konflik agraria, wilayah adat dan wilayah yang mengalami tumpang tindih dengan wilayah konsesi.

Mukhammad Haykal Shokat Ali
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat...

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Habis)

Covid-19 Sebagai Fakta Kehidupan  Terlepas dari apakah Covid-19 adalah akibat dari ulah manusia, dan karena itu sebagai bagian dari kehendak bebas manusia, penderitaan kita hari ini pada...

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.