Selasa, Maret 2, 2021

Crosshijaber, Antara Teror dan Perilaku Menyimpang

Kado Istimewa Gie untuk Bung Fahri Hamzah

Ketika ribuan Mahasiswa bergerak untuk melakukan pergerakan demonstrasi di berbagai wilayah, saya langsung teringat dengan sosok aktifis yang mati muda itu, namanya Soe Hok...

Gus Dur, Sastra, dan Diplomasi untuk Palestina

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan salah satu tokoh yang berada di garda terdepan dalam perjuangan Kemerdekaan Palestina. Sudah puluhan tahun orang-orang Palestina tidak mendapatkan...

Gaji 8 Juta, Lulusan UI, dan Guru Honorer

Lulusan UI gaji 8 Juta? Kok sedikit sekali? Wah, tidak menghargai kerja keras untuk bisa masuk di UI dan lulus dari UI kalau seperti...

Papua dan Hantu Rasial

"Bhineka Tunggal Ika", saat ini sedang berkabung, melihat peristiwa represif yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, menandakan masih kentalnya kebencian berbasis rasial....
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka

Indonesia mampu menampilkan hal-hal baru, baru namun bernilai positif, masih bisa ditolerir. Tetapi jika yang baru ini adalah sesuatu yang aneh, tak lazim, dan bahkan seakan menantang regulasi negeri ini, ya jadinya seperti ini: beberapa pria yang mengenakan hijab, lengkap dengan penutup hidung dan mulut atau cadar.

Entah maksudnya apa, yang jelas tampilan model ini mulai disorot dari sisi kepatutan dan estetika. Selain dua hal itu, ulasan ini hanya akan menyoal dari sudut pandang keamanan. Ya memang sisi keamananlah yang masih kita butuhkan. Dengan mengenakan penutup wajah, dan misalnya masih juga ditambah dengan busana serba longgar, kita tak bisa mengenali identitas pria pengguna hijab tersebut, yang banyak disebut sebagai crosshijaber. 

Kita tak bisa dengan mudah memberikan senyum atau salam layaknya sedang bertemu dengan teman karib. Dengan busana yang serba longgar, kita tak bisa mengenali barang bawaan mereka di balik baju longgarnya. Sudah sebegini menakutkankah jika kita bertemu orang atau pria berhijab? Sebagai orang yang sering kedatangan tamu di kantor atau bertemu mahasiswa, saya pun merasakan hal ini.

Ketika di masuk di ruang kerja atau kantor secara keseluruhan, dan saya menemui ada yang masih mengenakan masker karena tamu tersebut baru saja mengendarai sepeda motor, saya pun akan langsung menegur.

Paling tidak, terhadap mahasiswa berhijab tersebut saya bisa menegur dengan sapaan, maaf bisakah maskernya dibuka? Maksud saya hanya simpel saja, supaya saya bisa mengenali tamu yang datang ke meja kerja saya. Tentu dari sisi keamanan, saya merasa yakin bahwa tamu yang datang adalah mereka yang punya niat baik. Bukan yang menimbulkan ketakutan seperti tadi.

Akan tetapi, kita tentu tidak bisa dengan mudah meminta orang lain yang kebetulan berpapasan di jalan, untuk membuka masker penutup hidung dan mulut. Apalagi jika kita tidak begitu yakin terhadap jenis kelamin mereka: perempuan ataulaki-laki karena busananya yang longgar, berhijab, dan mengenakan masker.

Jika benar ternyata perempuan, tentu ia akan merasa tersinggung. Jika patokan kita adalah bentuk dan postur tubuhnya yang kekar, sekarang pun sudah banyak perempuan yang berangkat ke gym untuk mendapatkan bodi kekar.

Sepertinya, agar suasana di lingkungan kita makin nyaman dan tidak diselipi oleh kecurigaan yang tak karuan, perlu ada aturan tegas mengenai maraknya crosshijaber ini. Andai mereka memahami dan tak ingin diusik ketenangannya, sebaiknya tidak perlu mengenakan busana yang demikian ini, jika tidak untuk keperluan yang jelas.

Maksudnya, jika keperluannya adalah untuk ibadah, silakan saja. Namun jika maksudnya adalah untuk menyembunyikan identitas dengan tujuan tertentu, maka pihak keamanan punya kewenangan untuk menjaga situasi aman di lingkungannya.

Secara mudah, tentu sebenarnya mereka pun sudah memahami bahwa ketika seorang pria beribadah (shalat) pun tidak ada kewajiban untuk mengenakan hijab. Dahi pria harus kelihatan ketika shalat.

Begitu juga dengan dua telapak tangannya. Saya yakin bahwa para pria muslim sudah mengetahui hal ini. Jika crosshijaber bermaksud untuk menyempurnakan busana ibadahnya, regulasi atau hadis mana yang dipakai?

Saya potong kompas saja, jika tak ingin dicurigai sebagai pelaku tindak tertentu, sebaiknya tak perlulah berbusana semacam ini. Jika crosshijaber memang sengaja ditujukan untuk semakin menegaskan bahwa pelaku tindak tertentu masih ada di Indonesia, jangan salahkan pihak keamanan kita jika bertindak tegas.

Sebab aturan non agama pun sudah banyak diketahui, meskipun tidak tertulis, bahwa pria lazimnya tidak mengenakan hijab. Silakan ditanyakan pada komunitas masyarakat secara umum. Lazimkah pria mengenakan hijab?

Jika jawabannya adalah lazim, saya akan menanyakan pada komunitas mana Anda menanyakan hal itu. Gampang bukan? Segampang ketika kita bertindak dan berbusana seadanya, selazimnya, dan seperti pada umumnya.

ilustrasi:pixabay

Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.