Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Buah Sawit jadi “Buah Simalakama”

Kita Tidak Boleh Mati Karena Kabut Asap

Jumat kemarin jutaan orang, sebagian besar siswa sekolah, turun ke jalan untuk berpartisipasi dalam protes perubahan iklim global. Dari New York ke Sydney mereka...

Klaim Lesser Evil Setelah Pilpres

Istilah ‘lesser evil’ menjamur dalam skema politik Indonesia menjelang Pilpres April 2019 lalu. Ia berarti sesuatu yang tidak terlalu buruk di antara pilihan terburuk....

Cita dan Cinta PKB Kepada Bangsa

Lahirnya era baru di Indonesia yang dikenal dengan istilah era reformasi, menjadi titik klimaks dari keinginan kuat masyarakat Indonesia untuk melakukan perubahan, hal ini...

Menunggu Jawaban Sang Maestro Hukum

Selamat dilantik kembali Presiden Jokowi. Banyak sekali harapan kita selaku rakyat kecil terhadap kemajuan bangsa ini. Akan tetapi banyak pula kekecewaan dan keresahaan pada...
Faizal Ramli
Mahasiswa Politeknik Statistika STIS

Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Dengan rata-rata produksi dari tahun 2010 hingga 2014 sebesar 25.462.032 ton atau setara 48,44 persen produksi kelapa sawit dunia, disusul Malaysia dan Thailand dengan rata-rata produksi berturut-turut sebesar 18.714.748 ton dan 1.970.000 ton.

Jumlah produksi kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2014 menurut Kementerian Pertanian adalah sebesar 29.278.189 ton dan diperkirakan mencapai 35.359.384 ton pada tahun 2017.

Menurut publikasi Kementerian Pertanian yang berjudul “Outlook Kelapa Sawit 2017”, produktivitas minyak sawit di Indonesia sebesar 17,09 ton/hektar pada tahun 2014, menempati urutan ketujuh negara dengan produktivitas minyak sawit terbesar di dunia.

Masih di tahun 2014, produksi minyak sawit di Indonesia mencapai 5.855.638 ton dan naik menjadi 6.214.002 ton pada tahun 2015. Produksi minyak sawit di Indonesia tahun 2017 diperkirakan mencapai 7.071.877 ton. Provinsi sentra produksi minyak sawit terbesar di Indonesia yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Jambi.

Dari produksi kelapa sawit yang begitu besar, sektor ini tentunya menjadi penyumbang devisa negara yang potensial. Dengan volume ekspor sebesar 22.759.305 ton atau setara dengan US$14.365.422.000, neraca ekspor-impor kelapa sawit Indonesia surplus sebesar US$14.361.306.000 pada tahun 2016.

Sementara untuk neraca ekspor-impor minyak inti sawit surplus sebesar US$1.910.504.000 pada tahun 2016. Tercatat dari tahun 2009 hingga 2013, Indonesia masih menduduki peringkat pertama sebagai negara eksportir minyak sawit terbesar di dunia dengan rata-rata ekspor 17.776.162 ton atau setara dengan 47,16% ekspor minyak sawit dunia.

Namun di samping itu semua, perkebunan kelapa sawit ini menuai polemik terutama dari segi lingkungan. Isu utama dari perkebunan kelapa sawit adalah deforestasi atau penebangan hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Hingga tahun 2015, luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 11 juta hektar dari yang mulanya hanya seluas 294 ribu hektar pada tahun 1980.

Menjadikan kelapa sawit salah satu penyebab utama penebangan hutan tropis di Indonesia. Menurut sebuah laporan yang berjudul “Study on the environmental impact of palm oil consumption and on existing sustainability standards” oleh 3Keel LLP dan LMC International Ltd., persentase penebangan hutan di Indonesia yang diakibatkan oleh kelapa sawit diperkirakan sebesar 11% (antara tahun 2000 sampai 2010) hingga 16% (antara tahun 1990 sampai 2005). Sebuah studi mengungkapkan bahwa 54% perkebunan kelapa sawit di Indonesia berasal dari daerah yang dulunya hutan pada tahun 1989.

Selain itu, emisi gas rumah kaca juga merupakan isu lingkungan yang harus dihadapi. Deforestasi di daerah tropis menyumbang sekitar 10 persen dari CO2 buatan manusia, yang dapat berdampak pada perubahan iklim yang berbahaya. Berkurangnya keanekaragaman hayati, serta rusaknya habitat, yang mengarah pada matinya spesies yang terancam punah seperti orang utan, gajah sumatera, harimau sumatera, dll.

Lahan bekas perkebunan sawit sulit untuk digunakan kembali. Setelah 25 tahun masa panen kelapa sawit, lahan yang ditinggalkan akan menjadi semak belukar dan/atau lahan kritis baru.

Tanah mungkin akan kehabisan nutrisi, terutama pada lingkungan yang mengandung asam, sehingga menjadikan wilayah tersebut tanpa vegetasi selain rumput-rumput liar yang akan mudah sekali terbakar. Hal ini tidak terlepas dari “rakusnya” unsur hara dan kebutuhan air tanaman sawit yang sangat tinggi.

Bak kata pepatah, “seperti makan buah simalakama”. Kelapa sawit merupakan sektor yang menjanjikan untuk menyumbang devisa negara. Namun di sisi lain, pengalihan fungsi hutan sebagai sumber kehidupan menjadi perkebunan yang tanahnya sulit untuk diolah kembali bukanlah sesuatu yang benar.

Semua pihak yang terlibat pada sektor ini perlu untuk merumuskan kembali bagaimana agar lingkungan tetap terjaga. Karena kita tidak ingin mewariskan alam yang rusak dan tidak layak untuk ditinggali bagi generasi mendatang demi kenikmatan sesaat.

Faizal Ramli
Mahasiswa Politeknik Statistika STIS
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.