Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Awas Gagal Paham Tujuan Kelompok Teror

Maaf Bong, Pret, Kami Tak Sudi Terperangkap Cintamu!

Pasca Pemilu 17 April lalu seluruh tokoh bangsa meminta Prabowo dan Jokowi untuk segera rekonsiliasi. Mengingat perseteruan politik cukup menyita perhatian seluruh komponen anak bangsa....

Anies Baswedan, Pemimpin Tanpa Kekuatan Politik

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ini tak ada habis-habisnya dalam pemberitaan di media. Tak jauh beda dengan pendahulunya yaitu Ahok. Bedanya, yang diberitakan...

Kekerasan Virtual di Papua

Belakangan ini kita dibuat sedih dengan edaran digital video ujaran rasis terhadap mahasiswa asal Papua yang sedang meningkatkan kapasitas sebagai mahasiswa di Surabaya. Mulanya dipicu...

Negeri ini Terbebani Dua Semangka

Ilmu pemasaran, produk atau jasa yang ditawarkan harus keunggulan. Keunggulan ini ditekankan pada subjek produk atau jasa yang eye catching dan punya kelebihan. Kebetulan...
Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist

Ketika terjadi aksi terorisme seperti bom bunuh diri, maka kita sering kali memaknai hal itu sebagai aksi menebar ketakutan. Nah, ketika tak terjadi aksi teror dalam rentan waktu yang lama, maka kita sering berkesimpulan jika kelompok teror sudah musnah.

Tak selamanya pendapat seperti itu salah, tapi juga tak benar seratus persen. Sebab tujuan kelompok teror bukanlah untuk menebar ketakutan semata. Atau membunuh orang sebanyak-banyaknya. Tapi tujuan kelompok teror adalah merebut kekuasaan. Kita kerap kali gagal memahami tujuan kelompok teror ini.

Salah satu pembicara pada diskusi tertutup terkait terorisme awal tahun ini mengatakan hal itu. Jika tujuan kelompok teror sesungguhnya adalah merebut kekuasaan. Pembicara lain, masih di acara yang sama menyebut jika kelompok teror memiliki tiga jalan untuk mencapai tujuan mereka. Pertama adalah dakwah, kedua politik, dan ketiga teror.

Poin ketiga sudah dilakukan oleh Jamaah Islamiyah (JI) dulu, ISIS dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kini. Poin pertama JI, ISIS, dan JAD terus lakukan sampai saat ini. Sementara untuk poin kedua, ISIS dan JAD ogah ambil jalan itu, sebab bagi mereka itu sama artinya mengakui demokrasi yang mereka anggap bertentangan dengan akidah. Tapi berbeda pandang dengan ISIS dan JAD, JI mulai melunak soal demokrasi.

The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) lembaga tanki pemikiran yang digawangi pengamat terorisme Sidney Jones dalam laporannya berjudul The Re-Emergence of Jemaah Islamiyah pada 2017, mencatat bagaimana JI berkompromi dengan demokrasi.

Jika JI terdahulu mengharamkan demokrasi, JI pimpinan Para Wijayanto yang diangkat amir pada 2007 menyelinap dalam demokrasi. Bahkan JI menyusun risalah terkait hal ini. Risalah itu berjudul “Mungkinkah Demonstrasi Damai dan Gerakan Jihad Bersanding?” Jawaban JI adalah ya. Hal ini setara dengan “jihad pena atau jihad pidato”.

Sebab JI yang sekarang dinamai aparat “Neo JI” tak lagi berfokus kepada aksi teror. Mereka meninggalkan aksi teror dan menjalankan kegiatan dakwah untuk menyebarkan ideologi.

IPAC juga menyebut sasaran dakwah mereka meliputi berbagai kalangan masyarakat termasuk kalangan berkeahlian khusus. Seperti dokter, teknisi nuklir, insinyur, jurnalis, pengacara, ahli komunikasi hingga ahli pertanian.

Langkah JI ini menurut Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andre membuatnya mampu bertahan lebih lama daripada kelompok lain. Sebab JI berpikir strategis. Mereka mengkaji untung dan ruginya dari setiap langkah yang ditempuh. Terkiat akibat untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Dari situ kelompok JI mengenali titik lemah dan memperbaiki diri.

Temuan terbaru polisi pun mengarah kepada hal yang sama. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, Senin 15 Juli 2019 mengatakan JI pimpinan Para Wijayanto yang baru ditangkap Densus, masuk ke lini strategis di masyarakat. Mereka juga menggunakan pendekatan kepada partai politik dan tokoh Agama.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada 2015 penulis pernah menemukan seorang anggota JI yang masuk daftar cekal PBB berpose dan berfoto bersama Anggota Dewan. Tak tanggung-tanggung mereka berfoto di Rumah Wakil Rakyat. Bisa jadi karena kelihaian anggota JI ini masuk ke berbagai lini hingga tak tercium saat masuk ke Rumah Rakyat. Bahkan juga tak terdeteksi oleh Anggota Dewan itu sendiri.

Pengamat terorisme, sekaligus mantan anggota JI, Nasir Abbas pada sebuah diskusi di Jakarta tahun lalu menyebut JI menggunakan konsep ipoleksosbudmil (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer). Setelah menganggap jalan teror tak menguntungkan JI, maka mereka mengambil jalan lunak, tapi dengan tujuan yang sama. Menguasai sebuah wilayah kemudian mendirikan Negara Islam.

JI bahkan membangun sekolah, pesantren, masjid, majelis taklim, segala hal mereka lakukan untuk mencapai tujuannya. Nasir bilang sulit bagi kita untuk mendeteksi mereka, sebab saat ini mereka menjalankan gerakan bawah tanah.

Pernyataan Nasir sesuai dengan temuan polisi. Dedi mengatakan jika JI menyebarkan paham mereka melaui dakwah dan media. Mereka memiliki media tersendiri untuk menyebarkan narasi-narasi propagandanya.

Jadi terang sudah jika tujuan kelompok ini sebenarnya bukanlah teror seperti yang tampak selama ini. Tapi aksi teror itu hanya sebagian kecil dari strategi mereka untuk meraih kekuasaan.

Salah satu cermin jika tujuan mereka sebenarnya kekuasaan adalah apa yang menimpa Suriah beberapa tahun terakhir. Alqaeda yang JI merupakan bagian darinya menjadi salah satu anasir di Suriah yang angkat senjata melawan pasukan Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Contoh lain di Marawi, Filipina. Bagaimana kelompok Isnilon Hapilon dan Omar Maute yang berafiliasi dengan ISIS mencoba menguasai Marawi. Tapi berhasil digagalkan tentara Filipina.

Di Indonesia sendiri kelompok Ali Kalora hingga saat ini masih diburu aparat di Poso, Sulawesi Tengah. Ali Kalora yang kini menjadi pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pasca tewasnya Santoso terus bergerilnya dan melakukan perlawanan.

Seperti kelompok terorisme lainnya, MIT juga ingin berkuasa dan mendukung kelompok ISIS yang bercita-cita mendirikan Negara Islam. Hanya saja mereka melakukannya dengan cara mengakat senjata. Sebab mereka memiliki modal untuk melakukan perlawanan bersenjata, serta wilayah untuk berperang.

Lalu bagaimana jika JI saat ini tak memiliki “microfon” dan “pena”? Tapi mereka memiliki wilayah, senjata dan tentara, masihkan mereka mengambil jalur dakwah?

Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Beberapa Khazanah dan Pemikir Islam

Abad ke-14 dunia Islam mengalami kelesuan, akan tetapi dari Tunisia lahirlah seorang pemikir besar yaitu Ibn Khaldun (Abdurrahman ibn Khaldun, w. 808 H/1406 M)...

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.