Minggu, April 11, 2021

Awas Gagal Paham Tujuan Kelompok Teror

Asal-Usul Matrilinealisme di Minangkabau

Minangkabau, tak ada habisnya untuk dibahas. Baik etnis maupun daerahnya telah memberikan aksen warna tersendiri pada atmosfer keberagaman di negara Indonesia yang kita cintai...

Persoalan yang Lebih Penting, Tanggapan untuk GM

Perihal Festival Sastra Internasional yang belakangan marak di Indonesia, Goenawan Mohamad (GM) menunjukkan sikap ‘skeptis’. Mengapa GM tiba-tiba ‘skeptis’ pada Festival Sastra Internasional di Indonesia?...

Sistem Mandiri Eror, Kembali Pakai Emas?

Kejadian eror system Bank Mandiri hampir membuat nasabah mati jantungan. Setelah bekerja begitu kerasnya mengumpulkan pundi-pundi kekayaan lalu menabung di perbankan, dalam hitungan detik...

Sebelah Mata Novel dan Mata Kita

Sudah lama kita mendengar kasus penyiraman air keras kepada salah satu penyidik KPK yaitu Novel Baswedan. Novel diserang menggunakan air keras oleh orang tak...
Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist

Ketika terjadi aksi terorisme seperti bom bunuh diri, maka kita sering kali memaknai hal itu sebagai aksi menebar ketakutan. Nah, ketika tak terjadi aksi teror dalam rentan waktu yang lama, maka kita sering berkesimpulan jika kelompok teror sudah musnah.

Tak selamanya pendapat seperti itu salah, tapi juga tak benar seratus persen. Sebab tujuan kelompok teror bukanlah untuk menebar ketakutan semata. Atau membunuh orang sebanyak-banyaknya. Tapi tujuan kelompok teror adalah merebut kekuasaan. Kita kerap kali gagal memahami tujuan kelompok teror ini.

Salah satu pembicara pada diskusi tertutup terkait terorisme awal tahun ini mengatakan hal itu. Jika tujuan kelompok teror sesungguhnya adalah merebut kekuasaan. Pembicara lain, masih di acara yang sama menyebut jika kelompok teror memiliki tiga jalan untuk mencapai tujuan mereka. Pertama adalah dakwah, kedua politik, dan ketiga teror.

Poin ketiga sudah dilakukan oleh Jamaah Islamiyah (JI) dulu, ISIS dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kini. Poin pertama JI, ISIS, dan JAD terus lakukan sampai saat ini. Sementara untuk poin kedua, ISIS dan JAD ogah ambil jalan itu, sebab bagi mereka itu sama artinya mengakui demokrasi yang mereka anggap bertentangan dengan akidah. Tapi berbeda pandang dengan ISIS dan JAD, JI mulai melunak soal demokrasi.

The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) lembaga tanki pemikiran yang digawangi pengamat terorisme Sidney Jones dalam laporannya berjudul The Re-Emergence of Jemaah Islamiyah pada 2017, mencatat bagaimana JI berkompromi dengan demokrasi.

Jika JI terdahulu mengharamkan demokrasi, JI pimpinan Para Wijayanto yang diangkat amir pada 2007 menyelinap dalam demokrasi. Bahkan JI menyusun risalah terkait hal ini. Risalah itu berjudul “Mungkinkah Demonstrasi Damai dan Gerakan Jihad Bersanding?” Jawaban JI adalah ya. Hal ini setara dengan “jihad pena atau jihad pidato”.

Sebab JI yang sekarang dinamai aparat “Neo JI” tak lagi berfokus kepada aksi teror. Mereka meninggalkan aksi teror dan menjalankan kegiatan dakwah untuk menyebarkan ideologi.

IPAC juga menyebut sasaran dakwah mereka meliputi berbagai kalangan masyarakat termasuk kalangan berkeahlian khusus. Seperti dokter, teknisi nuklir, insinyur, jurnalis, pengacara, ahli komunikasi hingga ahli pertanian.

Langkah JI ini menurut Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andre membuatnya mampu bertahan lebih lama daripada kelompok lain. Sebab JI berpikir strategis. Mereka mengkaji untung dan ruginya dari setiap langkah yang ditempuh. Terkiat akibat untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Dari situ kelompok JI mengenali titik lemah dan memperbaiki diri.

Temuan terbaru polisi pun mengarah kepada hal yang sama. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, Senin 15 Juli 2019 mengatakan JI pimpinan Para Wijayanto yang baru ditangkap Densus, masuk ke lini strategis di masyarakat. Mereka juga menggunakan pendekatan kepada partai politik dan tokoh Agama.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada 2015 penulis pernah menemukan seorang anggota JI yang masuk daftar cekal PBB berpose dan berfoto bersama Anggota Dewan. Tak tanggung-tanggung mereka berfoto di Rumah Wakil Rakyat. Bisa jadi karena kelihaian anggota JI ini masuk ke berbagai lini hingga tak tercium saat masuk ke Rumah Rakyat. Bahkan juga tak terdeteksi oleh Anggota Dewan itu sendiri.

Pengamat terorisme, sekaligus mantan anggota JI, Nasir Abbas pada sebuah diskusi di Jakarta tahun lalu menyebut JI menggunakan konsep ipoleksosbudmil (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer). Setelah menganggap jalan teror tak menguntungkan JI, maka mereka mengambil jalan lunak, tapi dengan tujuan yang sama. Menguasai sebuah wilayah kemudian mendirikan Negara Islam.

JI bahkan membangun sekolah, pesantren, masjid, majelis taklim, segala hal mereka lakukan untuk mencapai tujuannya. Nasir bilang sulit bagi kita untuk mendeteksi mereka, sebab saat ini mereka menjalankan gerakan bawah tanah.

Pernyataan Nasir sesuai dengan temuan polisi. Dedi mengatakan jika JI menyebarkan paham mereka melaui dakwah dan media. Mereka memiliki media tersendiri untuk menyebarkan narasi-narasi propagandanya.

Jadi terang sudah jika tujuan kelompok ini sebenarnya bukanlah teror seperti yang tampak selama ini. Tapi aksi teror itu hanya sebagian kecil dari strategi mereka untuk meraih kekuasaan.

Salah satu cermin jika tujuan mereka sebenarnya kekuasaan adalah apa yang menimpa Suriah beberapa tahun terakhir. Alqaeda yang JI merupakan bagian darinya menjadi salah satu anasir di Suriah yang angkat senjata melawan pasukan Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Contoh lain di Marawi, Filipina. Bagaimana kelompok Isnilon Hapilon dan Omar Maute yang berafiliasi dengan ISIS mencoba menguasai Marawi. Tapi berhasil digagalkan tentara Filipina.

Di Indonesia sendiri kelompok Ali Kalora hingga saat ini masih diburu aparat di Poso, Sulawesi Tengah. Ali Kalora yang kini menjadi pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pasca tewasnya Santoso terus bergerilnya dan melakukan perlawanan.

Seperti kelompok terorisme lainnya, MIT juga ingin berkuasa dan mendukung kelompok ISIS yang bercita-cita mendirikan Negara Islam. Hanya saja mereka melakukannya dengan cara mengakat senjata. Sebab mereka memiliki modal untuk melakukan perlawanan bersenjata, serta wilayah untuk berperang.

Lalu bagaimana jika JI saat ini tak memiliki “microfon” dan “pena”? Tapi mereka memiliki wilayah, senjata dan tentara, masihkan mereka mengambil jalur dakwah?

Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.