Minggu, Maret 7, 2021

Apa yang Tuhan Lakukan Sebelum Menciptakan Alam?

Menakar Kontroversi Film The Santri

Saat ini jagat media sosial kita diriwehkan dengan penolakan terhadap film The Santri karya Livi Zheng (Livi) yang baru rilis film trailernya beberapa waktu...

Joker, Satire yang Memuaskan

Joker telah memikat para penikmat film di Indonesia. 300 ribu lebih penonton dihari pertama telah tercurahkan perhatiannya pada film ini. Ini membuktikan bahwa tingkat antusias...

Sebelah Mata Novel dan Mata Kita

Sudah lama kita mendengar kasus penyiraman air keras kepada salah satu penyidik KPK yaitu Novel Baswedan. Novel diserang menggunakan air keras oleh orang tak...

Nasionalisme Sempit Kaum Reaksioner

Barangkali penting merefleksikan kembali gagasan besar Bung Karno yang termanifestasi dalam Pancasila saat suasana hari kemerdekaan ini. Mengingat, belakangan ini bermunculan nyanyian ‘sumbang’ beserta...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Bayangkan kalau di kampung Anda ada orang kaya raya dengan kekayaan yang tak mampu ditandingi oleh orang paling kaya raya di dunia. Jika sekarang Anda mengenal salah seorang tokoh yang ditahbiskan sebagai orang terkaya di dunia, Jeff Bezos misalnya, anggaplah orang yang ada di kampung Anda lebih kaya dari orang itu. Rumah super megah, mobil berjejer mewah, tabungan melimpah, perusahaan di mana-mana, dan setumpuk harta kekayaan lainnya.

Tapi, sayangnya, orang tersebut tak pernah mau membagi kekayaannya kepada orang lain. Kerjaannya hanya duduk saja di dalam rumah. Tak pernah mau berbagi, tak pernah mau berderma. Kira-kira, sebagai tetangga, seperti apa respon Anda terhadap orang itu?

Tanpa harus lama-lama berpikir, pasti Anda berkata bahwa orang itu pelit, medit, koret! Alih-alih mendapat pujian, orang seperti itu hanya akan mendapatkan celaan dari orang-orang sekitar. Mengapa? Karena dia punya kekayaan, tapi kekayaan tersebut hanya dinikmati oleh dirinya seorang.

Meskipun tidak sepenuhnya tepat, tapi begitulah kira-kira ilustrasi sederhana untuk menggambarkan jalan pikir para filsuf ketika mereka mengatakan bahwa alam itu qâdim, dalam arti dia ada dengan adanya Tuhan, dan tidak memiliki permulaan. Mengapa mereka bisa berpandangan seperti itu?

Jawaban yang bisa dikemukakan, antara lain, seperti ilustrasi yang saya sampaikan tadi. Tuhan itu Maha Kaya, Maha Dermawan, Maha Baik, dan Maha Sempurna. Sebagai konsekuensinya, mereka tidak bisa membayangkan ada satu “kekosongan” di mana Tuhan tidak berbuat apa-apa.

Kalau Tuhan Maha Sempurna, mengapa Dia baru berbuat setelah alam semesta ini benar-benar ada? Bukankah itu bertentangan dengan ke-mahakuasaan dan ke-maha-dermawanan-Nya? Kalau memang alam semesta ini memiliki permulaan, dan dia diciptakan dari ketiadaan, lalu apa yang dilakukan oleh Tuhan sebelum alam ini diciptakan? Masa Tuhan “nganggur”? Pertanyaan ini seringkali dikemukakan, hatta oleh para filsuf besar sekalipun. Tapi apakah pertanyaan ini sudah tepat?

Kalau Anda cermati dengan baik, pertanyaan seperti itu sebetulnya sangat problematik. Di mana letak problemnya? Pusatkan perhatiaan Anda pada kata sebelum. Di sana dikatakan: Apa yang Tuhan lakukan sebelum menciptakan alam? Itu redaksi pertanyaan yang sering diajukan. Dalam percakapan sehari-hari, kata sebelum itu hanya bisa dilekatkan kepada sesuatu yang berwaktu. Karena ke-sebelum-an itu sendiri merupakan konsep waktu.

Contoh: Saya bertanya: Kapan kamu datang? Dijawab: Aku datang sebelum Atiqoh sampai. Artinya, dengan mengatakan begitu, keberadaan Anda “sebelum Atiqoh sampai” itu mengandung makna bahwa Anda berada dalam suatu waktu. Sehingga orang bisa bertanya kepada Anda dengan menggunakan kata “kapan”, dan Anda bisa menjawab dengan kata “sebelum”, karena kedua-duanya menunjukan makna keberwaktuan.

Contoh lain: Apa yang dilakukan Atiqoh sebelum dia membaca buku? Dijawab: Sebelum membaca buku dia berdoa terlebih dulu. Artinya, doa yang dilakukan itu juga berada dalam suatu waktu. Sehingga ketika itu kita bisa bertanya dengan menggunakan kata sebelum itu. Singkat kata, saya mau bilang bahwa kata sebelum itu hanya berlaku bagi sesuatu yang berwaktu.

Itu artinya, manakala kata sebelum itu dikaitkan dengan Tuhan, maka di sana ada pengasumsian bahwa Tuhan itu merupakan sesuatu yang berada dalam waktu. Artinya, dengan mengajukan pertanyaan tersebut, sadar atau tidak, Anda sedang mengasumsikan bahwa Tuhan itu adalah sesuatu yang berwaktu. Karena kata “sebelum” memang meniscayakan keberwaktuan itu.

Seolah-olah di sana ada waktu sebelum adanya alam sehingga Anda boleh bertanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum alam diciptakan? Pertanyaan ini hanya sah diajukan, kalau memang di sana ada waktu sebelum alam ini diciptakan. Dan Tuhan adalah sesuatu yang berwaktu. Sementara kita tahu bahwa waktu ini hanya ada dengan adanya alam.

Hakikat waktu itu sendiri masih diperselisihkan oleh para filsuf. Dalam kitab al-Mabâhits al-Masyriqiyyah, orang setingkat al-Razi sendiri bahkan mengaku bahwa dia belum sampai pada kesimpulan yang memuaskan tentang hakikat waktu. Memang tak mudah untuk mendefinisikan istilah itu. Meskipun kita sering menggunakannnya dalam percakapan sehari-hari.

Namun, dari sekian banyak definisi yang tersedia, ada satu definisi yang menurut saya simpel dan mudah dicerna. Waktu itu ialah penghitung gerak (‘addâd al-Harakah), atau ukuran gerak (miqdâr al-Harakah). Karena itu, jika tidak ada gerak, tidak akan ada yang namanya waktu. Alam itu tidak diciptakan dalam waktu, tapi dengan dia tercipta, maka terciptalah waktu. Artinya waktu itu baru ada seiring dengan terciptanya alam.

Pertanyaannya: Siapa yang menciptakan waktu itu? Jawabannya, yang menciptakan waktu itu adalah Tuhan. Karena Tuhan yang menciptakan waktu, maka tidak logis kalau Tuhan dikatakan sebagai sesuatu yang  berwaktu. Tetapi, sadar atau tidak, dengan mengajuk pertanyaan di atas, kita sebetulnya sedang mengasumsikan keberadaan waktu sebelum alam semesta ini tercipta. Kita sedang membayangkan bahwa Tuhan itu merupakan sesuatu yang berwaktu, sehingga kita boleh bertanya tentang apa yang dia lakukukan sebelum dia menciptakan alam?

Waktu itu, sekali lagi, baru ada dengan terciptanya alam. Sebelum alam tercipta, tidak ada yang namanya waktu, sehingga tidak ada ruang bagi kita untuk menanyakan apa yang dilakukan Tuhan sebelum menciptakan alam itu. Secara filosofis pertanyaan ini bermasalah. Karena dia mengasumsikan keberwaktuan sesuatu yang tidak berwaktu.

Bagaimana mungkin Anda memberlakukan sesuatu kepada sesuatu, sementara sesuatu yang kepadanya hendak diberlakukan sesuatu itu sendiri tidak bisa menerima sesuatu itu? Sampai di sini saya kira jelas di mana letak kekeliruan pertanyaan itu.

Lalu bagaimana dengan ilustrasi yang saya kemukakan di atas? Tuhan itu kan Maha Sempurna, bukankah kalau Dia tidak mencipta itu bertentangan dengan kesempurnaan yang dimiliki-Nya? Betul, Tuhan Maha Sempurna. Tapi, kesempurnaan Tuhan ada karena dirinya sendiri, bukan terwujud karena adanya sesuatu yang lain.

Kalau Anda hanya membayangkan Tuhan baru sempurna setelah Dia mencipta, itu artinya Anda membayangkan kesempurnaan Tuhan sebagai sesuatu yang disempurnakan dari luar. Seolah-olah tadinya Tuhan tidak sempurna, kemudian dia disempurnakan oleh sesuatu yang berada di luar diri-Nya. Sebagai orang beriman Anda tidak mungkin meyakini itu.

Tuhan mencipta atau tidak, ketuhanannya sudah meniscayakan adanya kesempurnaan. Karena kalau tidak sempurna, tidak mungkin kita meyakini-Nya sebagai Tuhan. Artinya, kesempurnaan Tuhan itu bukan sesuatu yang datang dari luar, sehingga Tuhan baru dikatakan sempurna kalau alam ada dengan adanya Tuhan. Alam ada atau tidak ada, Tuhan tetap sempurna, dengan seluruh kesempurnaan sifat yang dimiliki-Nya.

Di antara kesempurnaan-Nya, Dia tidak berada dalam waktu, dan tidak terikat dengan ikatan waktu. Karena Dia tidak berwaktu, maka tidak ada ruang bagi kita untuk bertanya: Apa yang dilakukan Tuhan sebelum menciptakan alam semesta, karena kata sebelum meniscayakan adanya keberwaktuan itu. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.