Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Anti Intelektualisme Semakin Merebak di Ruang Publik?

Kematian Demokrasi di Hong Kong?

Gejolak demonstrasi di Hong Kong tahun ini dimulai ketika seorang pemuda Hong Kong yang melakukan pembunuhan di Taiwan tidak dapat diekstradisi untuk dihukum di...

Buzzer, Fake News, dan Frame

Buzzer, fake news, dan frame adalah beberapa kosakata yang marak kita temukan akhir-akhir ini. Ketiganya adalah satu kesatuan yang hadir dalam politik pasca-kebenaran. Buzzer politik...

Mengapa Cadar Bisa Memperlambat Nikah?

Kalau Anda berkunjung ke Mesir, tempat saya menimba ilmu, Anda akan berjumpa dengan sekian banyak mahasiswi Indonesia yang menggunakan cadar layaknya perempuan-perempuan Arab. Kisah...

Pertarungan Wacana Pendukung dan Penolak FPI

Berdasarkan dokumen yang dicatat oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), keterangan masa izin Front Pembela Islam (FPI) sebagai ormas terdapat dalam Surat Keterangan Terdaftar (SKT)...
M. Fatah Mustaqim
Sehari-hari menulis dan bekerja mengurusi peternakan. Pernah belajar di FISIPOL UGM, juga pernah bergiat sebagai sukarelawan partikelir di WALHI Yogyakarta dan di komunitas kepenulisan Omah Aksara Yogyakarta.

Dewasa ini ruang publik kita cenderung masih menjadi belantara liar yang gaduh. Pola komunikasi di ruang publik, terutama di media sosial masih dipenuhi sikap anti-intelektual, insinuasi, argumentum ad-hominem bahkan hingga guilty by association (mendakwa kesalahan dengan mengaitkan masalah personal).

Selain itu, sebagian di antara kita semakin kehilangan akurasi dalam menyikapi berbagai pemberitaan sehingga begitu mudah memposting informasi tanpa menyaring dan memverifikasi tingkat kebenaran dan urgensinya. Juga begitu banyak klaim kebenaran, saling berebut benar dan cenderung kurang terbuka menerima kebaikan bersama.

Ruang publik kita cenderung masih dipenuhi sikap reaktif daripada komunikatif. Kita belum mampu membangun ruang publik yang rasional dan beradab. Seringkali keterbukaan informasi di era demokrasi saat ini justru menimbulkan paradoks ketika proses diskursus kurang memantik dialog dan kesadaran akan nilai-nilai publik.

Maka tidak jarang diskursus di ruang publik menjadi penuh prasangka, ujaran kebencian dan hoax yang merebak demikian cepat sehingga begitu banyak disinformasi dan distraksi terhadap berbagai persoalan publik.

Prasyarat komunikasi di ruang publik yang mestinya dilandasi nilai publik (public value) berupa rasionalitas dan etika komunikasi cenderung tertutup oleh verbalisme dan sikap anti-intelektual. Juga oleh kecenderungan menggeneralisir berbagai persoalan tanpa melihat duduk persoalan.

Oleh karena itu sikap anti intelektual dengan mudah merebak dalam era post truth saat ini di mana preferensi suka tidak suka (like and dislike) lebih didahulukan daripada pertimbangan rasional, imparsial dan objektif.

Begitu banyak sikap anti-intelektual yang bisa ditemukan di ruang publik mulai dari penyitaan dan pembakaran buku-buku kiri hingga kecenderungan mendistorsi substansi persoalan dengan berapologi mengalihkan pokok persoalan pada suatu yang tidak relevan.

Sikap apologi yang mendistorsi substansi kritik dapat kita temukan pada kasus kebakaran hutan dimana kritik terhadap persoalan kebakaran hutan yang terus terulang justru dibalas dengan teknikalisasi persoalan, dengan caption foto dan testimoni video petugas yang berjibaku memadamkan api di hutan seolah kritik itu tidak penting karena yang penting turun langsung ke hutan memadamkan api.

Padahal pokok persoalan kebakaran hutan erat kaitannya dengan kebijakan politik, proses struktural, penegakan hukum dan lain sebagainya yang tentu saja harus dikritisi.

Kecenderungan berapologi mendistorsi substansi persoalan juga biasa kita temukan pada sikap sebagian orang yang sinis terhadap aksi massa atau demonstrasi dengan alasan mengganggu ketertiban umum, membikin macet, tanpa melihat duduk persoalan bahwa aksi massa hanyalah akibat dari aspirasi publik yang tersumbat dan tidak menemukan saluran apapun untuk disuarakan selain turun ke jalan.

Dan yang paling membikin saya muak tentu saja adalah sikap apologi dari seorang yang mengatakan bahwa “kalau ngritik harus disertai solusi dong, jangan cuma kritik saja tanpa solusi, mengkritik harus konstruktif.”

Apologi tersebut tentu saja tidak memahami proposisi kritik di ruang publik bahwa kritik ya kritik tidak harus disertai solusi karena yang wajib mencari solusi adalah mereka para pengurus publik, yang dibayar rakyat yang mengkritik.

Apologi tersebut juga menandakan masih banyaknya sikap feodal dan anti-kritik yang tidak memahami esensi negara demokrasi dimana publik yang memiliki kedaulatan atas negara memiliki hak untuk mengkritik dan sama sekali tidak ada kewajiban untuk memberi solusi dan memuji hasil kerja dari otoritas publik yang dibayar dan diberi fasilitas publik.

Paradoks Demokrasi

Kita pun semakin kehilangan parameter dalam menyikapi berbagai arus informasi di ruang publik. Berbagai persoalan privasi, berita-berita receh dan banal, yang menjangkau ruang publik justru begitu mudah mengalihkan perhatian kita pada persoalan urgen. Persoalan-persoalan receh yang hanya menjadi riak kecil dari “persoalan gelombang” yang lebih besar telah mengalihkan pandangan kita pada persoalan mendesak yang mestinya lebih diperhatikan.

Akibatnya, meminjam diksi ungkapan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bahwa resolusi pandang kita dalam menilai berbagai persoalan di ruang publik menjadi semakin rendah. Kita semakin kehilangan parameter dalam mendudukan berbagai persoalan publik secara proporsional sehingga muncul ironi dimana persoalan kecil dibesarkan sedangkan persoalan besar direcehkanpun sama halnya ketika ruang publik diprivatisasi sebaliknya ruang privat dipublikasi.

Dr. A. Setyo Wibowo dalam esainya, Anarki dalam Demokrasi, Basis, 2012, menuliskan bahwa sebenarnya diskursus yang lebih komunikatif akan meminimalisir perebutan persepsi kebenaran sepihak di ruang publik.

Namun ruang publik kita masih penuh dengan sikap reaktif sehingga cenderung memperlihatkan egoisme dan irasionalitas yang membingungkan masyarakat dan memperlihatkan adanya anomi dan anarkisme sosial. Kondisi ini mengindikasikan munculnya demokrasi anarkis alias demokrasi suka-suka.

Demokrasi anarkis juga akan melahirkan paradoks dan ironi. Ruang publik diprivatkan, sementara ruang privat dipublikasikan. Kepentingan privat dan segmentasi golongan justru seringkali diberitakan tanpa proporsi dengan berbagai kontroversi yang melelahkan.

Saat ini kita juga masih menghadapi berbagai persoalan picisan di ruang publik terkait politik identitas, konflik pseudo-ideologis hingga banalnya politik praktis akibat rendahnya pemahaman dan pemaknaan akan nilai-nilai dan filosofi bernegara di ruang publik. Seringkali filosofi dan simbol-simbol negara hanya menjadi alat, slogan dan jargon-jargon untuk menghantam lawan politik dalam kontestasi politik praktis.

Persoalan ini berimbas pada polarisasi, perpecahan hingga hilangnya keakraban dalam kehidupan antar warga negara di ruang publik. Perdebatan di ruang publik pun hanya berkutat pada perdebatan konyol dan sempit mengenai siapa yang akan berkuasa dan bukan menumbuhkan pertanyaan substansial mengenai apa, kemana dan bagaimana bangsa ini seharusnya mengatasi kompleksitas persoalannya di masa depan.

Kredit Ilustrasi: pontianak.tribunnews.com

 

M. Fatah Mustaqim
Sehari-hari menulis dan bekerja mengurusi peternakan. Pernah belajar di FISIPOL UGM, juga pernah bergiat sebagai sukarelawan partikelir di WALHI Yogyakarta dan di komunitas kepenulisan Omah Aksara Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.