Sabtu, Februari 27, 2021

Anies Baswedan, Pemimpin Tanpa Kekuatan Politik

Perempuan dalam Dunia Diplomasi

Di antara isu prioritas Indonesia dalam Dewan Keanggotaan PBB, terselip agenda untuk meningkatan peranan perempuan dalam menciptakan perdamaian. Perempuan harus mempunyai andil yang lebih...

Kaum Cadar, Mari Belajar ‘Neriman’ dari Kaum Sarungan

Kaum sarungan identik dengan komunitas sosial yang religius taat beragama dan acapkali di posisi proletar. Kaum sarungan lebih mementingkan kultural dalam aktivitas sosialnya dan...

SpongeBob dan KPI

Beberapa waktu lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegur belasan tayangan di televisi Indonesia. Salah satunya kepada program televisi yang memutar film The SpongeBob Squarepants...

Sejarah Militer yang Hilang Karena Orde Baru

Tentara Nasional Indonesia memiliki sejarah yang panjang semenjak zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang melawan Belanda bukan melalui meja diplomasi, melainkan dengan...
Satia Chandra Wiguna
Fans Everton & Bobotoh Persib, penggemar semua aliran musik, Kader milenial Muhammadiyah yang menjadi Wasekjen DPP PSI.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ini tak ada habis-habisnya dalam pemberitaan di media. Tak jauh beda dengan pendahulunya yaitu Ahok. Bedanya, yang diberitakan di media saat ini adalah kegagalannya dalam hal konsolidasi politik, penyelarasan program, dan kosongnya kursi wakil gubernur.

Dalam hal konsolidasi politik, kita mafhum bahwa memang Anies bukan salah satu elite partai politik pendukungnya. Tapi harusnya kita maklum bahwa Anies juga memiliki kekuatan sebagai Gubernur terpilih. Harusnya Anies bisa mengumpulkan partai pendukung untuk duduk bareng membahas persoalan yang menyangkut kekinian di DKI Jakarta.

Hal ini berpengaruh ke penyelarasan program. Sudah mau 2 tahun berjalan kepemimpinan Anies sejak dilantik sebagai gubernur belum ada kebijakan yang mentereng. Persoalan-persoalan yang dulu selesai di rezim Ahok kini kembali menjadi persoalan yang sepertinya sulit diselesaikan.

Lihat saja salah satu contohnya program-program yang sifatnya teknis tapi sangat berdampak ke masyarakat, seperti Tanah Abang, belum lagi program-program yang seharusnya bagus untuk diteruskan tapi diabaikan, seperti clue dan temu gubernur tiap minggu di balai kota.

Kini masyarakat kebingungan untuk mengadu persoalan yang mendesak yang harusnya bisa diselesaikan oleh gubernur langsung. Ini bukan persoalan pembagian wilayah kerja seperti yang pernah disampaikan oleh Anies di awal menjabat.

Tapi ada hal yang mendesak yang bisa diselesaikan tanpa harus melewati jalur birokrasi yang rumit. Dan hal seperti ini yang disukai oleh masyarakat. Terakhir, persoalan wakil gubernur yang hingga saat ini belum selesai. Hampir 1 tahun gubernur bekerja sendiri dan ini buruk bagi pemerintahan Pak Anies.

Ini artinya, dalam hal konsolidasi politik Pak Anies tidak punya kuasa sama sekali. Dalam hal pemerintahan, selain pintar beretorika dan kemampuan intelektualnya yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengkonsolidasikan kekuatan politik.

Kita bisa lihat keberhasilan Pak Jokowi di periode pertama mampu memimpin konsolidasi politik partai pendukungnya. Begitu pun dengan Pak Ridwan Kamil yang bukan kader partai politik manapun bisa memimpin konsolidasi politik di Jawa Barat dan mampu memenangkan Jawa Barat.

Bayangkan, jika partai pendukung Pak Anies saja tidak bisa duduk bareng menyelesaikan persoalan wakil gubernur, bagaimana Pak Anies bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi warga Jakarta?

Bagaimana Pak Anies bisa menyelesaikan saran, masukan, dan kritik kekuatan oposisi yang akan dibangun ketika Agustus nanti Anggota DPRD DKI Jakarta yang baru akan dilantik?

Keberhasilan seorang Anies Baswedan sebagai pemimpin akan dilihat dari keberhasilan menyelesaikan urusan wakil gubernur. Menyelesaikan urusan wakil gubernur sebagai bukti bahwa Pak Anies adalah pemimpin sejati yang mampu memimpin konsolidasi politik di Jakarta.

Jika berlarut-larut, maka Pak Anies akan dikenang sebagai pemimpin tanpa kekuatan politik, dan jangan bermimpi untuk bisa maju dalam pertarungan pilpres 2024.

Satia Chandra Wiguna
Fans Everton & Bobotoh Persib, penggemar semua aliran musik, Kader milenial Muhammadiyah yang menjadi Wasekjen DPP PSI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.