Minggu, Februari 28, 2021

Satu Abad Begawan Sejarah, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo

Covid-19 Meluas Berawal Ketidakacuhan Pemerintah

Saya secara pribadi tidak akan membahas soal Covid-19 secara mendalam, apalagi mendongeng mengenai konspirasi adanya pandemik ini. Jelas, karena hal tersebut di luar pengetahuan...

Hikayat Peci: Dari Heroik Menjadi Picisan

Ramadan menjadi “bulan peci”. Permintaan peci di pasar meningkat selama Ramadan. Pengguna peci meningkat pesat, berlipat ketimbang bulan-bulan biasa. Lelaki berpeci saat Ramadan adalah...

Rasisme, Feminisme, dan Pro-Choice Menurut Alma Sophia

Alma Sophia rupanya cukup tekun mengikuti aneka perkembangan dunia -- selain tak putus bermain Roblox. Di antara sejumlah isu yang diulasnya beberapa hari lalu...

Bahaya Politisasi Agama

Bagaimana hubungan agama dan politik adalah perdebatan klasik yang tak kunjung usai, entah sampai kapan. Ada yang mengatakan perdebatan ini akan berhenti dengan sendirinya...
Manuel Kaisiepo
Manuel Kaisiepo
Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia 2000–2004

Di hadapan Sidang Senat Guru Besar Universiteit van Amsterdam yang menguji disertasinya pada 1 November 1966, Aloysius Sartono Kartodirdjo dinyatakan lulus Cum Laude. Disertasi yang diselesaikan hanya dua tahun di bawah promotor Prof. Wertheim itu langsung diterbitkan tahun itu juga dengan judul The Peasant’s Revolt of Banten in 1888, Its Condition, Course and Sequel: A Case Study of Social Movements in Indonesia (1966). Itulah magnus opum, mahakarya dari ilmuwan besar yang lahir genap satu abad lalu, 15 Februari 1921.

Dengan disertasi itu Sartono telah mendobrak dua hal sekaligus. Pertama, Sartono merintis penelitian ilmiah baru historiografi yang Indonesia-sentris, meninggalkan historiografi kolonial yang Neerlando-sentris. Kedua, Sartono mempelopori pendekatan baru multidimensional dan multidisiplin dalam studi sejarah dengan memanfaatkan teori-teori ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi. Paragraf terakhir disertasinya menegaskan hal itu:

“Sebagai penutup, penulis ingin mengemukan bahwa studi historis mengenai gerakan sosial pasti akan menambah suatu dimensi baru kepada historiografi Indonesia di satu pihak, dan mendorong pergeseran minat ke arah Indonesia-sentrisme di pihak lain”.

Peneliti Belanda H.A.J. Klooster dalam studinya tentang perkembangan dan pendekatan dalam historiografi Indonesia yang ditulis sarjana Indonesia sendiri, membenarkan pernyataan di atas.

Dalam bukunya, ‘Indonesiers Schrijven hun Geschiedenis’ (1985), Klooster menegaskan bahwa Sartono adalah pelopor metodologi baru dengan pendekatan multidimensi dan multidisipliner untuk menganalisis berbagai aspek (sosial, politik, ekonomi, dan budaya) dalam suatu peristiwa sejarah.

Salah satu murid Sartono, Dr. Kuntowijoyo juga menegaskan dengan pendekatan baru ini sejarah prosesual yang deskriptif-naratif berubah menjadi deskriptif-analitis. Dengan pendekatan baru rintisan Sartono, sejarah menjadi ‘social scientific history’.

Pendapat sama juga dikemukakan sejarawan Prof. Taufik Abdullah bahwa dengan pendekatan multidimensi dan multidisiplin yang dirintisnya, Sartono telah memperkenalkan ‘the stage’, panggung tempat terjadinya peristiwa atau tepatnya ‘structural context’ dari unsur-unsur yang membentuk peristiwa, di samping pelaku sejarahnya. Pelaku ini mencakup juga “orang-orang kecil” yang sebelumnya terabaikan dalam kajian sejarah konvensional.

Dalam suatu tulisannya tahun 1980, Sartono mengutip sejarawan E.H. Carr dalam bukunya What Is History (1961): “…..the more sociological history becomes, and the more historical sociology becomes, the better for both. Let the frontier between them be kept wide open for two-way trafic”.

Menyadari nilai penting sumbangan ilmiah dari disertasi Sartono, penerbit besar Belanda, Martinus Nijhoff langsung menerbitkannya tahun itu juga (1966). Tetapi seperti “nasib” kebanyakan karya besar lainnya, magnus opum Sartono Kartodirdjo baru diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia 18 tahun kemudian oleh Penerbit Pustaka Jaya tahun 1984.

Pembaca dan peminat studi sejarah di Indonesia beruntung, mahakarya ini sudah diterbitkan kembali dalam edisi baru oleh Penerbit Komunitas Bambu berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888 (2015).

Aloysius Sartono Kartodirdjo yang lahir 15 Februari 1921 dan wafat 7 Desember 2007, adalah sosok imuwan sejati, yang keseluruhan hidupnya mencerminkan sikap dan perilaku asketisme intelektual, sesuatu sikap yang sering menjadi tema tulisan-tulisannya. Jadi, 15 Februari 2021, patut kita peringati dengan hormat momen satu abad sang begawan sejarah, Sartono Kartodirdjo

Manuel Kaisiepo
Manuel Kaisiepo
Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia 2000–2004
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.