Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Jakob Oetama

Hasyim Wahid: Dari Metallica hingga Metalurgi

Sudah cukup lama saya tidak berkontak dengan Hasyim Wahid, karena ia sulit sekali dihubungi. Tiga nomor teleponnya seperti tak berfungsi. Maka ketika berbincang empat...

In Memoriam Dr. Hj Reni Marlinawati

Dunia pesantren bersorak! Pasalnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan RUU Pesantren, Selasa (24/9/2019) lalu. Bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), RUU ini amat sangat...

Bro Aji, Kami Tertunduk Duka

Tubuhnya jangkung. Matanya selalu menatap tajam. Bicaranya tertata baik, ada aliran emosi pada setiap kalimat yang dia pilih. Dia bukan sosok yang suka pada...

Ajip: Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman

Saya mengenal langsung Kang Ajip Rosidi ketika sastrawan/budayawan itu menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ 1972-1981) pada usianya yang ke 34. Pengarang asli Sunda kelahiran...
Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.

“Kompas kehilangan kompas,” barangkali itu frasa yang tepat untuk mendeskripsikan wafatnya Jakob Oetama. Bersama P.K. Ojong, Pak Jakob telah menjadi sumber arah bagi perjalanan Kompas (juga kelompok usaha Gramedia dan lainnya). Kompas menjadi ladang subur bagi persemaian pemikiran kebangsaan, kemanusiaan, dan pengetahuan. Bahasa yang dipakai jauh dari diksi meledak tanpa nyawa, namun santun, damai, dan bermakna. Kompas selalu memilih kedalaman, bukan kontroversi murahan.

Itu sebabnya Kompas selalu menjadi rujukan bagi para cendekia sebagai bacaan harian. Saya sendiri beruntung sejak kecil (nyaris 40 tahun silam) punya kesempatan ini karena (alm) Bapak melanggan Kompas (juga koran dan majalah lain). Meski kami tinggal di desa di kabupaten kecil (Ponorogo, Jatim), tapi Bapak punya prinsip: pengetahuan (informasi) wajib menjadi panglima kehidupan. Kerangka itu lantas memandu kebijakan alokasi anggaran keluarga: koran lebih utama dari perhiasan.

Bagi kaum intelektual, Kompas tak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga tujuan tulisan. Secara bawah sadar terdapat “konsensus”: belum absah menjadi akademisi atau kolumnis bila tak mampu menembus Kompas. Itu pula yang menjadi obsesi saya sejak masa SMA.

Akhirnya, pada masa kuliah artikel/resensi bisa dipublikasikan. Setelah itu, rasanya hidup saya menjadi tak terpisah dari Kompas: lebih dari 100 artikel sudah mengisi ruang opini Kompas. Bahkan, pernah 3 tahun diminta menjadi kolumnis ekonomi tetap. Utang budi yang tak terkira.

Sejak lulus kuliah itu pula saya berinteraksi dengan para awak Kompas: wartawan, staf redaksi, redaktur, pemimpin redaksi. Wawancara intensif kerap kami lakukan. Saya beberapa kali diundang sebagai penyaji Diskusi Ahli Kompas (bisa berlangsung 5 jam nonstop, dengan peserta awak Kompas). Bukan cuma diskusinya yang asik, tapi juga makananannya yang legit. Keluarga besar Kompas punya lelaku yang sama: sahaja, ramah, dan pintar. Rasanya, itu semua terbentuk karena karakter Jakob Oetama.

John Maxwell punya ungkapan bagus soal pemimpin: “The pessimist complains about the wind. The optimist expects it to change. The leader adjusts the sails.” Itulah yang dikerjakan Pak Jakob sepanjang hayatnya. Dia mengarahkan layar tidak dengan teriak atau bentak, tapi lewat visi dan kerja suci.

Arah angin diamati dengan cermat, perubahan-perubahan diproyeksikan dengan terukur, dari situlah layar dikembangkan dan diarahkan. Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Manusia utama yang telah menjelma menjadi suluh bangsa.

Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.