Senin, Maret 8, 2021

En Kowe, Daru Priyambodo

Rahmat Jalaluddin Rakhmat

Jalaluddin Rakhmat yakin bahwa Gus Dur adalah seorang yang menguasai ilmu laduni -- pengetahuan yang didapat seseorang tanpa melalui proses belajar. Bagaimana ia bisa...

In Memoriam Dr. Hj Reni Marlinawati

Dunia pesantren bersorak! Pasalnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan RUU Pesantren, Selasa (24/9/2019) lalu. Bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), RUU ini amat sangat...

Jakob Oetama

"Kompas kehilangan kompas," barangkali itu frasa yang tepat untuk mendeskripsikan wafatnya Jakob Oetama. Bersama P.K. Ojong, Pak Jakob telah menjadi sumber arah bagi perjalanan...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...
Hamid Basyaib
Aktivis dan mantan wartawan; menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.

Sebagai rekdaktur halaman opini Berita Buana, Daru Priyambodo memuat tulisan pertama yang saya kirimkan ke koran itu, tentang terpilihnya Bill Clinton sebagai presiden Amerika Serikat (1992). Saya gembira ia memasangnya sebagai artikel utama. Ia menceritakan hal ini lebih dari setahun kemudian, ketika kami berkenalan dan menjadi kolega di harian Republika.

Badannya tinggi dan tegap. Suaranya kurang mewakili posturnya yang mengesankan itu. Sikap, keramahan dan kekocakannya yang cerdas semakin melunakkan keangkeran sosoknya. Meski tak pernah terkesan ingin dipandang sebagai intelektual, ia selalu menunjukkan secara alami semangat, minat dan kejernihan akademisnya dalam melihat banyak hal.

Menyenangkan melihat spirit keilmuannya sebagai mantan dosen Sosiologi Universitas Airlangga tak pernah pudar. Tampaknya bagi Daru jurnalistik adalah perpanjangan langsung — atau ekspresi popular — dari etos, etik dan aktualisasi pemikiran akademis.
Barangkali ia sepakat dengan Philip Graham (Washington Post, Newsweek) bahwa jurnalisme adalah rancangan awal sejarah (the first draft of history). Ia lebih banyak mengungkapkan prinsip ini dengan tindakannya, dan kurang menularkannya kepada rekan-rekan juniornya dengan perkataan.

Tapi menggeluti kerja jurnalistik bersamanya membuat kepercayaan kita pulih tentang berharganya kerja menulis potongan-potongan sejarah setiap hari, setiap pekan, setiap bulan.

Seperti kebanyakan intelektual, ia menyimpan energi humor dan memeliharanya dengan rapi. Perbedaannya dengan kebanyakan orang jenaka lain: ia mampu merumuskan kejenakaan dengan ringkas, padat dan mengena. Di Republika, semua sepakat bahwa ia penulis terbaik ruang pojok berisi satir pendek, yang biasa memuat sindiran tajam-cerdas tentang situasi aktual, umumnya di arena politik.

Sore tadi, entah dalam konteks apa, saya menceritakan sebuah karya Daru yang paling saya ingat kepada A.S Laksana dalam obrolan di rumah. Ceritanya, di sekitar tahun 1995, ada peristiwa pelarangan oleh Kedubes RI di Belanda terhadap suatu kegiatan warga Indonesia di negeri itu. Daru menuliskan komentarnya di rubrik pojok Republika: “En kowe di negeri orang masih suka main larang, heh?!”

Itu baris yang sangat kocak dan substansinya tepat. Kita paham bahwa Daru meminjam fraseologi klise itu dari film, sinetron dan komik silat yang berisi adegan polisi kolonial sedang menekan pejuang kemerdekaan di negeri kita. Memang terlalu sering budaya pop kita memotret polisi kompeni dengan ungkapan standar yang didahului dengan “en kowe”, dan diakhirnya dengan “heh?!”

Para sutradara dan pengarang cerita tidak pernah mampu menyajikan kegarangan penjajah dengan cara yang lebih cerdas. Jadi, selain mengkritik kedubes RI di Belanda dengan kocak, Daru sekaligus menyentil kemiskinan ekspresi para pembuat film, sinetron dan komik — suatu “en kowe” yang sering juga muncul di drama pendek dalam perayaan 17 Agustusan di kampung-kampung.

Ketika menceritakan hal itu kepada Sulak dengan geli, saya tidak tahu bahwa pagi harinya, sekitar pukul 9, penulis “en kowe” itu telah menutup mata selama-lamanya, di rumahnya di Cibubur. Kabar itu seketika menghapus sisa rasa geli kami.

Daru pergi dalam usia tepat 57 tahun 4 bulan (12 Agustus 1963 – 12 Desember 2020). Saya akan terus mengenangnya sebagai wartawan yang, dengan cara khasnya sendiri, berusaha menempatkan jurnalisme di tempat yang sama terhormatnya dengan semua ikhtiar intelektual lain — dan saya tahu ia tidak gagal.

Hamid Basyaib
Aktivis dan mantan wartawan; menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.