Miangas

    263

    Miangas, pulau paling utara Indonesia. Geo Times/ Farid Gaban
    Miangas, pulau paling utara Indonesia. [GEOTIMES/ Farid Gaban]
    Meski usinya telah 78 tahun, Samuel Namere masih sehat. Masih kuat pula ingatannya akan sejarah Miangas, pulau tempat dia lahir dan kini masih ditinggalinya.

    “Saya senang, kini bandara yang sudah lama dijanjikan mulai dibangun,” kata Samuel. “Saya mungkin tidak akan bisa menikmatinya. Anak cucu saya yang akan menikmatinya.”

    Miangas adalah satu dari 90-an pulau terluar Indonesia. Pulau Indonesia paling utara ini berbatasan dengan Mindanao, Filipina. Saya mengunjunginya pekan lalu. Miangas telah banyak berubah sejak kali pertama saya kunjungi lima tahun lalu.

    Sebuah proyek besar tengah dirampungkan. Yakni proyek bandar udara, yang pembangunannya dimulai pada 2013. Landas pacu sepanjang 1.400 meter, hampir sepanjang pulau kecil ini dari ujung ke ujung, sudah jadi. Tapi, pembangunan gedung apron dan terminal belum dimulai.

    Jika bandara itu jadi, keterpencilan Miangas akan terkurangi. Sebab, baik dalam jarak maupun sejarah, Miangas lebih dekat Filipina ketimbang Indonesia. Dari perbukitan Miangas, daratan Mindanao di Filipina tampak ketika langit cerah. Banyak orang Miangas ataupun Mindanao berkerabat jauh, atau setidaknya saling berhubungan dagang sejak lama.

    Pada masa kolonial, Miangas pernah diperebutkan oleh Belanda dan Spanyol (penjajah Filipina). Spanyol menyebut pulau ini sebagai Las Palmas atau Pulau Kelapa. Namun, arbitrase internasional memenangkan Belanda karena terbukti penduduk Miangas berbahasa Talaud, seperti halnya penduduk pulau-pulau terdekat yang dikuasai Belanda.

    Hubungan informal kedua pulau tetap berjalan lama setelah Indonesia merdeka. Samuel Namere masih ingat betul sering diajak bepergian ke Davos oleh orang tuanya. Orang Miangas membawa kelapa dan anyaman tikar dan menukarkannya dengan beras dari Davos. “Tidak pakai uang. Sistemnya barter,” kata Samuel.

    Orang juga bebas lalu-lalang ke dua pulau itu tanpa surat resmi, apalagi paspor. “Namun, sejak 1955, batas negara dipertegas,” kata Samuel. “Orang Miangas yang pergi ke Mindanao ditangkap jika tak memiliki dokumen resmi.”

    Miangas kini merupakan bagian dari Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara, yang wilayahnya lebih luas laut ketimbang daratan. Ia satu dari lima pulau besar yang berpenghuni. Pulau terbesar adalah Karakelang, tempat Melonguane, ibu kota kabupaten. Pulau ini telah memiliki bandara yang bahkan melayani rute dari dan ke Jakarta via Manado.

    Namun, Karakelang dan Miangas tetap terasa jauh, bahkan hingga pekan lalu ketika saya berkunjung. Kita harus naik kapal perintis dengan siklus sepekan sekali, berhenti hampir di tiap pulau, menunggu bongkar-muat barang kebutuhan.

    Pelayaran perintis ke Miangas dimulai pada 1980-an. “Sekarang jauh lebih baik, seminggu sekali,” kata Samuel. “Dulu bahkan tiga bulan sekali.” Sebelum itu, Samuel, seorang guru, mengaku harus mengambil gajinya ke Lirung, pulau terbesar kedua, setahun sekali!

    “Saya senang, kini ada bandara,” kata Samuel.

    Tapi, apa sebenarnya makna terpenting bandara itu bagi Miangas atau pulau-pulau terpencil sepertinya?

    Banyak warga pulau terpencil harus mengeluarkan biaya hidup lebih tinggi akibat minimnya infrastruktur yang membuat harga kebutuhan pokok menjadi mahal.

    Pembangunan infrastruktur fisik saja, seperti bandara dan dermaga, tak akan cukup. Sangat penting pula kapal yang lebih sering berlayar serta manajemen pelabuhan yang lebih baik untuk mengangkut barang ataupun penumpang.

    Pembangunan infrastruktur juga tidak layak untuk dimaksudkan semata demi perluasan bisnis serta investasi komersial. Bandara di Miangas tidak mungkin beroperasi komersial, kecuali menjadi simpul penerbangan Manado – Davos, misalnya. Itu pun kecil potensinya.

    Miangas bukan pulau besar dan penduduknya cuma 700 orang. Selain perikanan tradisional dan perkebunan kelapa, hampir tak ada peluang bisnis. Bahkan bisnis wisata bahari juga kecil prospeknya: orang harus berlayar tujuh jam dari Miangas ke gugus kepulauan Nanusa yang memiliki terumbu karang cukup bagus.

    Satu-satunya investasi yang paling masuk akal adalah investasi pertahanan dan keamanan. Bandara yang telah dibangun sebaiknya dijadikan bagian dari pangkalan militer yang diperluas. Juga pos pemantauan dan pengamatan penjarahan ikan, misalnya.

    Investasi bagi Miangas adalah investasi menjadikannya gerbang kedaulatan negeri paling utara.

    Komentar anda