Mari Lenyap di Alam

161
Taman Nasional Pulau Komodo, Komodo Island National Park of Indonesia, Flores

Christopher McCandless mencampakkan kehidupan modern yang dinilainya hipokrit untuk menemukan kedamaian dalam hidup primitif di alam. Kisahnya diangkat ke dalam film “Into The Wild” (2007) yang disutradari Sean Penn.

“Into The Wild” adalah kisah getir seorang anak manusia. Mahasiswa Amerika yang pintar dan datang dari keluarga kaya itu memutuskan membuang semua benda miliknya, uang, mobil dan bahkan identitas pribadinya. Lalu dia berkelana dan hidup menggelandang ke Alaska, tempat dia menemukan ajalnya.

Saya tidak sebegitu getir memandang kehidupan modern. Bahkan menikmati dengan khusyuk sebagian aspek kehidupan gemerlap perkotaan. Tapi, bagi saya, McCandless adalah pahlawan untuk satu hal yang mudah dikatakan namun sulit dilakukan banyak orang: yakni melepaskan ego “somebody” dan memilih lenyap lebur menjadi “nobody”.

McCandless adalah salah satu sumber inspirasi saya ketika keliling Indonesia bersepeda motor tujuh tahun silam. Sumber inpirasi lain: Che Guevara, Fazham Fadlil, dan Alfred Wallace.

Dalam motifnya yang lain, Ernesto Che Guevara, seorang anak manis mahasiswa kedokteran yang sakit-sakitan, memilih mengembara sepanjang Amerika Latin. Melalui film “The Motorcycle Diaries”, kita bisa melihat Che, bersama Alberto Granado, mengarungi jarak 8.000 km bersepeda motor mengarungi Amerika Selatan.

Perjalanan itu memperkenalkan Che kepada kemiskinan dan penderitaan rakyat banyak yang belakangan mengubah dirinya menjadi pejuang revolusioner yang mengguncang dunia. Namanya menjadi ikon pejuang Marxist yang masih harum namanya sampai sekarang, puluhan tahun setelah kematiannya.

Seperti McCandless dalam “Into The Wild” dan Che dalam “The Motorcycle Diaries”, Fazham Fadlil mencampakkan kehidupan nyaman 20 tahun di New York, untuk kembali ke kampung halamannya, di Kepulauan Riau, menggunakan kapal layar kecil melintasi Samudra Pasifik. Sendirian saja!

Fadlil juga pahlawan bagi saya untuk keberanian dan sepertinya menikmati perjalanan solitair, dalam kesunyian.

Lebih dari sekadar perjalanan, jika kita ingin meyakinkan diri bahwa “nenek-moyang kita bangsa pelaut”, Fadlil mungkin satu dari sedikit saja bukti dan pewaris sah dari ungkapan itu yang masih hidup kini.

Pengetahuan Fadlil tentang kapal, navigasi laut, keberanian dan fisolofinya tentang laut memperkuat motivasi saya, anak gunung, untuk menggali pengetahuan lebih banyak tentang laut Kepulauan Indonesia atau Nusantara.

Kepulauan Nusantara adalah judul buku terjemahan karya Alfred Wallace (1823-1913), seorang pengamat alam asal Inggris. Judul asli buku itu “The Malay Archipelago”, terbit pertama kali 140 tahun lalu, dan terus diterbitkan hingga sekarang, menjadikannya salah satu buku klasik terpenting.

Wallace adalah pahlawan saya yang lain, seorang pengembara yang meninggalkan kehidupan mapan di Inggris untuk meneliti alam serta flora-fauna Indonesia.

Buku itu merupakan buah perjalanan Wallace selama delapan tahun mengunjungi pulaupulau Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan (Borneo), Sulawesi, Maluku dan Papua. Tak berlebihan menyebut buku ini buku terpenting tentang sejarah alam dan manusia Indonesia yang paling lengkap sampai sekarang.

Wallace tak hanya menulis tentang tumbuhan dan hewan. Dia juga membahas adat istiadat serta dinamika politik-ekonomi Hindia di bawah kolonialisme Belanda Abad ke-16.

Saya tak sepenuhnya setuju dengan pandangan Wallace, yang kadang berbau rasis dan terlalu memuji Pemerintahan Hindia Belanda. Namun, membaca karya Wallace membuat kita menyadari, atau mengingat kembali, tentang kekayaan dan keragaman tak hanya flora-fauna tapi juga adat, suku dan manusia Nusantara. Itulah kesadaran yang menjadi landasan penting bagi kehidupan bangsa kita sekarang dan di masa mendatang.

Keragaman yang ditekankan oleh Wallace mendorong tak hanya pada bagaimana seharusnya kita melestarikan alam Indonesia, yang sekarang sebagian telah rusak, tapi juga pada bagaimana kita mengelola negeri yang sekarang sedang mengalami krisis ini secara sosial, ekonomi dan politik.

Kefasihan Wallace dalam reportasenya tentang alam-manusia Indonesia, rasa frustrasi Christopher McCandless akan modernitas semu, kepekaan sosial Che Guevara, dan kegilaan Fazham Fadlil mewakili kerinduan hakiki kita untuk senantiasa mencari makna hidup. Makna yang sebagian tergerus dalam kehidupan rutin dan mapan kota-kota yang gemerlap.***

Komentar anda