Rabu, Maret 3, 2021

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Pengumuman Pemenang Lomba Esai Teman Rakyat Bertema RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Setelah melakukan kurasi dan membaca naskah yang masuk, redaksi Geotimes memutuskan memilih tiga orang pemenang. Redaksi dan panitia memutuskan untuk mengganti pemenang view terbanyak...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...
Redaksi
Redaksi
  • Rifa Rosydiana Ratal

  • SMAN 24 Jakarta

Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020

Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai irama di dalam sebuah nada sejatinya berbeda. Mereka memiliki ciri khasnya masing-masing. Makna yang dikeluarkan olehnya turut berbeda. Namun, mereka bisa membangun keharmonisan yang tentram. Ketika berbagai warna di poleskan di atas kertas menciptakan lukisan yang menakjubkan. Ketika nada-nada itu disusun rapih menciptakan senandung lagu. Ketika seorang pelukis membubuhkan bermacam warna, ketika pianis menekan nada yang berirama. Mereka bersatu padu memberikan makna dan suka cita. Begitu juga dengan keberagaman bangsa yang terjalin dapat menumbuhkan kehidupan yang penuh warna, nada, dan juga makna.

Keberagaman adalah perbedaan yang timbul dalam berbagai aspek kehidupan. Ketidakselarasan itu muncul karena disebabkan oleh berbagai cara dalam mengimplementasikan kehidupanya yang berbeda-beda pada setiap orang, baik individu ataupun kelompok. Dilansir dari indonesia.go.id bahwa Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air.

Ketika mendengar kata ‘Keberagaman’ yang terlintas di dalam pikiran ialah sebuah perbedaan yang terjadi pada suatu suku, budaya, agama, ras dan adat istiadat.  Keberagaman tidak hanya berbicara hal tersebut. Setiap perbedaan yang terjadi di lingkungan masyarakat, baik itu dalam kurva besar maupun kurva kecil juga termasuk ke dalam keberagaman.

Indonesia merupakan negara yang memiliki kontras beragam. Mulai dari kontras yang gelap hingga kontras yang terang. Seperti kontras yang terjadi pada warna kulit penduduk Indonesia. Mulai dari penduduk yang berkulit putih hingga berkulit hitam. Indonesia mudah dikenal oleh dunia karena terdapat warna yang hidup di dalamnya. Indonesia bukan semata negara yang hanya memiliki 10 warna, melainkan banyaknya warna dengan kontras dan cahaya yang berbeda. Artinya, Indonesia bukanlah bangsa yang hanya menyimpan sepuluh keberagaman, namun Indonesia merupakan bangsa yang menyimpan kekayaan akan keberagaman.

Bentuk keberagaman yang terjadi di indonesia dapat dilihat dari segi bahasa, agama, dan budaya. Berdasarkan situs tirto.id, Indonesia memiliki 625 bahasa daerah pada tahun 2018. Hal ini menunjukan bahwa di setiap sudut daerah Indonesia memiliki keberagaman dalam penggunaan bahasa daerah. Papua menjadi pemenang dalam memiliki bahasa daerah terbanyak, yaitu sekitar 400-an bahasa.

Pada umumnya, orang-orang hanya mengenal dengan sebutan bahasa Papua. Padahal, bahasa Papua memiliki cabang bahasa daerah yang beragam di dalamnya seperti bahasa Aabinomin, bahasa Abrab, bahasa Abun, bahasa Adagum, bahasa Air Matoa dan masih banyak lagi. Walaupun bahasa yang digunakanya itu memiliki makna yang berbeda-beda, tetapi selalu ada yang menyatukanya yaitu bahasa Indonesia.

Begitu juga halnya dengan warna. Warna adalah keberagaman yang terjalin. Pada dasarnya hanya terdapat tiga warna utama yang disebut sebagai warna primer. Kemudian, dari penggabungan dua warna primer menghasilkan berbagai macam warna yang saling bergradasi. Bangsa Indonesia memiliki banyak budaya asli yang berasal dari nenek moyangnya.

Ketika suatu budaya menjalin hubungan dengan budaya lainya hingga membentuk budaya baru, maka munculah istilah akulturasi. Pada penggabungan budaya tersebut tidak menghilangkan unsur keaslian budaya asalnya, hanya saja membentuk suatu budaya baru. Contoh umum yang sering kita jumpai terdapat pada gaya busana. Motif batik kini sudah menjadi style busana modern. Banyak tokoh publik mengenakan busana modern yang dihiasi oleh motif batik. Busana batik modern tidak hanya dikenal di Indonesia, bahkan kini mulai dilirik oleh dunia.

Bagaikan sederet warna yang digorekan di atas kertas. Apabila warna yang digoreskan di atas kertas itu berbeda-beda, maka akan menghasilkan suatu corak yang indah dan menarik. Warna tersebut memberi makna yang hidup, bukan meredup, justru memberi kesan yang bersatu dan beradu padu. Sama seperti budaya leluhur Indonesia. Tradisi budaya yang ada di Indonesia bukanlah sekedar  kulturisasi, melainkan pada setiap tradisi memiliki makna yang berarti. Makna itulah yang membimbing manusia hidup sampai ke detik ini.

Tetapi, jika hanya menggoreskan dengan satu warna saja, maka tidak akan ada kesan yang begitu indah dan menarik, yang ada hanya membosankan dan mudah diabaikan. Makna yang terbentuk pun juga belum bisa tersampaikan. Kertas dengan satu warna tak ada kesan yang begitu mengena bagi siapa saja yang melihatnya.

Warna itu adalah keberagaman. Jika di dunia ini hanya memiliki satu corak warna, maka tidak akan ada yang bisa mencari pembeda antara satu dengan yang lainya. Indonesia dihuni oleh berbagai pengikut agama. Indonesia memang bermayoritas agama islam, tetapi tidak memungkiri agama lainya untuk tetap tinggal dan bertahan. Ada lima bentuk agama yang hidup di Indonesia yaitu Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu. Bentuk agama sama dengan bentuk warna. Mereka berbeda tetapi bisa hidup berdampingan menciptakan lingkungan yang penuh ketentraman.

Jika tidak adanya keberagaman pada suatu bangsa, maka bangsa itu hanya akan menjadi miskin. Mengapa demikian? Karena jika tidak adanya suatu keberagaman, maka tidak ada hal yang bisa diperkenalkan keluar, tidak ada yang dapat dilihat, dirasakan, dan dinikmati, tidak pula mempunyai ciri khas yang dapat membedakanya, tidak ada kontras yang menghidupkan bangsanya, tidak ada corak yang mengkhaskan bangsanya, tidak ada alunan yang mengiringi berdirinya bangsa, tidak ada. Bangsa itu akan menjadi hampa dalam kesepian karena tak ada keberagaman yang diciptakan.

Keberagaman di Indonesia bagaikan nada-nada yang berbeda namun tersusun rapih, sehingga menghasilkan lantunan bunyi yang elok untuk didengar. Ketika mendengarkan nada-nada itu dengan satu persatu, maka akan jelas terdengar bahwa setiap nada memiliki bunyi yang berbeda. Namun, ketika nada itu disatukan dan di susun sedemikian rupa, maka menghasilkan alunan bunyi yang merdu dan sedap didengar. Demikian pula pada keberagaman di Indonesia.

Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya, ras, suku, agama, adat istiadat, dan bahasa. Setiap pembeda itu dijadikan sebagai tali pemersatu. Sehingga, akan terjalin sebuah kehidupan yang harmonis pada bangsanya. Jika perbedaan dijadikan hambatan, tentu bangsa itu akan terpecah-belah dan berantakan.

Nada yang tidak disusun dengan baik pun hanya akan bernilai buruk bagi yang mendengarnya. Begitu pula pada bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman Maka, kehidupanya harus bisa ditata supaya menciptakan ketentraman dan kenyamanan. Perbedaan bukanlah hambatan, justru perbedaan adalah jembatan. Jembatan yang membawa ke dalam persatuan.

Keberagaman bangsa bagaikan warna dan nada yang berbeda-beda. Belajar dari warna dan nada untuk hidup saling bergandengan walau di dalam perbedaan. Keberagaman tidak menghancurkan keserasian, melainkan membangun keharmonisan.

Keberagaman yang baik adalah keberagaman yang mampu menciptakan kerukunan. Saling pengertian dan mengikat toleransi menjadi syarat dalam hubungan perbedaan. Ketika mengenal keberagaman, pasti akan mempelajari cara bertoleransi demi menjaga ketentraman yang mampu membentuk kesatuan lingkungan.

Maka, dari situlah arti kesatuan dan persatuan akan muncul. Jika nada dan warna yang bebeda-beda saja bisa bersatu padu membentuk melodi yang serasi, maka bangsa yang beragam pun juga bisa menjalin hubungan yang baik dalam mengikat keberagaman demi menjaga persatuan dan kesatuan.

Referensi :

Idntimes.com

https://www.idntimes.com/hype/entertainment/amalia-larasanty/idol-k-pop-ini-yang-pakai-batik-c1c2

Labbineka.kemendikbud

https://labbineka.kemdikbud.go.id/bahasa/daftarbahasa

Merdeka.com

https://www.merdeka.com/trending/5-macam-ras-di-indonesia-ketahui-ciri-ciri-dan-persebarannya.html

 

 

 

Redaksi
Redaksi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.