OUR NETWORK

Yahya Waloni, si Ustaz Pansos

Apa jualan Waloni? Menjelek-jelekkan agama terdahulunya. Untuk menutupi kelemahannya dalam ilmu-ilmu agama Islam, ia memainkan kata kasar dalam ceramahnya. Dan lumayan laku.

Saya awalnya enggak paham apa itu pansos…

Lama-lama saya baru tahu kalau pansos itu panjat sosial. Itu istilah milenial untuk artis newbie yang sedang cari nama dengan menyerang artis yang lebih dulu terkenal supaya namanya terkerek. Dan harapan dari kerekan itu ya ketenaran, ujungnya pasti duit.

Dan demam pansos itu juga melanda “ustaz-ustaz” yang niatnya memang cari nama melalui perilaku kontroversial.

Seperti Bahar Smith yang mencoba mengambil peran yang ditinggalkan Rizieq Shihab selama di Saudi. Bahar ceramah dengan model kontroversial supaya bisa sama dengan panutannya. Dan, karena itu, dia bisa mendapat jamaah.

Model ustaz pansos juga dilakukan oleh mantan sales MLM yang menjadi ustaz, Sugik Nur.

Sugik harus membuat “diferensiasi” dalam ceramahnya. Karena itu, dia selalu keluarkan kata-kata sakti seperti “Cuk”, “matamu picek”, “dobol”, dan semacam itu supaya ia bisa terlihat beda dari ustaz lainnya.

Begitu juga yang dilakukan Yahya Waloni.

Yahya Waloni, yang mengaku mantan pendeta dan rektor itu, seorang mualaf. Aneh juga ketika ia sebagai seorang mualaf yang seharusnya masih belajar tentang Islam, malah mengambil posisi sebagai ustaz atau guru. Entah dari mana ilmu agamanya, mungkin dia dapat saat mimpi dan langsung paham semua tentang Islam.

Apa jualannya Waloni?

Ya, apalagi selain menjelek-jelekkan agama terdahulunya. Itu produk unggulannya. Untuk menutupi kelemahannya dalam ilmu-ilmu agama Islam, ia memainkan kata kasar dalam ceramahnya. Dan lumayan laku karena ada orang-orang yang senang dengar ceramah agama melalui kata-kata kasar.

Untuk menaikkan ratingnya, Waloni menyerang Kiai Ma’ruf Amin dan Tuan Guru Bajang dalam ceramahnya. Ini yang disebut pansos, atau panjat sosial supaya namanya bisa terkenal.

Dan ketika ada masalah ceramah Somad tentang salib yang viral,  si Waloni pun tidak mau ketinggalan. Otak marketing-nya bekerja. Kebetulan nama Somad sedang melambung dan banyak jamaahnya.

Ia pun lalu mengambil peran sebagai pembela Somad, dengan menantang orang-orang yang mengkritik Somad. Bahkan Waloni menantang pihak gereja untuk debat dengannya.

Saya sendiri awalnya enggak tahu siapa Waloni ini, dari planet mana dia, dan apa pekerjaan sehari-harinya. Tapi, karena ada beberapa orang yang men-share videonya berkaitan dengan pembelaan Somad dengan nada menantang-nantang, ya mau gak mau saya lihat juga.

Ternyata memang model jualannya begitu. Maki sana maki sini, serang sana serang sini, tunggang sana ditunggangi, eh.

Kadang geli kalau melihat tingkah-tingkah orang seperti ini. Mereka memakai agama untuk mendapat nama. Mereka rela menjual ayat demi materi yang didapat. Ilmu? Entar dulu. Toh, jamaah mereka juga bukan orang berilmu, cuma mantuk-mantuk kayak orang ngantuk. Pas dengar bahasa Arab, langsung “aminnn..,” meski enggak tahu apa maksudnya.

Begitulah fenomena para penjual agama yang besar karena media sosial. Mereka ingin seperti Atta Halilintar dengan model dan pasar yang berbeda. Urusannya hanya “subscriber” dan panggilan ceramah dengan amplop yang–insyaAllah–tebal.

Menyedihkan, memang. Tapi, itulah kenyataan. Kenyataan itu pahit seperti secangkir kopi.

Saya jadi ingat perkataan Rasulullah Saw., dengan nada sedih, “Umatku banyak di akhir zaman. Tapi mereka seperti buih di lautan…”

Seruput dulu ahhhh….

Baca juga

Somad yang Takut Salib

Salib bukan Sekadar Kayu!

Ceramah Salib Somad dan Pentingnya Pemahaman Antar-Iman

Tuhan Tidak Menghendaki Olok-olok

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Denny Siregar
Penulis dan blogger.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…