Rabu, Januari 20, 2021

Waspada, Langkah Terang Amandemen UUD 1945

Anak-Anak Eks ISIS, Iklim Investasi, Islamophobia

Diskusi pemulangan kurang lebih 600 orang WNI Eks ISIS atau ISIS eks WNI, khususnya anak-anak dan perempuan non-kombatan ke Indonesia kian santer dilakukan. Banyak...

Pasukan Oranye dan Krisis Kepemimpinan di Jakarta

Simpati saya kepada para buruh PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) atau yang lebih dikenal dengan Pasukan Oranye. Tugas mereka sebenarnya memelihara prasarana umum:...

Sandiaga Uno dan Erick Thohir, Bintang Pemilu 2024

Cukup lama tak terdengar kiprahnya usai gelaran Pilpres 2019, nama Sandiaga Uno tiba-tiba kembali mencuat. Presiden Jokowi menyebut Sandi sebagai tokoh yang patut diperhitungkan...

Keterlibatan Pemuda Mahasiswa Bersama Kelas Buruh (Bagian Akhir)

Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas bagaimana skema penghisapan yang dicanangkan imperialisme terhadap kelas pekerja. Melanjuti tulisan yang sempat bersambung, saya akan membahas bagaimana...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Beberapa waktu lalu penulis menjelaskan tentang bahaya kudeta merangkak terhadap capaian reformasi. Elite partai politik menggulirkan usulan amandemen terbatas terhadap UUD 1945, untuk dihidupkannya kembali GBHN dan kewenangan MPR menetapkan GBHN.

Sepertinya kekhawatiran tersebut mulai menjadi kenyataan usai pemilihan paket pimpinan MPR yang baru. Indikasinya terlihat jelas dari diakomodasinya semua perwakilan partai politik, dengan menambah kursi menjadi 10 dalam unsur pimpinan MPR.

Terpilihnya Bambang Soesatyo (Bamsoet) sebagai ketua MPR memperkuat dugaan tersebut. Sebelumnya PDIP menyatakan bersedia mendukung dengan syarat Bamsoet setuju amandemen. Begitu terpilih, Bamsoet dalam sidang perdana MPR dengan lugas mengungkapkan pentingnya amandemen.

Hal ini menjadi tanda-tanda terang menuju agenda amandemen, sesuatu yang dapat memicu kembali kericuhan politik. Padahal baru saja DPR menjadi sumber masalah setelah pecah aksi-aksi mahasiswa dan rakyat terkait pengesahan sejumlah RUU bermasalah.

Sebagai catatan, Presiden Jokowi sudah menyatakan menolak usulan amandemen, tetapi parpol-parpol tampaknya tidak mau ambil pusing. Ini seperti mengulang kejadian soal RUU bermasalah, di mana Presiden meminta dihentikan pembahasan tetapi DPR bersikeras untuk terus menggulirkan.

Penulis telah mencermati bahwa amandemen terbatas soal GBHN merupakan pintu masuk menuju perubahan lebih mendasar dalam ketatanegaraan kita. Yaitu mengembalikan proses pemilihan presiden dan wakil presiden kepada MPR, alias merebut hak rakyat untuk memilih pemimpin secara langsung.

Wacana tersebut dilontarkan pula oleh Bamsoet pada Agustus silam, yang berarti menjadikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara dan Presiden sebagai mandataris MPR. Ini sama saja dengan mengembalikan tatanan ke zaman Orde Baru yang telah kita tinggalkan sejak reformasi.

Semakin terang bahwa reformasi benar-benar telah dikorupsi oleh parpol-parpol yang duduk di DPR/MPR, sebagaimana tuduhan mahasiswa dan rakyat dalam gelombang aksi demonstrasi. Maka jangan disalahkan kalau aksi-aksi protes akan kembali meletup di jalanan.

Mahasiswa sendiri mengancam akan kembali turun ke jalan jika tuntutan mereka sebelumnya tidak dipenuhi. Sejumlah survei menunjukkan kuatnya dukungan publik terhadap gerakan mahasiswa, tanpa mengusik soal agenda pelantikan Presiden pada 20 Oktober mendatang.

Bangkitnya kembali gerakan mahasiswa mencerminkan penolakan terhadap menguatnya oligarki dalam perpolitikan kita. Aksi mahasiswa menyuarakan keresahan di tingkat masyarakat terhadap segelintir elite yang mendominasi keputusan-keputusan yang menyangkut hajat publik secara luas.

Sudah saatnya gerakan mahasiswa bangkit setegak-tegaknya. Jangan berhenti hanya pada RUU bermasalah, tapi juga mengawal demokrasi kita secara utuh. Jangan biarkan bangsa ini kembali pada masa-masa kelam Orde Baru. Bergeraklah kembali mahasisiwa Indonesia!

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.