Senin, April 12, 2021

Viral Pria Perusak Motor: Hari Ini Motor, Besok Kepalamu.

Bodoh Tidak Apa-apa

Forrest Gump adalah karakter film yang digambarkan sebagai orang bodoh. Ia tidak mempermasalahkan bila disebut bodoh. “Stupid is as stupid does,” katanya kalau ada...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Pelaksanaan Ritual, Penghidupan Kembali Abangan

Abangan: Pada tahun 1950an, seorang antropolog Amerika melakukan riset di daerah yang diberi nama Mojokuto. Clifford Geertz, nama antropolog itu, kemudian menuliskannya dalam satu...

Kenapa Kadal Gurun Senang Papua Rusuh?

Rusuhnya Papua kemarin membuat beberapa pihak mendadak melonjak senang. Pihak ini, sebut saja kadal gurun. Mereka adalah kelompok agamis yang sudah mengkavling surga bahkan sejak...
Avatar
Miranda Olga
Pernah menempuh studi kriminologi.

Di media sosial, sedang viral video seorang laki-laki usia 20 tahunan yang merusak motor pacarnya karena tidak terima ditilang oleh polisi. Lokasinya ada di sekitar Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan, yang memang sering menjadi tempat operasi polisi. Kata polisi, sepasang kekasih ini melawan arus, tidak mengenakan helm, dan tidak membawa surat-surat berkendara. Dari total 700 lebih pelanggar lalu lintas yang ditangani kepolisian lalu lintas di kota tersebut, satu ini saja yang viral karena si laki-laki malah mengamuk dengan membalikkan motor pacarnya, mengelupas bodynya, bahkan memukulnya dengan batu.

Disadari atau tidak, orang yang sedang marah (kalau tidak mau disebut ngambek karena khawatir mengerdilkan emosinya) kerap diberi hak istimewa. Karena diliputi kemarahan, tiba-tiba seseorang berhak menerima apa yang dia tuntut atau diizinkan melanggar apa yang sudah ditetapkan. Katanya, karena yang waras yang mengalah. Kalau kemarahan yang menjadi-jadi itu sudah nampak tidak waras, kok ya masih saja mau dibiarkan? Tidak bisa begitu, dong! Alih-alih menciptakan pengertian, sering juga kita malah mencari alasan pada sikap marah yang sebenarnya tidak wajar. Padahal, risiko berhadapan dengan orang seperti itu sangat besar.

Mungkin dia orang sana, cuma mau sebentar keluar jadi tidak bawa apa-apa dan lawan arus.

Mungkin dia habis bertengkar sama pacarnya, makanya sampai mengamuk begitu.

Mungkin polisinya bicara dengan kasar, jadi dia tersulut emosinya.

Mungkin pacarnya yang suruh dia lewat situ.

Mungkin dia mood swing.

Mungkin dia lapar.

Kalau mau dicari, banyak alasan yang bisa dispekulasi di balik mengamuknya si laki-laki itu. Mulai dari alasan yang remeh sampai diagnosis keadaan psikologis. Namun, mari kita pindah perhatian sejenak: bagaimana dengan pasangannya?

Dalam video, kita bisa mendengar suara seorang perempuan yang memanggil-manggil si perusak motor dengan pilu. Sebelum berjalan menjauh, dia sempat hampir tertimpa motor miliknya sendiri—digosipkan belum lunas–yang dibalikkan begitu saja. Apabila di tempat umum seseorang berani mengekspresikan marahnya hingga sedemikian rupa, menurutmu, apa yang potensial terjadi ketika dia marah di ruang yang lebih pribadi? Apa yang mungkin terjadi pada pasangannya?

Saya enggan berspekulasi tentang hubungan antara Mas dan Mbak yang ada dalam video. Namun, untung saja si Mbak masih pacar dan walikotanya bukan Hengky Kurniawan, ya. Nanti malah disuruh masuk Sekolah Ibu agar belajar menahan emosi ketika menghadapi pasangan yang seperti itu. Belum lagi disalahkan karena tidak berfungsi sebagai pasangan yang selayaknya, sebab “tidak mengingatkan” untuk bawa surat-surat, pakai helm, dan jangan lawan arah. Nanti ditanya-tanya masyarakat, Sayang tidak sih sama suaminya, kok tega dibiarkan berkendara seperti itu?

Terlepas dari si video viral, tentu saya berharap seluruh orang, tidak terbatas pada laki-laki atau perempuan, untuk tidak terperangkap dalam hubungan dengan pasangan yang punya kebiasaan menghancurkan barang hingga di luar batas kewajaran.

Dalam menyalurkan marah, ada beda antara menghancurkan barang dengan berolahraga habis-habisan (yang mana bisa dikatakan “menghancurkan” tubuh). Menurut professor psikiatri klinis asal New York, dr. Gail Saltz, sensasi menghancurkan barang ada pada kedekatannya dengan fantasi yang sesungguhnya ada di kepala. “It comes closer to their fantasy. It’s not the (random punching) bag; it’s their husband’s head,” kata Saltz.

Pernyataan itu keluar dalam konteks bisnis anger room, yakni jasa ruang marah di mana pelanggan bisa menghancurkan barang sesukanya. Saltz menambahkan, meski perasaan bisa lega saat menghancurkan barang dengan sengaja, berikutnya akan menjadi sulit bagi orang itu untuk menahan keingin impulsifnya menghancurkan apa yang sesungguhnya ingin dia hancurkan: sumber kemarahannya, bisa jadi berbentuk makhluk hidup.

Jadi, ketika kamu ribut dengan pasanganmu dan dia marah lalu memukul tembok, bukan tidak mungkin sebenarnya kamulah yang ingin dia pukul. Dan kamu tidak perlu menunggu sampai kamu sendiri yang jadi korbannya.

Tidak perlu mencari-cari alasan atas suatu kebiasaan buruk, terutama yang berkaitan dengan marah. Jangan berikan hak istimewa kepada orang-orang yang marah. Ketika kamu memutuskan untuk menjalani hubungan yang serius dengan seseorang, tanya pada dirimu sendiri, apakah kamu pernah melihatnya marah dan yakin siap menghadapinya? Ini sudah bukan lagi urusan yang waras yang mengalah. Marah adalah emosi yang lebih mudah diambil, karena sakitnya lebih sedikit dibading sedih atau kecewa. Oleh sebab itu, cara seseorang marah perlu diperhatikan dengan baik guna mengantisipasi kekerasan dalam pacaran, bahkan rumah tangga. Manusia, termasuk kamu, lahir bukan untuk jadi sansak.

Avatar
Miranda Olga
Pernah menempuh studi kriminologi.
Berita sebelumnyaPaperless Culture
Berita berikutnyaRamai-Ramai Tolak RUU Permusikan?
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.