Kamis, Maret 4, 2021

Viral Pria Perusak Motor: Hari Ini Motor, Besok Kepalamu.

Ilusi 7.000 Triliun Para Pendukung Jokowi

Sejak beberapa waktu lalu, linimasa Facebook saya diisi oleh "berita" bahwa Presiden Jokowi akan menyita 7.000 triliun milik 84 warga Indonesia yang disimpan di...

Bahaya Pendakian Bersyariah di Gunung Rinjani

Proyek ‘wisata halal’ yang dicetuskan gubernur Nusa Tenggara Barat menyasar hingga jauh ke Puncak Gunung Rinjani. Melintasi padang sabana Sembalun hingga Plawangan Sembalun. Mendaki...

Ibu Bernama Ani Yudhoyono

Ingatan saya tentang Ibu ani adalah tentang ibu kebanyakan. Sebelum menjadi istri seorang presiden, sebelum menjadi anak seorang jendral, ia adalah manusia, dan seperti...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...
Avatar
Miranda Olga
Pernah menempuh studi kriminologi.

Di media sosial, sedang viral video seorang laki-laki usia 20 tahunan yang merusak motor pacarnya karena tidak terima ditilang oleh polisi. Lokasinya ada di sekitar Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan, yang memang sering menjadi tempat operasi polisi. Kata polisi, sepasang kekasih ini melawan arus, tidak mengenakan helm, dan tidak membawa surat-surat berkendara. Dari total 700 lebih pelanggar lalu lintas yang ditangani kepolisian lalu lintas di kota tersebut, satu ini saja yang viral karena si laki-laki malah mengamuk dengan membalikkan motor pacarnya, mengelupas bodynya, bahkan memukulnya dengan batu.

Disadari atau tidak, orang yang sedang marah (kalau tidak mau disebut ngambek karena khawatir mengerdilkan emosinya) kerap diberi hak istimewa. Karena diliputi kemarahan, tiba-tiba seseorang berhak menerima apa yang dia tuntut atau diizinkan melanggar apa yang sudah ditetapkan. Katanya, karena yang waras yang mengalah. Kalau kemarahan yang menjadi-jadi itu sudah nampak tidak waras, kok ya masih saja mau dibiarkan? Tidak bisa begitu, dong! Alih-alih menciptakan pengertian, sering juga kita malah mencari alasan pada sikap marah yang sebenarnya tidak wajar. Padahal, risiko berhadapan dengan orang seperti itu sangat besar.

Mungkin dia orang sana, cuma mau sebentar keluar jadi tidak bawa apa-apa dan lawan arus.

Mungkin dia habis bertengkar sama pacarnya, makanya sampai mengamuk begitu.

Mungkin polisinya bicara dengan kasar, jadi dia tersulut emosinya.

Mungkin pacarnya yang suruh dia lewat situ.

Mungkin dia mood swing.

Mungkin dia lapar.

Kalau mau dicari, banyak alasan yang bisa dispekulasi di balik mengamuknya si laki-laki itu. Mulai dari alasan yang remeh sampai diagnosis keadaan psikologis. Namun, mari kita pindah perhatian sejenak: bagaimana dengan pasangannya?

Dalam video, kita bisa mendengar suara seorang perempuan yang memanggil-manggil si perusak motor dengan pilu. Sebelum berjalan menjauh, dia sempat hampir tertimpa motor miliknya sendiri—digosipkan belum lunas–yang dibalikkan begitu saja. Apabila di tempat umum seseorang berani mengekspresikan marahnya hingga sedemikian rupa, menurutmu, apa yang potensial terjadi ketika dia marah di ruang yang lebih pribadi? Apa yang mungkin terjadi pada pasangannya?

Saya enggan berspekulasi tentang hubungan antara Mas dan Mbak yang ada dalam video. Namun, untung saja si Mbak masih pacar dan walikotanya bukan Hengky Kurniawan, ya. Nanti malah disuruh masuk Sekolah Ibu agar belajar menahan emosi ketika menghadapi pasangan yang seperti itu. Belum lagi disalahkan karena tidak berfungsi sebagai pasangan yang selayaknya, sebab “tidak mengingatkan” untuk bawa surat-surat, pakai helm, dan jangan lawan arah. Nanti ditanya-tanya masyarakat, Sayang tidak sih sama suaminya, kok tega dibiarkan berkendara seperti itu?

Terlepas dari si video viral, tentu saya berharap seluruh orang, tidak terbatas pada laki-laki atau perempuan, untuk tidak terperangkap dalam hubungan dengan pasangan yang punya kebiasaan menghancurkan barang hingga di luar batas kewajaran.

Dalam menyalurkan marah, ada beda antara menghancurkan barang dengan berolahraga habis-habisan (yang mana bisa dikatakan “menghancurkan” tubuh). Menurut professor psikiatri klinis asal New York, dr. Gail Saltz, sensasi menghancurkan barang ada pada kedekatannya dengan fantasi yang sesungguhnya ada di kepala. “It comes closer to their fantasy. It’s not the (random punching) bag; it’s their husband’s head,” kata Saltz.

Pernyataan itu keluar dalam konteks bisnis anger room, yakni jasa ruang marah di mana pelanggan bisa menghancurkan barang sesukanya. Saltz menambahkan, meski perasaan bisa lega saat menghancurkan barang dengan sengaja, berikutnya akan menjadi sulit bagi orang itu untuk menahan keingin impulsifnya menghancurkan apa yang sesungguhnya ingin dia hancurkan: sumber kemarahannya, bisa jadi berbentuk makhluk hidup.

Jadi, ketika kamu ribut dengan pasanganmu dan dia marah lalu memukul tembok, bukan tidak mungkin sebenarnya kamulah yang ingin dia pukul. Dan kamu tidak perlu menunggu sampai kamu sendiri yang jadi korbannya.

Tidak perlu mencari-cari alasan atas suatu kebiasaan buruk, terutama yang berkaitan dengan marah. Jangan berikan hak istimewa kepada orang-orang yang marah. Ketika kamu memutuskan untuk menjalani hubungan yang serius dengan seseorang, tanya pada dirimu sendiri, apakah kamu pernah melihatnya marah dan yakin siap menghadapinya? Ini sudah bukan lagi urusan yang waras yang mengalah. Marah adalah emosi yang lebih mudah diambil, karena sakitnya lebih sedikit dibading sedih atau kecewa. Oleh sebab itu, cara seseorang marah perlu diperhatikan dengan baik guna mengantisipasi kekerasan dalam pacaran, bahkan rumah tangga. Manusia, termasuk kamu, lahir bukan untuk jadi sansak.

Avatar
Miranda Olga
Pernah menempuh studi kriminologi.
Berita sebelumnyaPaperless Culture
Berita berikutnyaRamai-Ramai Tolak RUU Permusikan?
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.