Kamis, Januari 21, 2021

Kalau Minum Starbucks Mendukung LGBT, Apakah Naik Haji Menyumbang Invasi Suriah dan Yaman?

Tekad dari Madura untuk SKK Buya Syafii

Belum lama ini saya menerima tamu asal Sumenep, Madura. Namanya Akhmad Fauzi. Salah seorang peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK ASM)...

Hapuskan Olahraga, Budayakan Merokok

Adakah olahragawan sukses yang merokok? Atau adakah orang yang suka olahraga sekaligus perokok berat? Kayaknya gak ada. Artinya kalau mau mengurangi populasi perokok, salah...

The China Rule dan Aksi People Power

The China Rule. Bukan. Ini bukan soal bangsa China. Dalam bahasa Inggris, China adalah barang-barang yang berhubungan dengan keramik. Piring, mangkok, patung-patung, hiasan dinding,...

Admin Nurhadi-Aldo Tak Sepintar yang Mereka Pikir dan Ini Buktinya.

Ketika malam pergantian tahun 2018 ke 2019 menjelang, saya sibuk sendiri. Jemari ini tidak berhenti mengsap layar telpon pintar. Mata saya menatap layar instagram...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Kanda Guru Ustadz Abdul Somad yang bijak kembali memberikan ilmu kepada kita umat yang minus ini. Jika sebelumnya Ustadz Abdul Somad bercerita tentang keutamaan memiliki hidung mancung, kali ini beliau mengajari bahwa ada jenis kopi yang akan membuat kita masuk neraka, yakni kopi Starbucks. Luar biasa.

Sebagai umat yang ingin memperoleh kebijaksanaan dan juga masuk surga, tentu hal ini sangat penting. Bukan apa-apa, selama ini saya kira masuk surga atau tidak itu hak Allah semata, tapi ternyata Kanda Guru Ustadz Abdul Somad yang bijak juga bisa menyebutkan siapa-siapa saja yang bisa masuk surga atau neraka.

Ini tentu bukan ejekan apalagi sindiran, tapi lebih pada upaya untuk merefleksikan diri. Ustadz Abdul Somad menjelaskan, semua kegiatan punya konsekuensi di akhirat. Apa pun itu. Misalnya: jika kita mengonsumsi kopi Starbucks, yang secara terbuka mendukung gerakan LGBT, maka kita akan berdosa bahkan bukan tak mungkin masuk neraka.

Alur pikirnya begini: dengan kita mengonsumsi kopi atau produk apa pun di Starbucks, perusahaan itu akan memberikan sebagian dari keuntungannya untuk gerakan LGBT. Sebagai muslim, menurut Kanda Guru Abdul Somad, LGBT adalah sesuatu yang berdosa, jadi apa pun yang mendukung gerakan ini adalah dosa, termasuk membeli produk yang secara terbuka mendukung LGBT.

Apakah pikiran ini salah? Tentu saja tidak. Sebagai alur pikir ini sah, apalagi Kanda Guru Abdul Somad ini kan ulama, lulusan Mesir, beda dengan manusia yang bisa salah.

Lantas bagaimana dengan naik haji? Lho apa hubungannya minum kopi yang mendukung LGBT dengan naik haji?

Jadi begini, Kanda Guru. Yaman kan diinvasi oleh Arab Saudi, demikian juga pasukan koalisinya yang merangsek ke Suriah. Menurut laporan DW, Riyadh mengirimkan bantuan senjata dan alat-alat berat untuk kelompok oposisi. Kiriman kendaraan lapis baja dan senapan mesin secara resmi diterima oleh kelompok pemberontak Free Syrian Army, FSA.

Artinya, secara tidak langsung Saudi membuat rakyat Syiria dan Yaman menderita.

Kejauhan, Mas. Kok bawa-bawa naik haji? Memangnya orang yang naik haji mendoakan dan mendukung invasi Yaman? Tentu saja tidak. Tapi dengan naik haji kita ikut membayar kepada pemerintah Arab Saudi. Uang yang mereka terima selama proses haji, mulai dari pajak makanan, penginapan, dan transportasi, dan lain-lain, itu kan menjadi pendapatan negara mereka yang salah satunya dimanfaatkan untuk beli senjata atau membiayai perang?

Lho kan niat kita ibadah, Mas, bukan buat perang.

Kok pada nge-gas?

Sudahlah, kalau kalian tak punya ilmu tinggi seperti Kanda Guru Ustadz Somad mending diam. Karena intinya, beli kopi starbucks itu haram dan masuk neraka karena uang kita dipakai buat dukung LGBT. Sementara naik haji dan menyetor uang kepada pemerintah Arab Saudi itu halal.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.