Jumat, Januari 15, 2021

Ujian Nasional, Diselenggarakan untuk Siapa?

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pencegahan Banjir Jakarta dan Janji Kampanye Gubernur Anies Baswedan

Tak lama setelah Gubernur Anies Baswedan dilantik, Jakarta dilanda banjir yang cukup parah. Sebelum terlalu jauh menyalahkan Anies, kita harus ingat bahwa Jakarta memang...

Kolonialisme Primitif di Papua

Papua tidak pernah ikut dalam arus nasionalisme Indonesia. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Papua tidak ada di sana. Ketika para elite Indonesia, dengan arahan dan...

Film Captain Fantastic: Menjadi Waras dengan Tinggal di Hutan

Captain Fantastic memang telah tayang sejak 2016 dan tak memenangkan penghargaan Oscars, tapi saya pikir film yang memuat banyak kritik sosial ini tetap asyik untuk...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

Kemendikbud baru saja menyelenggarakan ujian serentak yang biasa di sebut Ujian Nasional (UN), untuk para siswa sekolah dasar dan menengah. Banyak berita yang menginformasikan bahwa UN semakin tahun semakin dipersulit, kemudian Kemendikbud menjawab sebabnya adalah agar siswa Indonesia dapat lebih menggunakan nalarnya, dan lebih kompeten sesuai dengan standar internasional.

Pertanyaan saya: mengapa UN dipersulit?

Sebelum jauh-jauh sampai sana, yang paling subtansial adalah Kemendikbud ingin siswa di Indonesia memenuhi standar internasional. Tapi, apakah Kemendikbud sudah bisa memastikan seluruh anak di Indonesia bisa mengikuti Ujian Nasional? Melihat data di tahun 2016, menurut Badan Pusat Statistik terdapat 73 persen anak putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi.

Lalu Kemendikbud melakukan hal tersebut untuk siapa? Seluruh anak di Indonesia ataukah hanya anak-anak yang beruntung secara ekonomi sehingga dapat mengenyam pendidikan? Dengan data di atas, menurut saya sudah cukup jelas membuktikan bahwa biang keladinya adalah praktik pendidikan mahal di Indonesia.

Program pemerintah wajib belajar dua belas tahun pada prakteknya masih sangat jauh dari harapan, banyak ketimpangan yang terjadi antara siswa yang bersekolah di kota dan pelosok. Sebagian besar anak pelosok mengaku minder untuk bersekolah karena harus bersaing dengan siswa kota. Maka disini masalah krusial pendidikan selanjutnya adalah masalah kesadaran pendidikan.

Praktek wajib belajar dua belas tahun hanyalah ilusi, di kala sekolah memang gratis untuk anak tetapi kondisi orang tuanya terjebak di dalam sistem negara yang di mana memenuhi kebutuhan untuk makan sehari-hari saja tidak cukup, maka dari itu banyak orang tua memilih tidak menyekolahkan anaknya, tetapi untuk membantu membantu pekerjaan sehari-hari agar tetap bisa makan. Sudah bisa dipastikan banyak yang meragukan pendidikan dapat merubah nasib orang-orang tersebut, karena pendidikan di Indonesia tidak objektif; tidak mampu menjawab problematika masyarakat pada hari ini.

Permasalahan krusial di atas menandakan yang tersiksa adalah siswa menengah ke bawah, lalu bagaimana dengan siswa menengah ke atas dalam mengenyam pendidikan? Dengan sistem pendidikan yang salah pada hari ini, yang menjadikan standar satu-satunya adalah nilai akhir ujian dalam tiga hari atau maksimal satu minggu (ujian nasional) yang mewakilkan selama bertahun-tahun sekolah. Siswa menengah ke atas bisa melakukan strategi yang tidak bisa dilakukan oleh siswa menengah ke bawah yaitu dengan mengikuti sejumlah privat atau bimbingan belajar (bimbel), karena hanya siswa menengah ke atas lah yang mampu membayar bimbel.

Bagaimana anak pelosok tidak semakin merasakan ketimpangan atau minder pada siswa kota kalau begini keadaannya? Sudah jelas bukan tujuan Kemendikbud mempersulit soal UN hanya untuk siswa mampu secara ekonomi saja?

Lalu kemana dana APBN 20 persen yang harus direalisasikan hanya untuk pendidikan?

Sungguh malang nasibmu, anak miskin…

Paulo Freire pernah berkata bahwa pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Manusia adalah penguasa atas dirinya sendiri, dan karena itu, fitrah manusia adalah menjadi merdeka dan bebas.

Maka dari itu pendidikan haruslah gratis, dan harus menjawab kondisi persoalan pada hari ini. Untukku, dibandingkan Kemendikbud harus sibuk mempersulit UN setiap tahunnya, lebih baik Kemendikbud mempertanggungjawabkan angka putus sekolah yang mencapai 73 persen agar ditekan menjadi 0 persen. Agar pendidikan di Indonesia dapat dirasakan oleh seluruh anak Indonesia, dan dapat mewujudkan pendidikan yang objektif; yaitu terbebas dari ketertindasan, sesuai kata Freire.

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.