Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Selera Rendahan Tribunnews, Penjilat Pantat SEO

KPK dan DPR, Sinetron Kejar Tayang

Lagi, rakyat Indonesia dipaksa menonton sinetron dramaturgi politik yang tak lulus sensor. Sinetron yang barangkali bisa diberi judul "Cinta dan Benci DPR-KPK". Bukan Cicak...

Ternyata Singapura Tak Ada Apa-apanya Dibandingkan Indonesia

Senang juga kembali menyambangi negeri mungil ini sepanjang pekan. Banyak yang bisa dikomentari soal negeri ini, terutama bila dibandingkan negeri raksasa yang jadi tempat...

Setelah KPAI dan Djarum Bersalaman: Siapa Mengeksploitasi Anak?

Berita terbaru yang membuat saya semakin bersemangat, bahkan tulisan ini saya buat tepat pada musim sibuk Latsar CPNS Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, adalah kembali...

Pak Gubernur, Jangan Tutup Sekolahku!

Hanya 20 siswa. Dibagi 3 rombel. Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, tempat gadis penyandang disabilitas dirundung—semua murid kami terima karena hanya...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Dalam sebuah seminar, Pemred Tribunnews Dahlan Dahi menyebut bahwa saat ini jurnalis menulis bukan untuk dibaca manusia, tapi memuaskan kriteria yang diminta mesin.

Dahlan sedang bicara tentang Search Engine Optimization (SEO) atau optimasi mesin pencari. Ini adalah strategi atau serangkaian teknik yang sistematis untuk menempatkan situsweb atau blog berada di halaman utama SERP (Search Engine Result Page) dan potensial sesuai dengan keyword yang ditentukan.

Jika Anda membaca berita dengan kalimat yang berantakan, logika yang kacau, dan ditulis dengan buruk, kemungkinan besar berita itu sedang menyesuaikan dengan SEO. Atau memang memiliki editor yang buruk.

SEO merupakan tulang punggung media hari ini. Jika dulu sebuah media diukur dari seberapa cepat ia mendapat berita, atau seberapa dalam ia ditulis, hari ini siapa yang paling bisa menyenangkan mesin SEO, maka ia akan menjadi yang paling banyak dicari.

Dalam kasus Tribunnews, media itu sedang mengejar klik, kunjungan dari pembaca. Ini mengapa kalian akan dibuat bingung dengan berita yang kadang antara judul dan isi berbeda. Atau kadang judulnya bombastis isinya biasa saja.

Remotivi, lembaga yang fokus pada kajian media dan televisi, menilai bahwa saat ini ada banyak media yang kurang etis. Etis ini tentu sangat bisa diperdebatkan. Misalnya bagi orang yang berpikir dan punya nurani, mengeksploitasi tragedi kematian dan kesedihan seseorang itu tidak etis.

Bagi Tribunnews tidak.

Mungkin orang-orang di media itu sudah kepalang mati rasa, nyaris tak peduli pada apa itu etis dan yang tidak. Saat orang berkabung karena kecelakaan, Tribunnews bisa saja mencari foto-foto cantik si korban kecelakaan. Apakah Tribunnews salah? Ya tidak. Wong banyak yang suka. Rendah? Mungkin, tapi apalah etis dan rendahan di hadapan iklan miliaran.

Salah satu kritik paling bernas berasal dari Muhamad Heychael, yang menyebut Tribunnews sebagai “pedagang informasi yang punya motto “palugada” (apa lo minta gue ada)”. Di tangan Tribunnews, jurnalisme jadi benar-benar menjilat bersih pantat SEO dan selera buruk manusia debil.

Sekali lagi, dalam pandangan saya, Tribunnews tak salah. Ia memuaskan selera manusia-manusia bejat yang ingin tahu nama “pemeran video porno” yang tengah beredar atau “foto cantik pramugari” yang mengalami kecelakaan. Jurnalisme yang ditawarkan Tribunnews tak punya nilai berita apa pun, kecuali memenuhi birahi kerdil para pembacanya.

Saya yakin, jika orang-orang kerdil ini musnah, lalu yang tinggal adalah manusia yang menggemari konten mendalam, bermutu, dan punya nilai tambah bagi peradaban, Tribunnews tak segan akan membuat liputan semacam itu. Mereka tinggal belajar ke kakak tua Kompas yang punya litbang dan banyak penulis baik.

Tapi kan tidak. Lagi pula buat apa?

Heychael menyebut bahwa jurnalisme Tribunnews tidak mengajak pembacanya untuk memahami apa yang benar, melainkan menyediakan seluruh narasi yang dikehendaki pembacanya, peduli setan apakah informasi tersebut akurat atau hasil imajinasi liar figur publik sontoloyo.

SEO membuat konten-konten (saya tak berani menyebutnya berita) menjadi yang teratas dalam mesin pencarian. Ini jadi masalah karena mutu sebuah berita tidak diukur dari akurasi, verifikasi, atau mutu tulisan, tapi bagaimana seorang editor/penulis memenuhi kriteria SEO dari mesin pencari. Tapi tentu kita tak bisa menyalahkan mesin, tapi orang-orang yang memanfaatkan mesin itu yang semestinya bertanggung jawab.

Di Indonesia bukan hanya Tribunnews yang diperbudak rezim SEO. Ada juga media lain yang serupa, misal dengan jelas menuliskan nama lengkap seseorang yang diduga menjadi pemeran video porno. Mereka nyaris tak peduli bagaimana keluarga, almamater, kerabat dari yang dituliskan itu. Semua demi memenuhi kriteria yang dibuat mesin. Makin hijau, makin tinggi pencarian, makin nomor satu dicari, maka iklan makin banyak.

Di sini moral tak lagi penting. Brand atau pengiklan tak pernah ambil pusing apakah media tempat ia mengiklan punya integritas atau tidak. Mereka hanya peduli, berapa banyak pengunjung media itu? Siapa saja klasifikasi pengunjung situsnya? Berapa banyak yang bisa membeli produknya? Manusia hanya sekadar statistik dan kehormatan menjadi sesuatu yang nyaris tak punya nilai. Yang penting cuan.

Ini mengapa profesi jurnalis media online harus diperiksa lagi. Mereka tak lebih baik daripada penulis konten di sebuah agensi. Jika penulis konten dengan jujur dan terbuka menjual produk, para jurnalis ini digunakan tim marketing untuk menjual statistik. “Penulis-penulis kami menjual berita yang diakses sekian banyak orang, kalau anda iklan di tempat kami, sekian banyak orang yang akan melihat.” Dan ini tak ada hubunganya dengan jurnalisme, murni bisnis belaka.

Pihak terakhir yang paling brengsek dan paling bertanggung jawab atas rendahnya mutu berita online kita adalah para pembacanya. Mereka menolak membaca berita yang bermutu. Semakin bombastis judul, semakin aneh berita, semakin tak masuk akal sebuah konten, maka itu yang diserbu. Sehingga para editor dan penulis mesti menyesuaikan konten yang mereka bikin untuk pembacanya, jika tidak mau dimarahi tim marketing karena turunnya trafik kunjungan.

Para pekerja media online masih berpikir, makin tinggi trafik makin tinggi penjualan iklan. Tidak ada keinginan untuk membuat jurnalisme bermutu yang berpijak pada akurasi, kedalaman, dan kualitas. Semua harus menyesuaikan selera pembaca.

Jika dalam kasus kecelakaan para pembaca ingin tahu berita mistis apa atau siapa korban yang paling cantik, maka pemilik media akan meminta jurnalis untuk menuliskan berita itu. Kalau perlu sampai menanyakan firasat seorang ibu yang berduka, karena itu yang disukai pembaca.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.