Selasa, Maret 9, 2021

Tradisi Syawalan Online?

Meneliti Livi Zheng (Bagian 3)

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, menyampaikan kabar pada 25 Juli 2019 tentang sebuah film yang belum ada: The Santri. Di sebelahnya Livi...

Politik Dukungan Milenial. Milenial yang Mana?

Menjelang Pilpres 2019 ini, baik Kubu Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sama-sama giat mengadakan acara dengan jargon milenial. Itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka...

Tingkah Laku Menyebalkan Prabowo Subianto

Orang cepat lupa. Dalam soal ingatan, lima tahun itu jaraknya adalah lima juta tahun cahaya. Untuk itu, jangan berharap bahwa orang akan ingat. Itu terjadi...

Apa Salah Intelektual di BPIP Dibayar Mahal?

Di Indonesia, seorang intelektual diminta untuk hidup melarat. Ia haram menjadi makmur. Pemikir seperti Ahmad Syafii Maarif, Yudi Latief, atau Said Aqil Siroj menjadi...
Muhammad Ulil Abshor
Mahasiswa IIQ An-Nur Yogyakarta. Tinggal di Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada bidang Ushuluddin dan Sosiologi.

Di Indonesia tradisi demi tradisi terjaga dengan lestari, termasuk kebiasaan bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri. Namun perubahan kondisi, seperti saat pandemi Covid19 seperti saat ini mendorong kita untuk melakukan perubahan cara penyelenggaraan Syawalan.

Social distancing yang diserukan semua pihak akibat upaya pencegahan penularan wabah Corona, mau tidak mau mempengaruhi pola tradisi Syawalan yang telah berjalan dari dulu hingga sekarang. Yang tadinya penuh dengan pertemuan fisik dan tatap muka, kini dilakukan dengan lebih intens dengan penggunaan fasilitas teknologi, media sosial dan aplikasi obrolan (Whatsapp dan lainnya).

Tak pelak, era teknologi yang mengubah pola kebiasaan kita saat ini, menyediakan ruang perenungan bagi kita semua. Apakah kita benar-benar sepenuh hati menyampaikan pesan teks atau bergambar kepada orang lain dengan cara yang tepat? Atau tren ini hanya dijalani oleh kita sebab sekadar mengikuti pola tanpa ada ketulusan dan kehati-hatian dari hati kita? Lalu bagaimana baiknya cara kita berkomunikasi daring dalam rangka bermaaf-maafan?

Permohonan maaf dengan membangun kesan akrab

Kebiasaan membagikan meme dan teks, terutama terkait dengan suasana hari lebaran dalam rangka bermaaf-maafan, dari sisi waktu menghabiskan kesempatan fokus kita pada aktivitas yang spontan. Kita dituntut untuk membuat semacam template untuk memenuhi unsur-unsur komunikasi visual lewat teknologi komunikasi.

Di satu sisi itu merupakan tuntutan zaman, tapi di sisi lain itu menyisakan problem mendasar dimana kita akan kehilangan reaksi spontan laiknya kita bertemu tatap muka.

Dalam pertemuan yang melibatkan fisik, kecepatan otak kita akan secara langsung mengetengahkan obrolan yang kontekstual. Keakraban akan semakin terjalin jika komunikasi kita tak kehilangan konteksnya.

Saat sudah berhati-hati pun, dalam pertemuan tatap muka terkadang kesalahan akan dilakukan, semisal obrolan yang menyinggung perasaan atau sikap yang tidak mengenakkan. Sementara melalui media sosial jika tidak hati-hati, juga akan beresiko menciptakan ketersinggungan model lain, misalnya kehambaran rasa dalam relasi antar sesama, chat yang tak langsung dibalas, atau salah ketik yang berakibat menyakiti perasaan dan lain sebagainya.

Dikarenakan kita tidak secara langsung dapat merekonstruksi komunikasi via online, maka demi mengurangi resiko terdegradasinya kesan akrab atau adanya misinformasi ada baiknya kita membangun pola komunikasi bermaaf-maafan yang mendasar dan simpel.

Lebih baik dalam pesan teks atau gambar yang akan kita bagikan tidak penuh dengan hal yang bertele-tele, seperti kata-kata panjang yang melelahkan untuk dibaca. Karena orang lain (saya sendiri mungkin) tidak membaca rampung teks panjang ucapan selamat hari raya dan permohonan maaf. Hanya langsung membalas, “sama-sama”.

Bukankah lebih baik kita membangun keakraban daring dengan menekankan komunikasi yang berkesan, misalnya dengan menyapa nama orang yang hendak kita kirimi pesan, seperti “Andri met idul fitri mohon maaf lahir batin ya?”. Atau “Mbak aku pernah gibahin kamu, mohon maaf lahir batan ya, selamat idul fitri.” dan lainnya.

Dengan lebih menekankan keakraban, dengan tidak memperlakukan pihak lain dengan template otomatis dari pesan kita, akan menandakan kesungguhan hati kita dalam mengucapkan selamat hari raya dan permohonan maaf.

Masalah yang sama-sama kita hadapi dalam era teknologi adalah tuntunan semua harus serba cepat. Maka tidak elok bila cara kita berinteraksi dengan lain pihak hanya sebatas formalitas bertele-tele atau basa-basi alakadarnya.

Kita sebagai manusia ingin dihargai, pun orang lain yang kita ajak berkomunikasi juga begitu. Namun di atas itu semua tradisi dan kemajuan teknologi adalah hal lain yang semestinya kita perlakukan dengan obyektif. Jelas sulit membangun model terbaik, tapi apa kita akan merelakan simpati dan empati kita hilang akibat terdegradasi oleh otomatisasi teknologi komunikasi?

Melihat yang demikian, maka video call agaknya adalah cara komunikasi lebaran yang terbaik.

Muhammad Ulil Abshor
Mahasiswa IIQ An-Nur Yogyakarta. Tinggal di Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada bidang Ushuluddin dan Sosiologi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.