OUR NETWORK

Tradisi Syawalan Online?

Permohonan maaf dengan membangun kesan akrab

Di Indonesia tradisi demi tradisi terjaga dengan lestari, termasuk kebiasaan bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri. Namun perubahan kondisi, seperti saat pandemi Covid19 seperti saat ini mendorong kita untuk melakukan perubahan cara penyelenggaraan Syawalan.

Social distancing yang diserukan semua pihak akibat upaya pencegahan penularan wabah Corona, mau tidak mau mempengaruhi pola tradisi Syawalan yang telah berjalan dari dulu hingga sekarang. Yang tadinya penuh dengan pertemuan fisik dan tatap muka, kini dilakukan dengan lebih intens dengan penggunaan fasilitas teknologi, media sosial dan aplikasi obrolan (Whatsapp dan lainnya).

Tak pelak, era teknologi yang mengubah pola kebiasaan kita saat ini, menyediakan ruang perenungan bagi kita semua. Apakah kita benar-benar sepenuh hati menyampaikan pesan teks atau bergambar kepada orang lain dengan cara yang tepat? Atau tren ini hanya dijalani oleh kita sebab sekadar mengikuti pola tanpa ada ketulusan dan kehati-hatian dari hati kita? Lalu bagaimana baiknya cara kita berkomunikasi daring dalam rangka bermaaf-maafan?

Permohonan maaf dengan membangun kesan akrab

Kebiasaan membagikan meme dan teks, terutama terkait dengan suasana hari lebaran dalam rangka bermaaf-maafan, dari sisi waktu menghabiskan kesempatan fokus kita pada aktivitas yang spontan. Kita dituntut untuk membuat semacam template untuk memenuhi unsur-unsur komunikasi visual lewat teknologi komunikasi.

Di satu sisi itu merupakan tuntutan zaman, tapi di sisi lain itu menyisakan problem mendasar dimana kita akan kehilangan reaksi spontan laiknya kita bertemu tatap muka.

Dalam pertemuan yang melibatkan fisik, kecepatan otak kita akan secara langsung mengetengahkan obrolan yang kontekstual. Keakraban akan semakin terjalin jika komunikasi kita tak kehilangan konteksnya.

Saat sudah berhati-hati pun, dalam pertemuan tatap muka terkadang kesalahan akan dilakukan, semisal obrolan yang menyinggung perasaan atau sikap yang tidak mengenakkan. Sementara melalui media sosial jika tidak hati-hati, juga akan beresiko menciptakan ketersinggungan model lain, misalnya kehambaran rasa dalam relasi antar sesama, chat yang tak langsung dibalas, atau salah ketik yang berakibat menyakiti perasaan dan lain sebagainya.

Dikarenakan kita tidak secara langsung dapat merekonstruksi komunikasi via online, maka demi mengurangi resiko terdegradasinya kesan akrab atau adanya misinformasi ada baiknya kita membangun pola komunikasi bermaaf-maafan yang mendasar dan simpel.

Lebih baik dalam pesan teks atau gambar yang akan kita bagikan tidak penuh dengan hal yang bertele-tele, seperti kata-kata panjang yang melelahkan untuk dibaca. Karena orang lain (saya sendiri mungkin) tidak membaca rampung teks panjang ucapan selamat hari raya dan permohonan maaf. Hanya langsung membalas, “sama-sama”.

Bukankah lebih baik kita membangun keakraban daring dengan menekankan komunikasi yang berkesan, misalnya dengan menyapa nama orang yang hendak kita kirimi pesan, seperti “Andri met idul fitri mohon maaf lahir batin ya?”. Atau “Mbak aku pernah gibahin kamu, mohon maaf lahir batan ya, selamat idul fitri.” dan lainnya.

Dengan lebih menekankan keakraban, dengan tidak memperlakukan pihak lain dengan template otomatis dari pesan kita, akan menandakan kesungguhan hati kita dalam mengucapkan selamat hari raya dan permohonan maaf.

Masalah yang sama-sama kita hadapi dalam era teknologi adalah tuntunan semua harus serba cepat. Maka tidak elok bila cara kita berinteraksi dengan lain pihak hanya sebatas formalitas bertele-tele atau basa-basi alakadarnya.

Kita sebagai manusia ingin dihargai, pun orang lain yang kita ajak berkomunikasi juga begitu. Namun di atas itu semua tradisi dan kemajuan teknologi adalah hal lain yang semestinya kita perlakukan dengan obyektif. Jelas sulit membangun model terbaik, tapi apa kita akan merelakan simpati dan empati kita hilang akibat terdegradasi oleh otomatisasi teknologi komunikasi?

Melihat yang demikian, maka video call agaknya adalah cara komunikasi lebaran yang terbaik.

Mahasiswa IIQ An-Nur Yogyakarta. Tinggal di Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada bidang Ushuluddin dan Sosiologi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.