Rabu, Oktober 28, 2020

Titik Temu antara Islam dan Liberalisme?

Putihkan GBK: Konser Musik Dan Politik Otentik

Politik. Kata yang belakangan terdengar bengis, kotor, jahat dan menjijikkan. Kenapa bisa demikian? Karena di era kontemporer, politik dimaknai sebatas sebagai sebuah perkara kekuasaan:...

Krisis Demokrasi dan Jawaban dari Gejayan

Sulit untuk menyembunyikan kenyataan bahwa saat ini Indonesia sedang dalam krisis. Tidak sekedar krisis. Ini adalah krisis yang sangat serius. Di akhir periode pertama masa...

Presiden Jokowi, Waspadalah

Gelombang penolakan terhadap sejumlah rancangan undang-undang (RUU) bermasalah makin meluas. Aksi-aksi mahasiswa dan pelajar tidak hanya meletup di ibu kota, tapi menjalar ke berbagai...

Permutasi Pelajaran Sejarah

Di tengah hiruk pikuk kontroversi tentang pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Cipta Kerja (Omnibus Law), energi kita tidak boleh semuanya terfokus pada masalah ini. Ada...
Satrio Alif
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin dan kompatibel dengan tantangan zaman, tentu selalu dihadapkan dengan permasalahan antara korelasi suatu pemikiran dengan ajaran islam. Seringkali, terjadi percampuran antara islam dengan pemikiran tersebut seperti pan islamisme. Salah satu isu kontemporer mengenai korelasi antara ajaran Islam dengan suatu pemikiran adalah korelasi ajaran Islam dengan Liberalisme.

Sebelum membahas korelasi antara Islam dan Liberalisme, penulis akan terlebih dahulu memaparkan pengertian mengenai keduanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Islam diartikan sebagai agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. berpedoman pada kitab suci Alquran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt. Islam sendiri sebenarnya dalam bahasa arab berarti selamat. Maksud dari selamat di sini adalah islam merupakan agama yang membawa keselamatan dunia dan akhirat bagi para pemeluknya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Liberalisme dapat diartikan sebagai aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh turut campur). Menurut The Encyclopedia of Philosophy, Liberalisme adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu dan mendorong kemajuan sosial.

Dalam pembahasan aliran dalam aqidah, terdapat salah satu aliran yang konteks ajarannya sesuai dengan liberalisme yaitu aliran murjiah. Menurut pembahasan Buku Ajar Matakuliah Pengembangan Kepribadian Agama Islam Universitas Indonesia, aliran murjiah ini mengajarkan bahwa setiap orang di dunia adalah seorang muslim meskipun mengerjakan dosa besar. Amal perbuatan, dosa dan kebaikan adalah urusan prbadinya dengan Tuhan. Aliran ini juga memiliki salah satu cabang yang ekstrem di mana mereka berpandangan bahwa seorang muslim yang menyatakan secara lisan tidaklah menjadi kafir, kekufurannya secara lisan tidaklah menjadi kafir karena keimanan atau kekafiran seseorang terletak di dalam hatinya.

Pada masa kontemporer seperti saat ini, terdapat suatu aliran yang memadukan antara Islam dan Liberalisme secara komperhensif yaitu Islam Liberal. Istilah Islam Liberal pertama kali digunakan para penulis Barat seperti Leonard Binder dan Charles Kurzman. Dalam pandangan Lutfie Assyaukanie, Islam Liberal sebagai gerakan pertama kali muncul pada tahun 1798 atau lebih dari 2 abad yang lalu. Tepatnya itu saat Napoleon Bonaparte datang pertama kali sampai di Mesir. Itulah pertama kali munculnya pertemuan antara islam dan pemikiran barat.

Menurut para penganut islam liberal, ajaran islam liberal adalah alat bantu dalam pengkajian ajaran Islam sehingga ajaran agama ini dapat terpelihara dan berdialog dalam konteks dan realita yang produktif dan progresif. Dalam pandangan ini, Islam ingin ditafsirkan dan dihadirkan secara liberal-progresif dengan metode hermeneutik, yakni metode penafsiran dan interpretasi terhadap teks, konteks dan realitas. Sehingga, dapat diartikan bahwa Islam Liberal adalah sekadar alat bantu analisis, bukan kategori yang mutlak.

Islam liberal merupakan hal yang sangat kontras daripada Islam revivalis atau islam tradisional. Islam liberal dalam ajarannya menghadirkan kembali masa lampau untuk kepentingan modernitas kehidupan di masa kini.  Di samping hal tersebut, kaum liberal berpendapat jika islam secara benar, maka ajaran islam sebenarnya sejalan dengan atau bahkan merupakan perintis bagi konsep liberalisme barat.

Satrio Alif
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.