Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

Tilik Bukanlah Film Kabar Burung

Christchurch, Sri Lanka, Dua Tanggapan yang Berbeda

Jumat, 15 Maret 2019, menjadi hari penuh darah di Christchurch, Selandia Baru. Saat ratusan umat Islam hendak menjalankan ibadah salat Jumat di Masjid Al-Noor,...

Bukan HTI Tapi PKI Yang Bangkit Lagi

Atas nama polusi udara Jakarta, saya bersaksi bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit lagi. Hanya dalam jangka waktu sehari saja, di sela-sela saya...

Pemberitaan Kejahatan Susila, Apa Untungnya bagi Masyarakat?

Melihat ramainya kasus yang mengangkat tema asusila, tampaknya kita perlu memeriksa lagi apakah pandangan ini menguntungkan masyarakat. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)...

Siapa Yang Radikal Dan Taliban di KPK?

Sebenarnya taktik-taktik ini sudah dipakai pada saat Pilpres kemarin. Waktu itu pihak kampanyenye Jokowi menakut-nakuti bahwa kalau memilih lawannya maka Indonesia akan dikuasai oleh...
Muhammad Ilfan Zulfani
Mahasiswa Sosiologi FISIP UI dan Santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok

Berapa orang dari yang menonton film pendek Tilik yang menyangka Bu Tejo adalah pihak yang salah dalam perdebatan di atas truk milik Gotrek itu? Saya termasuk di antaranya. Sepanjang adegan di atas truk, dalam benak saya memaki-maki Bu Tejo yang senang menggunjing seorang perempuan muda cantik yang disebut-sebut adalah calon menantu dari Bu Lurah, bernama Dian.

Lantas, saya memuji peran Yu Ning. Sosok yang cenderung kalem, berusaha untuk berbaik sangka, dan sering membantah “fitnah” yang disampaikan oleh Bu Tejo. Dugaan saya ini semakin menguat ketika masuk pada adegan Bu Tejo yang memberi “sogokan” kepada sang supir, Gotrek, yang menurut Yu Ning ada kaitannya dengan Pak Tejo yang digadang-gadang akan menjadi lurah pengganti.

Lengkap, Bu Tejo selain tukang ghibah juga memiliki tujuan politik dibaliknya yakni ingin Pak Tejo menjadi lurah. Saya semakin kesal terhadap Bu Tejo manakala Bu Tejo tidak rela dirinya dan sang suaminya digunjing oleh Yu Ning, padahal Bu Tejo sendiri gemar menggunjing. Adegan-adegan di truk yang lain pun tetap memberikan kesan yang sama terhadap “menjengkelkannya” Bu Tejo.

Pada akhirnya, bagi yang telah menontonnya sampai selesai, gunjingan Bu Tejo berada di sisi yang benar meskipun fakta yang ia sampaikan tidak seluruhnya terbukti. Si Dian memang memiliki hubungan dengan om-om seperti yang ia kabarkan. Akan tetapi, baik bu Tejo maupun Yu Ning sama-sama tidak melihat adegan spesifik yang menjelaskan fakta tentang Dian di dalam mobil berwarna hitam itu. Kabar soal Dian ini tetap mengambang dan masih berupa “kabar burung” di atas truk Gotrek, belum bisa dibuktikan.

Apa yang sebenarnya ingin disampaikan film ini? Tentu saja saya hanya akan berupaya menganalisanya sebagai penonton, kita tidak tahu “niat asli” dari pembuat film dan memang seharusnya kita tidak perlu tau. Biarkan penonton menafsirakannya sendiri karena film memang hanya bekerja lawat gambar dan suara.

Film pendek ini, bagi saya, berupaya mengambarkan realitas informasi yang kita hadapi. Dengan adanya arus informasi yang begitu dahsyat semrawutnya, di era ini kita tidak dapat dengan mudah mengetahui informasi yang mana yang benar dan yang salah.

Bagi yang menyangka Bu Tejo menyampaikan kabar dusta, saya kira mendasarkan alasannya pada sikap Bu Tejo yang nggateli dan tidak bisa menyampaikan bukti empiris dari ucapan-ucapannya. Kita pun begitu, seringkali berupaya untuk meminta bukti dan mendasarkan diri pada sikap sang pemberi informasi untuk mencari kebenaran.

Kalau orang itu tidak bisa memberikan bukti yang benar-benar nyata, kita tidak percaya. Kalau orang itu sikapnya menyebalkan atau menjengkelkan, kita cenderung sudah antipati dengan ucapannya.  Sebaliknya, sikap kalem, baik hati, dan penuh prasangka baik seperti yang dimiliki Yu Ning adalah sikap dari pemberi informasi yang cenderung kita percayai.

Apakah adanya bukti empiris selalu menunjukkan kebenaran? Apakah ketiadaan bukti sama dengan dusta? Film ini menjawabnya dengan tegas : tidak! Bu Tejo hanya menggunakan informasi tidak jelas yang bersumber dari Facebook lantas sekumpulan berita yang seperti puzzle tidak sempurna itu ia analisa sendiri. Hasilnya menakjubkan, prasangka Bu Tejo terhadap kehidupan Dian hampir benar.

Lalu, apakah kita harus mendasarkan kepercayaan kita pada moralitas seseorang? Film tersebut juga menyangkalnya. Meski Bu Tejo ini mulutnya betul-betul tajam, nampak penuh kedengkian, punya kepentingan terkait suaminya yang ingin menjadi lurah, tidak mau ikut mendorong truk saat mogok, dan seabrek sikap mengjengkelkan lainnya, Bu Tejo tetap menyimpan kebenaran soal Dian.

Lantas, apakah dalam tulisan ini saya bermaksud untuk mendorong pembaca agar lebih percaya kepada orang seperti Bu Dian dengan gunjingannya yang tanpa bukti empiris? Tidak juga. Dalam kondisi yang lain, bisa saja orang seperti Bu Dian memang menyampaikan berita yang salah.

Filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel pernah bilang, “Bits of the truth are always getting scattered even in unappealing, or peculiar places.” Menurutnya, potongan kebenaran selalu tersebar bahkan di tempat yang tidak menarik atau ganjil. Dalam konteks film Tilik, kebenaran bisa berada di mana saja termasuk pada omongan Bu Tejo yang menurut sebagian besar dari kita menyimpan prasangka buruk.

Apa yang mestinya kita lakukan dalam kehidupan ini agar bisa betul-betul memperoleh kebenaran dalam simpang suarnya informasi? Saya sendiri juga tidak tahu. Apalagi kalau mengingat tidak semua hal bisa dibuktikan. Tapi apa yang bisa saya tawarkan adalah bahwa tidak semua berita mesti kita pedulikan.

Satu hal yang nampaknya banyak orang lupa soal film Tilik yaitu bahwa isu yang dibahas ibu-ibu di atas truk Dokrek itu sama sekali tidak penting untuk relevansi kehidupan mereka kecuali yang memang memiliki kepentingan tersendiri.

Apakah isu Dian yang berpacaran dengan om-om itu memiliki pengaruh dengan kehidupan mereka? Siapakah Dian itu sehingga sangat penting untuk diributkan perihal pekerjaannya? Apakah jika Dian memang nyambi menjadi wanita simpanan lantas mereka punya tanggung jawab moral untuk “menghabisinya”? Saya rasa tidak, mereka sama sekali tidak memiliki pembenaran apa pun untuk memedulikan perihal Dian. Kalau mereka khawatir suaminya digoda Dian, lantas apakah solusinya adalah menggunjing soal Dian?

Maka, film Tilik ini sendiri memang bukan menyampaikan sebuah kabar burung. Kabar bahwa masyarakat kita terjabak dalam jurang post-truth dan terjebak pada informasi yang tidak penting untuk dipedulikan memang benar adanya. Saya kagum dengan kompleksitas pesan yang ada dalam film ini dan kemampuannya untuk mengangkat keseharian kita, sekalipun hanya berdurasi selama 32 menit. Di luar bahasan utama dalam tulisan ini, saya kira kita wajar untuk berprasangka baik bahwa semakin ke sini kualitas film karya anak bangsa kita semakin mantap.

Muhammad Ilfan Zulfani
Mahasiswa Sosiologi FISIP UI dan Santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.