Minggu, Maret 7, 2021

Tilik Bukanlah Film Kabar Burung

Pendidikan Kerukunan

Kerukunan umat beragama bukan wacana baru bagi kita. Walaupun dalam pengalamannya, negeri ini sempat mengalami konflik dan kecurigaan antar umat beragama, namun kekuatan jaringan...

Editor Buku: Dari Eksistensi Menuju Apresiasi

Safar Banggai menulis tentang ketiadaan standar apresiasi material atas pekerjaan para editor buku, sehingga nasib mereka tak cukup jelas. Saya ingin menambahkan beberapa catatan...

Mencari Djarum dalam Jerami

Setelah pencarian desa Penari yang tak kunjung terbukti, Indonesia berbicara lagi tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Soal apa? Soal yang dipersoalkan, menjadi soal,...

Jalan Sunyi Ahok 2024

Dalam keraguan, selalu ada jawaban. Meski kerap kali jawaban itu dalam kesunyian. Kebangkitan lagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dimulai. Tanda kebangkitan itu adalah peluncuran...
Muhammad Ilfan Zulfani
Mahasiswa Sosiologi FISIP UI dan Santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok

Berapa orang dari yang menonton film pendek Tilik yang menyangka Bu Tejo adalah pihak yang salah dalam perdebatan di atas truk milik Gotrek itu? Saya termasuk di antaranya. Sepanjang adegan di atas truk, dalam benak saya memaki-maki Bu Tejo yang senang menggunjing seorang perempuan muda cantik yang disebut-sebut adalah calon menantu dari Bu Lurah, bernama Dian.

Lantas, saya memuji peran Yu Ning. Sosok yang cenderung kalem, berusaha untuk berbaik sangka, dan sering membantah “fitnah” yang disampaikan oleh Bu Tejo. Dugaan saya ini semakin menguat ketika masuk pada adegan Bu Tejo yang memberi “sogokan” kepada sang supir, Gotrek, yang menurut Yu Ning ada kaitannya dengan Pak Tejo yang digadang-gadang akan menjadi lurah pengganti.

Lengkap, Bu Tejo selain tukang ghibah juga memiliki tujuan politik dibaliknya yakni ingin Pak Tejo menjadi lurah. Saya semakin kesal terhadap Bu Tejo manakala Bu Tejo tidak rela dirinya dan sang suaminya digunjing oleh Yu Ning, padahal Bu Tejo sendiri gemar menggunjing. Adegan-adegan di truk yang lain pun tetap memberikan kesan yang sama terhadap “menjengkelkannya” Bu Tejo.

Pada akhirnya, bagi yang telah menontonnya sampai selesai, gunjingan Bu Tejo berada di sisi yang benar meskipun fakta yang ia sampaikan tidak seluruhnya terbukti. Si Dian memang memiliki hubungan dengan om-om seperti yang ia kabarkan. Akan tetapi, baik bu Tejo maupun Yu Ning sama-sama tidak melihat adegan spesifik yang menjelaskan fakta tentang Dian di dalam mobil berwarna hitam itu. Kabar soal Dian ini tetap mengambang dan masih berupa “kabar burung” di atas truk Gotrek, belum bisa dibuktikan.

Apa yang sebenarnya ingin disampaikan film ini? Tentu saja saya hanya akan berupaya menganalisanya sebagai penonton, kita tidak tahu “niat asli” dari pembuat film dan memang seharusnya kita tidak perlu tau. Biarkan penonton menafsirakannya sendiri karena film memang hanya bekerja lawat gambar dan suara.

Film pendek ini, bagi saya, berupaya mengambarkan realitas informasi yang kita hadapi. Dengan adanya arus informasi yang begitu dahsyat semrawutnya, di era ini kita tidak dapat dengan mudah mengetahui informasi yang mana yang benar dan yang salah.

Bagi yang menyangka Bu Tejo menyampaikan kabar dusta, saya kira mendasarkan alasannya pada sikap Bu Tejo yang nggateli dan tidak bisa menyampaikan bukti empiris dari ucapan-ucapannya. Kita pun begitu, seringkali berupaya untuk meminta bukti dan mendasarkan diri pada sikap sang pemberi informasi untuk mencari kebenaran.

Kalau orang itu tidak bisa memberikan bukti yang benar-benar nyata, kita tidak percaya. Kalau orang itu sikapnya menyebalkan atau menjengkelkan, kita cenderung sudah antipati dengan ucapannya.  Sebaliknya, sikap kalem, baik hati, dan penuh prasangka baik seperti yang dimiliki Yu Ning adalah sikap dari pemberi informasi yang cenderung kita percayai.

Apakah adanya bukti empiris selalu menunjukkan kebenaran? Apakah ketiadaan bukti sama dengan dusta? Film ini menjawabnya dengan tegas : tidak! Bu Tejo hanya menggunakan informasi tidak jelas yang bersumber dari Facebook lantas sekumpulan berita yang seperti puzzle tidak sempurna itu ia analisa sendiri. Hasilnya menakjubkan, prasangka Bu Tejo terhadap kehidupan Dian hampir benar.

Lalu, apakah kita harus mendasarkan kepercayaan kita pada moralitas seseorang? Film tersebut juga menyangkalnya. Meski Bu Tejo ini mulutnya betul-betul tajam, nampak penuh kedengkian, punya kepentingan terkait suaminya yang ingin menjadi lurah, tidak mau ikut mendorong truk saat mogok, dan seabrek sikap mengjengkelkan lainnya, Bu Tejo tetap menyimpan kebenaran soal Dian.

Lantas, apakah dalam tulisan ini saya bermaksud untuk mendorong pembaca agar lebih percaya kepada orang seperti Bu Dian dengan gunjingannya yang tanpa bukti empiris? Tidak juga. Dalam kondisi yang lain, bisa saja orang seperti Bu Dian memang menyampaikan berita yang salah.

Filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel pernah bilang, “Bits of the truth are always getting scattered even in unappealing, or peculiar places.” Menurutnya, potongan kebenaran selalu tersebar bahkan di tempat yang tidak menarik atau ganjil. Dalam konteks film Tilik, kebenaran bisa berada di mana saja termasuk pada omongan Bu Tejo yang menurut sebagian besar dari kita menyimpan prasangka buruk.

Apa yang mestinya kita lakukan dalam kehidupan ini agar bisa betul-betul memperoleh kebenaran dalam simpang suarnya informasi? Saya sendiri juga tidak tahu. Apalagi kalau mengingat tidak semua hal bisa dibuktikan. Tapi apa yang bisa saya tawarkan adalah bahwa tidak semua berita mesti kita pedulikan.

Satu hal yang nampaknya banyak orang lupa soal film Tilik yaitu bahwa isu yang dibahas ibu-ibu di atas truk Dokrek itu sama sekali tidak penting untuk relevansi kehidupan mereka kecuali yang memang memiliki kepentingan tersendiri.

Apakah isu Dian yang berpacaran dengan om-om itu memiliki pengaruh dengan kehidupan mereka? Siapakah Dian itu sehingga sangat penting untuk diributkan perihal pekerjaannya? Apakah jika Dian memang nyambi menjadi wanita simpanan lantas mereka punya tanggung jawab moral untuk “menghabisinya”? Saya rasa tidak, mereka sama sekali tidak memiliki pembenaran apa pun untuk memedulikan perihal Dian. Kalau mereka khawatir suaminya digoda Dian, lantas apakah solusinya adalah menggunjing soal Dian?

Maka, film Tilik ini sendiri memang bukan menyampaikan sebuah kabar burung. Kabar bahwa masyarakat kita terjabak dalam jurang post-truth dan terjebak pada informasi yang tidak penting untuk dipedulikan memang benar adanya. Saya kagum dengan kompleksitas pesan yang ada dalam film ini dan kemampuannya untuk mengangkat keseharian kita, sekalipun hanya berdurasi selama 32 menit. Di luar bahasan utama dalam tulisan ini, saya kira kita wajar untuk berprasangka baik bahwa semakin ke sini kualitas film karya anak bangsa kita semakin mantap.

Muhammad Ilfan Zulfani
Mahasiswa Sosiologi FISIP UI dan Santri Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.