OUR NETWORK

Ternyata Singapura Tak Ada Apa-apanya Dibandingkan Indonesia

Di Singapura, jarang orang merokok. Beda dengan pria-pria Indonesia yang  kebul-kebulan tak kenal waktu dan tempat. Orang Singapura melarat, tak cukup punya duit untuk dibakar?

Senang juga kembali menyambangi negeri mungil ini sepanjang pekan. Banyak yang bisa dikomentari soal negeri ini, terutama bila dibandingkan negeri raksasa yang jadi tempat tinggal saya, Indonesia.

Pertama, mungkin tak banyak yang tahu, ternyata Singapura sudah punya MRT (Mass Rapid Transit). Ini membuat Singapura sudah setara dengan ibu kota Indonesia. Ini mengagumkan buat negara yang luasnya kurang lebih sama dengan Jakarta.

Kedua, masih terkait dengan urusan MRT, saya lihat stasiun-stasiunnya ada yang tampak kusam, walau bersih, tanpa terlihat orang-orang yang giat bekerja. Tak seperti MRT Jakarta yang kinclong plus orang-orang yang giat mengurusi lantai, tembok, dan lain-lain. Dari situ kita tahu, orang Indonesia jelas jauh lebih rajin.

Ketiga, MRT di sini hadir tanpa sentuhan yang humanis. Saya menjajal gerbong paling depan, dan saya bisa lihat tak ada pengemudinya. Saya bisa melihat rel di kegelapan. Padahal, saya masih melihat orang-orang tua yang menganggur di banyak restoran. Mereka cuma duduk mengudap sambil berbual tak keruan. Mengapa tak mempekerjakan mereka? Sementara di Jakarta kita tahu MRT menampung banyak sekali pekerja.

Susana MRT di Jakarta [foto: tribunnews.com}
Keempat, lantaran nongol ke luar di stasiun dekat hotel, saya mendongak ke langit. Di sini langitnya biru. Angka US AQI-nya rendah, dan mutunya dinyatakan sehat. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, udara yang tercemar adalah pertanda ekonomi yang maju. Kesimpulannya, cuma dengan membandingkan langit Jakarta yang kerap berwarna abu-abu dan coklat, dan beberapa kali menjadi juara dunia skor US AQI, pastilah negeri mungil ini masih tertinggal dalam soal ekonomi.

Kelima, amatan lain soal indikator ekonomi lainnya: kemacetan di jalan. Saya menghabiskan makan siang di pinggir jalan raya, dan melihat jumlah dan jenis mobil yang jauh lebih sedikit dibandingkan bila hal yang sama saya lakukan di Jakarta. Pasti penduduk sini lebih miskin daripada penduduk Jakarta dan sekitarnya yang sangat mampu membayar harga mobil yang terus merangkak naik.

Keenam, ekonomi yang menggeliat itu pasti menghasilkan jumlah sampah yang besar. Produksi dan konsumsi itu kan jelas hasilnya sampah. Di sini? Saya tak menemukan sama sekali sampah di jalanan, di sungai kecil, bahkan di sekitar tempat sampah. Tentu ini karena produksi dan konsumsinya rendah, bukan? Bedalah pasti ekonominya dengan Jakarta yang sampahnya banyak berserakan.

Ketujuh, dan terakhir, soal rokok. Rokok itu pertanda kemakmuran. Bayangkan, orang membeli barang untuk dibakar, lalu dia bakal sakit atau bahkan mati prematur. Kalau bukan orang makmur dan juga berani, apa coba?

Nah, di Singapura jarang sekali saya lihat orang merokok. Beda dengan pria-pria Indonesia yang  kebul-kebulan tak kenal waktu dan tempat. Artinya apa? Selain melarat, tak cukup punya duit untuk dibakar, pria-pria di sini jelas lebih penakut dibandingkan pria-pria negeri saya.

Begitulah pengamatan sementara saya. Nanti disambung lagi.

Singapura, 23 Juli 2019

Bacaan terkait

Kota, Publik, dan Mobilitas

Saatnya Melibatkan Warga Merancang Ruang Publik Kota

Penting dan Urgen: Menyehatkan Udara yang Kita Hirup

Buruk Rupa Transportasi Jakarta

Belajar dari Lee Kuan Yew

Jalal
Provokator Keberlanjutan. Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Bukunya berjudul "Mengurai Benang Kusut Indonesia" akan segera terbit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…