Sabtu, Januari 16, 2021

Ternyata Singapura Tak Ada Apa-apanya Dibandingkan Indonesia

Oase Muhammadiyah di Bumi Papua

Dakwah pencerahan Muhammadiyah di bumi Papua benar-benar terasa. Sejumlah amal usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan dan sosial berkembang pesat. Buktinya, hingga kini Muhammadiyah...

Populisme Islam, Ancaman Politik Etnis, dan Manuver 2024

Pemilihan Presiden 2019 baru saja usai melalui serangkaian kontestasi politik, drama kekuasaan hingga manuver yang memecah belah rakyat kecil. Polarisasi politik yang muncul sejak...

Papua, Eksploitasi, dan Lahirnya Suatu Negeri

Negara dengan luas wilayah terbesar di Asia Tenggara merayakan hari jadinya ke-74. Dari Sabang Sampai Marauke, itulah klaim yang sampai detik ini didoktrinkan kepada...

Hanung Bramantyo dan Politik Keaktoran dalam Film

Kemunculan cuplikan film Bumi Manusia baru-baru ini telah mendapatkan sambutan positif dan negatif dari para netizen. Bagaimana tidak, setelah menanti bertahun-tahun lamanya, akhirnya mahakarya...
Avatar
Jalal
Provokator Keberlanjutan. Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Bukunya berjudul "Mengurai Benang Kusut Indonesia" akan segera terbit.

Senang juga kembali menyambangi negeri mungil ini sepanjang pekan. Banyak yang bisa dikomentari soal negeri ini, terutama bila dibandingkan negeri raksasa yang jadi tempat tinggal saya, Indonesia.

Pertama, mungkin tak banyak yang tahu, ternyata Singapura sudah punya MRT (Mass Rapid Transit). Ini membuat Singapura sudah setara dengan ibu kota Indonesia. Ini mengagumkan buat negara yang luasnya kurang lebih sama dengan Jakarta.

Kedua, masih terkait dengan urusan MRT, saya lihat stasiun-stasiunnya ada yang tampak kusam, walau bersih, tanpa terlihat orang-orang yang giat bekerja. Tak seperti MRT Jakarta yang kinclong plus orang-orang yang giat mengurusi lantai, tembok, dan lain-lain. Dari situ kita tahu, orang Indonesia jelas jauh lebih rajin.

Ketiga, MRT di sini hadir tanpa sentuhan yang humanis. Saya menjajal gerbong paling depan, dan saya bisa lihat tak ada pengemudinya. Saya bisa melihat rel di kegelapan. Padahal, saya masih melihat orang-orang tua yang menganggur di banyak restoran. Mereka cuma duduk mengudap sambil berbual tak keruan. Mengapa tak mempekerjakan mereka? Sementara di Jakarta kita tahu MRT menampung banyak sekali pekerja.

Susana MRT di Jakarta [foto: tribunnews.com}
Keempat, lantaran nongol ke luar di stasiun dekat hotel, saya mendongak ke langit. Di sini langitnya biru. Angka US AQI-nya rendah, dan mutunya dinyatakan sehat. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, udara yang tercemar adalah pertanda ekonomi yang maju. Kesimpulannya, cuma dengan membandingkan langit Jakarta yang kerap berwarna abu-abu dan coklat, dan beberapa kali menjadi juara dunia skor US AQI, pastilah negeri mungil ini masih tertinggal dalam soal ekonomi.

Kelima, amatan lain soal indikator ekonomi lainnya: kemacetan di jalan. Saya menghabiskan makan siang di pinggir jalan raya, dan melihat jumlah dan jenis mobil yang jauh lebih sedikit dibandingkan bila hal yang sama saya lakukan di Jakarta. Pasti penduduk sini lebih miskin daripada penduduk Jakarta dan sekitarnya yang sangat mampu membayar harga mobil yang terus merangkak naik.

Keenam, ekonomi yang menggeliat itu pasti menghasilkan jumlah sampah yang besar. Produksi dan konsumsi itu kan jelas hasilnya sampah. Di sini? Saya tak menemukan sama sekali sampah di jalanan, di sungai kecil, bahkan di sekitar tempat sampah. Tentu ini karena produksi dan konsumsinya rendah, bukan? Bedalah pasti ekonominya dengan Jakarta yang sampahnya banyak berserakan.

Ketujuh, dan terakhir, soal rokok. Rokok itu pertanda kemakmuran. Bayangkan, orang membeli barang untuk dibakar, lalu dia bakal sakit atau bahkan mati prematur. Kalau bukan orang makmur dan juga berani, apa coba?

Nah, di Singapura jarang sekali saya lihat orang merokok. Beda dengan pria-pria Indonesia yang  kebul-kebulan tak kenal waktu dan tempat. Artinya apa? Selain melarat, tak cukup punya duit untuk dibakar, pria-pria di sini jelas lebih penakut dibandingkan pria-pria negeri saya.

Begitulah pengamatan sementara saya. Nanti disambung lagi.

Singapura, 23 Juli 2019

Bacaan terkait

Kota, Publik, dan Mobilitas

Saatnya Melibatkan Warga Merancang Ruang Publik Kota

Penting dan Urgen: Menyehatkan Udara yang Kita Hirup

Buruk Rupa Transportasi Jakarta

Belajar dari Lee Kuan Yew

Avatar
Jalal
Provokator Keberlanjutan. Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Bukunya berjudul "Mengurai Benang Kusut Indonesia" akan segera terbit.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.