Selasa, Januari 26, 2021

Ternyata Begini Rasanya Dituduh Taliban Karena Mendukung KPK

Ada Hantu Ateis di Balik LHKPN?

Bola panas isu Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) bagi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya seakan tidak menemukan titik api. Saking panasnya,...

Apa Salah Intelektual di BPIP Dibayar Mahal?

Di Indonesia, seorang intelektual diminta untuk hidup melarat. Ia haram menjadi makmur. Pemikir seperti Ahmad Syafii Maarif, Yudi Latief, atau Said Aqil Siroj menjadi...

Politisi Rongsokan: Dari Partai, oleh Partai, dan untuk Partai

Saya percaya kebanyakan orang masuk ke panggung politik untuk alasan yang belum tentu benar. Itu karena sistem politik dan ketentuan partai politik yang kita...

Kongkalikong Para Elite pada Peristiwa 22 Mei

Saya Masygul. Kerusuhan kemarin itu memakan delapan nyawa. Tujuh ratus lebih orang terluka. Ratusan milyar atau mungkin trilyunan kerugian yang diderita kalangan bisnis. Padahal...
Avatar
Aditia Purnomo
Ketua Komunitas Kretek

Saat itu, setelah malam melelahkan sepulang perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju Jakarta, saya dihubungi teman-teman. Akan ada aksi mendukung KPK, kata mereka. Saya tak banyak tidur, istirahat juga secukupnya. Perkara membela KPK adalah perkara akal sehat, membela nalar, sesuatu yang saya bela sejak lama. Setelah berkumpul pada Siang hari, saya baru sadar bahwa ada yang janggal, banyak orang yang melihat saya dengan pandangan berbeda.

Awalnya saya tak ambil pusing, kelelahan, rasa panas, dan fokus aksi membuat saya tak ambil pusing orang-orang disekitar. Sepulang aksi, sSaya baru sadar telah melakukan kesalahan. Satu blunder yang bisa jadi kontraproduktif dengan kepentingan gerakan dan dijadikan senjata oleh kelompok pendukung revisi UU KPK.

Benar saja, kemarin puluhan teman mengirimkan pesan berisikan gambar saya memakai kaos dengan desain mirip logo ISIS. Bedanya jika bendera isis berisi kalimat syahadat, kaos saya merupakan bahasa arab dari “Tidak bekerja, Tidak makan: Makan, Kerja, Tidur”. Kaos ini merupakan sebuah olok-olok, satire terhadap mereka yang menggunakan kalimat syahadat untuk kebencian.

Pesan-pesan yang masuk dalam ponsel saya beragam. Salah satunya pesan bergambar KPK dituduh berisikan orang-orang taliban hanya karena kaos yang saya pakai. Sebuah ‘barang bukti’ jika memang benar KPK ditumpangi oleh kelompok taliban, dan sudah seharusnya dibersihkan melalui revisi UU KPK. Ini jelas membuat saya sedih, kecewa, dan terutama menyesal. Jangan-jangan, apa yang saya lakukan malah membuat KPK jadi buruk.

Foto saya itu menyebar luas di banyak grup whatsapp. Bahkan masuk ke grup keluarga. Sebagian orang yang kenal saya merasa biasa saja sebenarnya. Mereka dengan bersenang hati menyerang balik kebodohan buzzer-buzzer politik itu dengan baik, dan membuat klarifikasi terkait arti dari kaos yang saya pakai itu.Saya jadi heran, Pembenci KPK ini paham bedanya Taliban dan ISIS? Mengapa banyak orang yang percaya begitu saja? Ini lugu atau bodoh?

Saya merasa bersalah ketika beberapa teman dan kenalan membuat postingan klarifikasi terkait baju yang saya gunakan. Ini bukan hal substansial bagi perjuangan, tapi mereka harus mengeluarkan pernyataan hanya karena kesalahan saya menggunakan kaos tersebut. Saya meminta maaf karena hal itu.

Satu hal yang saya pahami kemudian, betapa tuduhan kelompok buzzer Jokowi terkait taliban ini amat menggelikan dan memuakkan. Bukan hanya karena, jangankan taat beribadah, terakhir kali solat saja saya sudah lupa. Dan yang jauh lebih memuakkan adalah, bagaimana isu taliban dalam tubuh KPK ini benar-benar menjadi senjata rezim penguasa untuk melemahkan satu-satunya lembaga yang paling bisa diharapkan di negara ini.

Istilah yang dipopulerkan oleh buzzer favorit semua Jokowi Mania Denny-siapa-lagi-kalau-bukan-Siregar ini memang menyesatkan. Tuduhan jika orang-orang taat beragama dalam tubuh KPK itu radikal dan pro kelompok kanan itu benar-benar telah melemahkan KPK. Bahkan, para buzzer kurang nalar itu dengan amat lancang turut mengidentifikasi jika mereka yang taat beragama di KPK ini adalah orang-orang yang mendukung Prabowo. Gila dan di luar akal sehat.

Saya marah, ketika Denny dan kelompok buzzer binaannya menyerang habis-habisan KPK dengan isu taliban ini. Kesal jika mengingat betapa beratnya beban mereka yang bekerja di KPK, mengejar bukti dan menyidik saksi, tapi kemudian dituduh tidak memiliki integritas hanya karena mereka mendengarkan ceramah ustadz-ustadz tertentu. Dan semua itu memuncak ketika Revisi (pelemahan) UU KPK dirampungkan dengan cepat lewat konsolidasi politik yang mantap.

Mungkin KPK tidak sempurna, tidak mampu mengurus semua kasus korupsi, belum bisa menghabisi semua pihak. Namun, hal ini tidak bisa dijadikan landasan jika KPK tebang pilih dalam mengurus kasus korupsi. Kalau memang mereka ingin KPK lebih bisa mengurus semua kasus, ya harusnya komisi ini yang dikuatkan bukan dilemahkan. Ditambah anggarannya, bukan diawasi oleh dewan yang tidak independen dalam pengerjaan kasusnya.

Suka atau tidak, isu taliban ini telah menggembosi sebagian kekuatan KPK. Kepercayaan publik terhadap KPK saat ini tetap kuat. Sebagian besar, mereka tetap percaya pada KPK. Hanya saja, sebagian lainnya memilih bungkam atau bahkan menolak percaya pada komisi ini karena isu ini. Kepercayaan mereka pada KPK jatuh bukan karena KPK dianggap tidak kredibel, tapi karena isu KPK disusupi oleh kelompok radikal garis keras dan memiliki kepentingan politik yang sama dengan kubu Prabowo.

Tidak bisa saya kira menyangkakan KPK telah menjadi alat politik kubu Prabowo hanya karena Bambang Widjojayanto dan Abdullah Hehamahua ada di kelompok tersebut. Mereka, berada di sana, atas dasar keputusan politik mereka sendiri. Dan yang terpenting adalah, mereka melakukan semua itu di saat telah keluar dari KPK. Di saat mereka tidak lagi menjadi bagian dari KPK.

Kini saya paham bagaimana perasaan dan perjuangan teman-teman di KPK terkait tuduhan menjadi polisi taliban dan memiliki kepentingan politik dengan kubu Prabowo. Bagaimana rasanya dituduh para buzzer politik yang belum tentu paham agama dan bahasa arab sebagai seorang radikal. Merasakan betapa beratnya perjuangan menghadapi rezim korup lengkap dengan buzzer-buzzer piaraan penguasa.

Kalau apa yang saya terima sih tidak akan berdampak apa-apa pada saya, keluarga, juga kelompok terdekat lainnya. Toh dengan dituduh taliban, keluarga bisa jadi percaya kalau saya memang tetap rajin beribadah ketika di luar rumah. Padahal ya, jangankan ibadah, menghindari dosa saja saya tak bisa. Hahaha, tali ban tai kucing. 

Beberapa waktu lalu saya pernah berkelakar pada seorang teman, jika dulu para aktivis gerakan harus dihabisi penguasa lewat aparat dan militer, kini mereka hanya butuh memelihara buzzer untuk menghajar aktivis dengan isu tertentu atau melaporkan mereka ke kepolisian dengan tuduhan penghinaan pada junjungan. Saya kira, masa itu telah benar-benar berlangsung dan tidak bisa kita hindari lagi.

Avatar
Aditia Purnomo
Ketua Komunitas Kretek
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.