OUR NETWORK

Televisi, Cermin Realitas Palsu

Sejatinya peran media dalam kehidupan sosial bukan sekadar sarana pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan informasi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial.

Ujian Akhir Semester (UAS) di tempat saya menempuh pendidikan tinggi telah selesai dilaksanakan. Sebagai anak rantau, kalau libur panjang saya pasti pulang ke rumah, menghabiskan waktu di rumah. Bercengkrama dengan keluarga, atau kadang mencari hiburan melalui tayangan di layar televisi.

Selama sepekan saya di rumah dan beberapa waktu menonton tayangan televisi, saya pun mulai berpikir “kok isinya gini-gini saja, ya?” Isinya tidak jauh dari berita soal Pemilu serentak beserta turunannya, kasus-kasus kriminal, pro-kontra sistem zonasi sekolah, tayangan hiburan yang sama sekali tidak berbobot, dan masih banyak lagi. Lalu kemana pemberitaan untuk saudara kita yang ada di Papua? Apa kabar warga Tamansari? Apa warga Tambakrejo? Dan masih banyak lagi rentetan kasus yang tidak terekspose di media. Jelas ini suatu keadaan yang ironi. Pemberitaan mengenai kemanusiaan dan agraria seakan-akan ditutup infonya agar khalayak tidak tahu bahwa Indonesia sedang krisis kemanusiaan dan darurat agraria.

Menurut McQuail dalam bukunya Mass Communication Theories, ada enam perspektif dalam hal melihat peran media. Media massa dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa. Media juga sering dianggap cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, pornografi dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal, sesungguhnya angle dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

Memandang media massa sebagai filter yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk konten yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di sini khalayak “disuguhkan” oleh media tentang apa-apa yang menurut mereka cocok untuk dikonsumsi dan mendapat perhatian. Media massa seringkali pula dipandang sebagai interpreter yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam. Melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan umpan balik. Media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.

Pada dasarnya media memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai sarana informasi, pendidikan, pengawasan dan hiburan. Di mana fungsi media seharusnya memberikan informasi kepada khalayak, agar khalayak mengetahui peristiwa yang terjadi di luar daerah tempat ia tinggal, di mana fungsi media untuk mendidik khalayak dengan memberikan informasi-informasi yang ilmiah-agar menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, di mana fungsi media dengan gamblang sebagai pengawas pemerintahan agar khalayak dapat mengontrol pemerintahan tersebut dan yang terakhir sebagai sarana hiburan untuk khalayak.

Di Indonesia sendiri, media diberikan kebebasan oleh negara melalui UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, yang menempatan pers sebagai kekuatan keempat dalam tatanan bernegera di Indonesia. Media atau pers telah berperan sebagai pelopor kemajuan teknologi dan pembangunan. Pers harus menjadi bagian dari proses edukasi pada masyarakat dan penyebar informasi pada masyarakat. Pada tataran praktik, sudah sesuai kah fungsi dan peran media di Indonesia? Terlebih pada dunia pertelevisian hari ini.

Apakah media dengan gamblang memberi informasi kepada khalayak? Saya rasa tidak. Framing yang dipilih oleh pemilik media ini justru menutupi keadaan Indonesia yang sejujurnya. Seakan dibuat kalau masalah di negeri ini hanyalah rakyat yang kriminil, SARA dan Pemilu saja. Ingat waktu warga Indonesia ramai-ramai bersolidaritas untuk Palestina? Percaya atau tidak, respon warga Indonesia terhadap Palestina adalah bentuk dari pemberitaan di media, dengan membawa isu kemanusiaan dan agama. Padahal, tidak perlu sampai jauh-jauh sampai ke Palestina kalau berbicara krisis kemanusiaan, di Indonesia sendiri pun sedang krisis kemanusiaan.

Sejatinya peran media dalam kehidupan sosial bukan sekadar sarana pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan informasi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku interaksi sosial. Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial.

Sebelum tulisan ini berakhir, saya hanya ingin bilang, sebagai khalayak yang cerdas ada baiknya kita tidak perlu terlalu percaya dengan media, jika kita tidak ingin disetir oleh sang pemiliki media. Karena jika Anda tahu, sebagian besar pemilik media merupakan para elite politik Indonesia dan terdapat dalam konglomerasi media. Sudah, jangan banyak nonton televisi, matikan saja televisi Anda.

Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…