Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Tekad dari Madura untuk SKK Buya Syafii | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Tekad dari Madura untuk SKK Buya Syafii

Pemenang Indonesian Idol 2018 Adalah Kita

Jokowi-JK saja boleh mengklaim diri mereka adalah kita, mengapa kita tak boleh mengklaim Maria pemenang Indonesian Idol 2018 demikian? Klaim adalah kunci. Kalau tidak...

TVRI, Televisi Tanpa Visi?

Dunia pertelevisian di Indonesia pernah mencapai puncaknya, yaitu saat frekwensinya dibuka untuk penyiaran TV swasta. Sejak itulah para pebisnis TV swasta bersaing merebut uang...

New Normal untuk Indonesia Lepas Landas

Bagi kritikus kebanyakan rasanya semua yang dilakukan orang lain itu salah! Yang benar hanya yang mereka fikirkan tetapi belum tentu juga mereka kerjakan. Kalangan...
Avatar
Moh. Shofan
Direktur Riset MAARIF Institute, Aktivis Muhammadiyah yang sedang menempuh program Doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Belum lama ini saya menerima tamu asal Sumenep, Madura. Namanya Akhmad Fauzi. Salah seorang peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK ASM) gelombang III⁩ yang berasal dari Pulau Garam.

Semangat belajarnya sungguh luar biasa. Bisa dilihat saat dia mengikuti short-course selama seminggu lamanya di Sawangan, Depok. Hampir di setiap sesi ia aktif bertanya. Bacaannya juga kuat. Keingintahuannya begitu besar.

Terlebih saat bertemu Kyai Abdul Moqsith Ghazali–yang sama-sama dari Madura–saat menjadi narasumber di acara SKK. Serasa pertemuan antara santri dan Kyainya. Keduanya belum pernah bertemu, tapi anehnya langsung akrab. Rupanya ikatan primordialitas kedaerahan begitu sangat kuat.

Sejak awal, saya melihat semangatnya begitu besar untuk bisa mengikuti kegiatan SKK. Anda bayangkan, jarak tempuh dari desa kelahirannya, Masa Lima, (Kecamatan Masa Lembu) ke kota Sumenep, memakan waktu kurang lebih 13 jam naik kapal, yang menurut pengakuannya hanya beroperasi dua kali saja dalam seminggu.

Dari kota Sumenep ke Surabaya memakan waktu 5 jam. Cukup jauh dan melelahkan, tentunya. Namun, bagi Fauzi, itu tidak ada artinya sama sekali dibanding tekad kuatnya untuk bisa mengikuti kegiatan SKK.

MAARIF mengambil kebijakan agar ia diberikan tiket pesawat dari Surabaya – Jakarta, mengingat esok harinya, ia harus mengikuti tes wawancara di kantor MAARIF. Sehingga sampai Jakarta, ia bisa beristirahat dengan cukup. Begitu pertimbangan kami.

Tinggal beberapa hari pasca short-course, Fauzi memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk mengunjungi senior seniornya yang aktif di PMII, dan juga teman temannya yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta.

Meskipun baru pertama kalinya ke Jakarta, dia cukup berani bepergian sendiri mencari alamat teman temannya—termasuk inisiatifnya mengunjungi rumah saya di Parung, Bogor. Kemarin dia saya ajak bergabung bersama rombongan Caknurian, Gusdurian, Cahaya Guru, ANBTI, untuk hadir dalam perayaan misa Natal bersama teman teman Kristiani di gereja Katedral. “Ini pengalaman saya pertama kali masuk Gereja. Apa kata teman teman saya jika mereka mengetahui saya berada di sini?”, katanya.

Dia suka sekali dengan pemikiran Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafii Maarif, utamanya tentang isu isu kebangsaan, keislaman, dan kemanusiaan. Karena itu, saat dia ke rumah, saya memberinya beberapa buku–yang kebetulan kembar–tentang pemikiran Cak Nur, Buya Syafii, dan sejumlah buku lain tentang isu isu pendidikan dan pluralisme. Dia sangat senang dan berjanji akan membacanya di rumah.

Saat pulang ke Sumenep, dia berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kepadanya saya beri nasehat. Hidup ini laksana angin, air dan api. Jangan terlalu percaya pada angin, sebab ia bisa menyesatkan kamu dari jalan pulang. Pun, jangan mengutuk api, karena panas yang ditimbulkannya. Dan, jangan berlebihan pada air sebab ia bisa membawamu ke badai besar.

Perlakukan ketiganya sebagaimana kamu menaruh kepercayaan pada kekuatan tubuhmu, pikirmu dan hatimu. Tubuhmu adalah api, pikirmu adalah angin, dan hatimu adalah air. Artinya apa?

Hidup itu perlu keseimbangan dalam melihat segala sesuatu. Pilihlah jalan hidup yang kamu yakini benar. Perjuangkan pilihanmu dan jangan menyerah oleh suatu keadaan–apapun itu. Jangan ragu ragu mengambil keputusan sebab keragu-raguan akan membawamu pada kerapuhan.

Sampai jumpa lagi, Akh Fauzi. Semoga di suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali.

Avatar
Moh. Shofan
Direktur Riset MAARIF Institute, Aktivis Muhammadiyah yang sedang menempuh program Doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.