Selasa, Maret 2, 2021

Takhayul Politik di Tengah Bencana

Babiku Sayang, Babiku Malang di Danau Toba

Ada-ada saja ulah manusia untuk sekadar kelihatan bekerja. Tak terlepas apakah dia seorang rakyat biasa ataupun dari kalangan pemimpin. Tindakan populis semata, atau ada...

Oposisi Setengah Hati Prabowo Subianto

Kalau diibaratkan permainan sepak bola, kubu calon presiden Prabowo Subianto itu sudah tertinggal cukup jauh dari lawannya, Joko Widodo. Sejumlah survei oleh berbagai lembaga menunjukkan...

Inilah Agama yang Saya Kagumi

Meski tak sepi dari doktrin eksklusif dan mengalami deviasi serta friksi akibat intervensi politik kotor sebagaimana agama-agama pada umumnya, teologinya bukan gertak teks klerik...

Selamat Jalan, Pak Sutopo. Terima Kasih atas Pengabdianmu

Pada titimangsa sama ketika Roberto Baggio gagal mencetak gol pada babak adu pinalti ke gawang Brazil, Sutopo Purwo Nugroho memulai tugas sebagai Pegawai Negeri...
Rijal Mumazziq
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah.

Kalau ada saudara, tetangga, maupun sahabat yang tertimpa musibah bencana alam, setidaknya kita ikut berbelasungkawa lalu membantu semampunya, bukan malah mengkaitkan dengan ini-itu, politik A-B-C, ulah ini-itu. Menjaga mulut kita, jemari kita, agar tidak asal njeplak biar tidak melukai perasaan korban itu lebih bijak.

Ketika Tsunami melanda Aceh, Desember 2004, banyak simpatisan politik yang mengkaitkannya dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Maksudnya, mereka menghubungkan peristiwa dahsyat tersebut dengan SBY. Yudhoyono diplesetkan secara serius menjadi Nyudho Nyowo (bahasa Jawa) alias mengurangi nyawa. Ini konyol, tapi banyak yang mempercayai. Ini semacam takhayul politik modern di Indonesia, sebagaimana orang Amerika mempercayai jika keluarga Kennedy terkena kutukan turun-temurun.

Kini dalam peristiwa gempa bumi di Lombok, banyak yang mengkaitkannya dengan pilihan politik Tuan Guru Bajang (TGB). Dari pendukung Prabowo ke pro-Jokowi. Akibat pilihan politik ini, daerah yang dia pimpin diguncang gempa bumi. Dikutuk akibat mendukung rezim. Azab dari Allah untuk suporter penguasa yang disokong asing dan aseng. Ini takhayul politik kontemporer.

Aneh, memang, tapi banyak yang mengimani.

Dalam logika ini ada dua skema: kalau musibah menimpa kelompok mereka, maka disebut azab; jika menimpa kubu kita, maka disebut ujian dan cobaan. Dalam bahasa Zimbabwe purba, pola pikir ini disebut dengan istilah “nggapleki“.

Anda tahu, mereka yang berpikir seperti itu ternyata juga punya pola pikir aneh terkait tragedi lain.

Bom meledak, misalnya. Alih-alih berduka cita, mereka malah memungut teori konspirasi entah dari mana. Bahwa ini adalah bikinan A untuk menuai B, dan seterusnya. Anehnya, jika pola pikir mereka ini dipinjam untuk melihat permasalahan yang mereka alami, mereka bakal sewot dan marah. Coba, ketika mereka punya masalah dan ditimpa penyakit, katakan saja jika itu adalah azab dari Allah atas tindakan dia yang begini-begitu; yakinlah bahwa Anda akan bakal dijauhi.

Lagi, jika dia tertimpa masalah, kecelakaan mobil, misalnya, kita bilang jika pelakunya sengaja mencelakakan diri untuk mencairkan asuransi, bagaimana reaksinya? Jelas marah. Memang, adil sejak dalam pikiran, sebagaimana kata Rhoma Irama, eh Pramoedya, itu sulit. Yang mudah ya menyalahkan orang lain. Apa pun konteksnya.

Dari sini kita tahu, pada sebuah tragedi bukan hanya ada simpati dan empati, melainkan ada orang tolol yang tidak punya otak dan tidak punya hati, yang mengaitkannya dengan peristiwa politik. Bersikap simpatik dan berpikir jernih memang sulit, Kawanku.

Ada sebuah peristiwa menarik 14 abad silam. Ketika Ibrahim putra Rasulullah Muhammad wafat, tidak berselang lama ada gerhana matahari cincin. Kepercayaan Arab Jahiliyyah menilai peristiwa gerhana sebagai wujud dari kesedihan alam atas wafatnya orang besar. Namun, Rasulullah menepis. Kemangkatan Ibrahim putra beliau tidak ada kaitannya dengan gerhana matahari. Lantas beliau memerintahkan umat Islam untuk menunaikan salat gerhana.

Kawan, dari Rasulullah kita belajar: duka pun selalu menyisakan ruang untuk berpikir jernih dan proporsional. Jadi, hentikan tahayul politikmu, berdoalah dan bantulah saudara-saudara kita. Kalau tidak mau, tahanlah jemarimu agar tidak menulis sesuatu memperkeruh suasana duka ini. Tahanlah, kisanak!

Rijal Mumazziq
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.