Rabu, Maret 3, 2021

Tak Mungkin Mengajarkan Kerbau Mengaum dan Menerkam

Merebut Tafsir Pancasila

Siapa berhak menafsir Pancasila—ketika umat Islam justru mengambil posisi head to head maka bisa jadi Pancasila diambil ‘orang lain’. Politik Kekuasaan tak mengenal jasa--membangun imperium...

Sandiaga Uno dan Erick Thohir, Bintang Pemilu 2024

Cukup lama tak terdengar kiprahnya usai gelaran Pilpres 2019, nama Sandiaga Uno tiba-tiba kembali mencuat. Presiden Jokowi menyebut Sandi sebagai tokoh yang patut diperhitungkan...

PKI Tak Pernah Bangkit Sebab Tak Pernah Mati, Muhammadiyah Melawan Lupa

Karl Popper pernah berkata, keliru adalah manusiawi, dan saya berbuat manusiawi sekaligus dua. Maka tesis Daniel Bell tentang The end of ideology pun patah....

Dilema Pidato AHY: Terlalu Militer Kurang Sipil, Terlalu SBY Kurang AHY

Setidaknya saya tiga kali satu forum dengan AHY. Di Kementerian Pertahanan di Jakarta, di ITB dan Universitas Parahyangan Bandung, terakhir di Berlin, Jerman. Waktu...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Di tengah langit yang sedang muram dan ambyar ini, tiba-tiba saja terdengar kabar, tuan muda Demokrat mencak-mencak. Awalnya dari status Denny Siregar yang menyindir serangan politik lewat anaknya. Jurus baper, salah satu warisan keluarga ini, akhirnya jadi andalan.

Denny Siregar bukan siapa-siapa. Saya tahu dia kenal banyak orang. Tapi tetap saja dia orang biasa. Rakyat pada umumnya. Menyerang Denny, seolah dia adalah lawan politik sepadan adalah kekeliruan. Demokrat menggali lubang kuburnya sendiri.

Jika mereka menganggap ini adalah peperangan, Demokrat tidak paham, perang yang mereka masuki ini tanpa ujung. Hasil yang akan mereka peroleh hanyalah kerugian dan kerugian.

Maklum saja, Demokrat adalah partai yang terancam bangkrut. Suara mereka terus merosot tajam. Besar kemungkinan pada pemilu mendatang, partai itu akan tereliminasi. Jika tak cepat dilakukan langkah penyelamatan.

Maka Demokrat sedang melakukan segala daya upaya. Mereka seperti kerbau yang sedang terperosok dalam lumpur. Menyerang Denny hanya langkah tambahan. Karena mereka tak bisa membidik Jokowi. Tak ada rotan akar pun jadi.

Taktik Demokrat sebenarnya boleh juga. Membelokkan serangan. Denny tak mungkin dihajar dengan menggunakan peluru partai. Sebesar apapun jaringan Demokrat. Mereka kalah melawan warga sipil.

Nama mereka akan tercemar. Meskipun sebelumnya juga tak bersih-bersih amat. Oleh sebab itu ditempuh cara lain, tuduhan cyber bullying.

Almira dijadikan seolah-olah korban. Sekarang posisi hendak dibalik, bukan partai lawan rakyat sipil, tapi orang dewasa versus seorang bocah.

Apakah ini akan berhasil?

Tentu tidak. Rencana ini telah gagal sejak dalam pikiran. Saya tidak tahu siapa konsultan Demokrat. Tetapi dalam hal ini, mereka bodoh sekali.

Atau jangan-jangan ini gagasan dari kepala bau kencur AHY sendiri? Kalau benar malah saya maklumi.

Secara jelas terlihat, Demokrat justru memperalat seorang bocah untuk masuk kubangan politik. Karenanya pesan politik yang dilesatkan bocah itu: lockdown.

Ada jutaan tema, tapi dia memilih tema politik.

Ini bukanlah gagasan di tempurung kepala gadis kecil biasa. Tapi cuci otak dan penyelewengan. Mungkin tidak dilakukan secara langsung. Awalnya bisa melalui gagasan sederhana. Memberikan gambaran tanpa pilihan.

Akhirnya, bocah yang lazimnya polos dan berpikir merdeka, menjadi terbebani oleh pesan-pesan politik orang tuanya.

Hal ini, jika memang karena alasan tugas sekolah, sebenarnya bisa dicegah. Orang tua harus menyelamatkan anaknya agar tidak jadi zombie politik. Meskipun kakek dan bapaknya anti kebijakan Pemerintah, gadis kecil itu jangan dilibatkan.

Oleh sebab itu pembicaraan tentang politik harus dihindarkan dari telinganya. Tapi agaknya bukan itu tujuan orang tua bocah ini. Mereka dengan sengaja telah membentuknya sedini mungkin. Menjadi zombie politik.

Melihat AHY hari ini mengingatkan kita pada Raffi Ahmad saat berpacaran dengan Yuni Shara. Raffi jelas jauh lebih muda. Untuk itu ia mengubah penampilannya. Memelihara jenggot dan kumis. Ia ingin terlihat dewasa. Atau setidaknya tampak pantas bersanding dengan pasangannya.

AHY dalam kondisi kejiwaan yang sama. Ia masih muda. Terlalu muda. Kemudi partai sudah diserahkan kepadanya. Padahal ia tak punya pengalaman yang cukup.

SBY, bapaknya, telah kehabisan waktu. Tampuk kekuasaan harus secepatnya diwariskan. Ia tahu anaknya belum siap. Hanya anak bawang dalam belantara politik. Belum apa-apa.

AHY juga sadar hal itu. Maka untuk menggenjot wibawanya, ia mengubah penampilan. Persis yang dilakukan Raffi dulu.

Mungkin ia berpikir, kedewasaan akan datang dari tampilan luar. Dari jenggot dan kumis yang dipanjangkan. Atau dari tindakan yang ditegas-tegaskan. Seperti upaya untuk memenjarakan Denny Siregar ini.

Tapi justru yang dia dapat adalah gelak tawa. Orang-orang hanya akan melihatnya sebagai seorang bocah yang kehilangan mainan. Mengamuk, merajuk, dan menjerit sejadi-jadinya.

Tak mungkin mengajarkan kerbau mengaum dan menerkam. Karena potensi kerbau bukan pada suara dan cakarnya. Tapi kekuatan otot dan daya tahan tubuhnya.

Sepertinya Demokrat tak paham filosofi ini. Mereka memaksakan tuan muda mengaum dan mencakar membabi-buta. Hasilnya lelucon. Bukan takut, khalayak malah tertawa.

Apa yang terjadi dengan Raffi, begitulah AHY hari ini. Sebagai laki-laki, saya memahami sikap inferior mereka. Meskipun tetap saja, saya ingin tertawa jika mengingatnya.

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.