Senin, November 30, 2020

Susi Pudjiastuti vs Sandiaga Uno

Kasus Neneng Nurhasanah dan Persoalan Birokrasi Kita

Bupati Bekasi Neneng Nurhasanah ditangkap KPK. Neneng bersama beberapa orang pejabat Pemda Bekasi diduga menerima suap dalam proses perizinan proyek perumahan berskala raksasa milik...

Hafiz, Ruang Publik, dan Intelektual yang Diam

Seorang hafiz (penghapal Qur'an) idealnya adalah juga seorang ilmuwan yang berpikir analitis dan kritis. Seperti Ibnu Sina (kedokteran), Al-Jabbar (matematika), atau Al-Battani (astronomi). Mereka...

Yeo Bee Yin, Syed Saddiq, dan Rongsokan Politik Kita

Malaysia sedang mabuk kepayang dengan demokrasinya. Kemenangan Pakatan Harapan menaikkan politisi umur 92 tahun, Mahathir Muhammad, menjadi perdana menteri. Dia menjadi politisi tertua di...

Mitos Tentang Militer

Sudah lama ditanamkan dalam batok kepala kita bahwa militer lebih disiplin dan lebih nasionalis dari sipil mana pun. Punya solidaritas dan kehormatan yang kuat...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Dulu, sebelum Jokowi memilih calon wakil presidennya, saya ditanya seorang kawan: Siapa kira-kira calon ideal untuk mendampingi Jokowi? Kawan saya itu bukan seorang politisi. Dia juga tidak ada hubungan dengan politisi mana pun. Kami hanya iseng. Kami hanya mencari kemungkinan terbaik. Kami tidak memperhatikan konstelasi politik. Kami juga tidak menganggap kami hendak memperbaiki negara. Kami omong politik seperti anak-anak milenial sekarang main video game.

Saat itu saya jawab Susi Pudjiastuti. Kawan saya itu tertawa. Mengapa? Apakah kamu serius? Apa pertimbangannya?

Jawaban saya sederhana saja. Dia luwes banget untuk melakukan politik eceran (retail politics). Politik eceran itu hanya istilah saya. Yang saya maksudkan adalah cara menjual sesuatu, entah ide atau kebijakan. Tidak ada politisi Indonesia yang lebih baik dari Susi Pudjiastuti dalam hal itu.

Namun kenyataan politik berakhir lain. Kita tahu, Jokowi akhirnya memilih Ma’ruf Amin. Dia lebih mendengarkan para jenderal di lingkaran dekatnya, yang merasa mampu untuk memainkan politik identitas dalam mengelola Indonesia.

Sampai sekarang saya masih ragu apakah itu keputusan yang tepat. Menurut saya, ada banyak faktor yang menjadikan keputusan itu sebuah blunder yang mungkin akan dibalas kekalahan dalam Pilpres 2019.

Terutama kalau ekonomi menjadi medan pertarungan utama kampanye. Dari laporan majalah Tempo terakhir, saya melihat orang-orang yang berusaha memoles Ma’ruf Amin tampaknya harus memutar otak sedikit lebih keras. Kata orang Inggris, “The stuff is just too hard to sell.”

Kembali ke Susi Pudjiastuti. Mengapa dia? Pertama, saya kira tidak ada politisi Indonesia modern yang punya life story sebagus Susi. Pendidikan formalnya hanya SMP. Tapi dia fasih bicara beberapa bahasa asing. Dia adalah self-made businesswoman, dan juga cukup sukses.

Secara politik, life story Susi juga berkonduite bagus. Dia bukan tipe pebisnis seperti Sandiaga Uno, yang mengumpulkan kekayaan sebagai venture capitalist. Sandi sangat mudah digambarkan sebagai vulture capitalist atau kapitalis pemakan bangkai, karena hobinya mencari perusahaan-perusahan sakit, beli murah, perbaiki sedikit hingga harga baik, dan jual kembali ratusan kali lipat harga beli.

Bisnis Susi adalah bekerja bersama nelayan—sebelum dia mengoperasikan perusahan penerbangan. Ini adalah bisnis yang bekerja dengan rakyat Indonesia kebanyakan. Tidak heran dia sangat menguasai portofolinya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Juga tidak heran dia tidak pernah canggung bicara dengan rakyat biasa. Tidak ada tindakan konyol seperti menaruh petai di kepala.

Saya kira, Susi Pudjiastuti juga sulit untuk ditarik ke dalam isu-isu sektarian. Selama menjadi menteri, dia tidak pernah masuk ke wilayah itu. Dalam kampanye, Susi akan menjadi suara yang bicara soal program. Dia bisa menjelaskan suatu kebijakan dengan sederhana tanpa terjebak ke dalam sektarianisme.

Kualitas lain Susi selama menjadi menteri adalah berhasil membikin image sebagai orang yang “no non-sense“, tanpa tedeng aling-aling. Dia bisa menjadi tandingan orang yang ingin berkampanye untuk pemimpin kuat. “Tenggelamkan!” itu bisa jadi satu kosa kata politik yang amat kuat. Dan yang mengatakan itu bukan seorang jenderal. Dia seorang perempuan tamatan SMP! Apa yang lebih kuat dari itu?

Sekarang ini makin kelihatan bahwa ekonomi akan menjadi isu kampanye yang paling penting. Ini titik lemah Jokowi. Setelah hampir empat tahun mendengung-dengungkan pembangunan infrastruktur, kini Jokowi menghadapi kenyataan pahit. Ekonomi meleleh. Pertumbuhan ekonomi melemah. BPJS merugi. Proyek infrastruktur mangkrak karena pembiayaan menjadi mahal akibat dolar menguat. Yang lebih gawat lagi kalau nanti impor bahan pangan (beras, gandum, kedele) makin mahal, pemerintah tidak akan mampu menyubsidinya.

Bagaimana jika $1 naik menjadi Rp.20 ribu? Itu bukan mimpi. Kemungkinan untuk itu ada dan semakin hari semakin membesar.

Saya menduga, itulah sebabnya akhir-akhir ini Menteri Susi muncul kembali dalam berita setelah lama absen (disimpan atau ditenggelamkan? ).

Kemarin saya melihat bagaimana dia menelikung dan membuat Sandiaga Uno seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa karena berusaha usil soal nelayan. Sandi mempersoalkan ijin melaut untuk nelayan.

Susi langsung menanggapinya dengan menguraikan kebijakan departemennya, dengan cara elegan. Ketika melihat tayangan videonya, reaksi pertama saya, “This lady knows how to fight ….” Satu sebutan politik Amerika yang patut disandang Susi adalah bahwa dia seorang Maverick.

Tentu saja, kelemahan Susi adalah bahwa dia tidak punya akar partai politik. Dia memang dibawa oleh PDIP, tapi dia bukan politisi karier yang naik ke kekuasaan lewat jalur partai.

Persoalan partai dan oligarki dalam sistem politik kita mungkin tidak akan membuat Susi Pudjiastuti bertahan dalam pusaran kekuasaan. Sekalipun sebenarnya dia bisa punya masa depan yang baik dalam politik Indonesia. Partai dan para oligark di Jakarta tidak akan membiarkan orang yang tidak bisa mereka kontrol untuk menjadi pemimpin.

Bagi saya, sekalipun karier politik Susi mungkin akan berakhir setelah Pilpres mendatang ini, dia tetap akan dikenang sebagai tokoh unik dalam sejarah politik Indonesia. Terlebih lagi dia perempuan, self-made businesswoman, dan otodidak.

Sebagai pengamat, satu-satunya yang saya sesalkan adalah bahwa saya tidak akan pernah melihat debat antara Susi Pudjiastuti dan Sandiaga Uno. Pasti seru. Sandi, betapapun sering konyol, bukan lawan yang enteng.

Saya sudah bisa membayangkan betapa membosankan debat antara Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin. Mereka pernah satu kubu.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.