Rabu, Januari 27, 2021

STM dan Akar Kekerasan Di Ruang Publik.

Saatnya Jokowi Memilih Kabinet Agile (Gesit dan Lincah) [Bagian 1]

Baru-baru ini muncul berita di beberapa media agar Presiden Terpilih Joko Widodo mempertimbangkan kabinet gesit dan lincah, usulan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Lembaga...

Berhenti Memaklumi Kesalahan Jokowi

Presiden Jokowi memberikan grasi untuk I Nyoman Susrama. Dia adalah otak pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, Anak Agung Gede Narendra Prabangsa. Susrama adalah adik...

Memahami Logika Habibie

“Kamu jangan membual sejauh itu, keterlaluan”, ujar Ilham, putra pertama Bacharuddin Jusuf Habibie, dalam bahasa Jerman kepada ayahnya. Sebabnya, sang ayah baru saja ditawari...

Mengarungi Alam Pikiran Eyang Habibie

Sewaktu almarhum kakek saya masih hidup. Ia pernah berkata—kurang lebih demikian, “saya berharap, kelak cucu-cucu saya seperti sosok Habibie.” Kalimat itu pernah terlontar ketika...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Presidennya bilang gebuk. Mentrinya bilang pembunuh Theys Pahlawan. Mentrinya akan buldozer yang hambat sawit. Polisinya bilang melanggar HAM boleh. Terus pada kaget, prihatin, dan bingung kenapa anak STM jadi beringas.

Bahasa kekerasan digunakan oleh negara dalam percakapan sehari-hari kepada publik. Lantas saat publik, yang kerap direpresi melawan, dibilang normalisasi kekerasan, tindakan barbar, dan tidak beradab. Bilang aja, yang boleh menggunakan kekerasan itu negara. Rakyat kudu pasrah.

Lembaga-lembaga negara seperti KPI dan KPAI demikian gencar berkomentar tentang moral, mengkritik tayangan televisi, dan juga hiburan publik. Bicara soal ancaman keruntuhan moral karena tayangan seronok, tapi diam dan bungkam dengan kebijakan dan produk kekerasan yang dibuat negara. Berita penggusuran, berita konflik agraria, dan kekerasan di daerah konflik nyaris tak pernah jadi sikap utama.

Saat protes Kendeng bertahun lalu, Saya ingat ada video polisi yang bentrok dengan ibu-ibu petani. Para pendukung istana merendahkan perempuan itu, mereka bilang, perempuan kok diajak demo bukannya di rumah masak dan rawat anak. Merendahkan perempuan dan peran mereka dalam protes publik.

Kemarin anak-anak STM datang melakukan protes, kekerasan terjadi, mereka melawan, lalu dituduh mengglorifikasi? Beberapa dari mereka sadar isu, menjawab secara bernas poin protes, tapi yang disebar, wawancara “Aasa uda nikah ga boleh merkosa istri?” Sebenarnya apa maunya? Mereka dianggap goblok?

Usaha merendahkan anak sekolah ini juga menggelikan. “Anak STM ga tau apa apa. Kok dibiarin demo Soal RKUHP. Tar bikin statemen ngawur.” Lha Presiden Joko Widodo menolak hal yang tidak ada dalam draf revisi UU KPK, soal penyadapan wajib izin pengadilan.

Anak STM ini cuma mau bolos bilang ikut demonstrasi. Lha pengesahan revisi UU KPK hanya dihadiri 100an orang, padahal absen 200an. Apa yang hendak kalian sampaikan? Padahal di sisi lain anak-anak STM ini ada yang bisa menjawab dengan baik, protes poin RKUHP, tentang perempuan yang tak boleh pulang malam. Sikap ini yang tak disampaikan di publik.

Kita merendahkan anak-anak STM ini karena rusuh, tapi menolak mendengar dan mengejek sikap mereka. Seolah-olah pilihan untuk bergerak, melakukan protes, mesti didasari oleh sikap intelektual dan solidaritas. Mereka lupa dalam banyak kasus agraria, kekerasan digunakan tanpa mau mendengar pembelaan publik, argumentasi warga, atau bahkan putusan sidang yang memenangkan rakyat. Lalu kita bicara soal pemahaman dan intelektualisme?

Kalian menganggap Anak STM udah lama suka kekerasan karena gemar tawuran? Salah! Bukan cuma anak STM yang suka kekerasan, sekolah-sekolah kedinasan juga ada, bahkan berujung kematian. Ini bukan glorifikasi, ini penyakit sistemik. Ya gimana kasus pelanggaran HAM juga ngga diselesaikan, kita diajarkan negara tentang impunitas.

Jangan lupa, ada politisi yang demikian dipuji dan disanjung karena dianggap berintegritas. Tapi gemar menggunakan kekerasan dan mulut penggemarnya nyaris tak bersuara saat ia bilang “Kalau saya ditanya, ‘Apa HAM anda?’ Saya ingin 10 juta orang hidup, bila dua ribu orang menentang saya dan membahayakan 10 juta orang, (maka dua ribu orang itu) saya bunuh di depan anda,”

Saya tak pernah setuju kekerasan ya, Saya benci sekali kekerasan. Tapi Saya paham kenapa ada kekerasan. Ada foto di atas pesan dari protes Hong Kong, bising sekali, dan harusnya bikin kita mikir.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.