Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Spiritualitas Baru, Bertuhan Tanpa Agama

Pergulatan Ekstremisme dan Multikulturalisme: Antara Politik Identitas dan Pluralitas

Buku yang bertajuk “Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals with Extremism, Pluralism, and Populism” merupakan karya seorang intelektual Muslim dan peneliti senior Lembaga...

Merayakan Hijrah Buya Syafii

Setelah belajar Muhammad Iqbal dengan Fazlur Rahman melalui teks Persia dibantu dengan terjemahan Inggris, Ahmad Syafii Maarif (ASM) 'gila' dengan Iqbal dan menjadikan filsuf-penyair...

Tanggapan untuk IAD Mengenai Pemotongan Salib di Yogyakarta

Tulisan Iqbal Aji Daryono (IAD) kemarin memberikan pemakluman terhadap peristiwa pemotongan salib di pemakaman di Kotagede, Yogyakarta, dan mencemooh mereka yang menyematkan kata intoleransi...

Dari Sandi Santri Ke Sandi Ulama: PKS “Berak dalam Periuk”

Bulan Agustus 2018, saat Deklarasi BOSAN (Prabowo Subiharto dan Sandiwara Uno), Sokibul Iman, petinggi PKS (Partai Keadilan Sepihak) mengklaim Sandi sebagai santri. Sebulan kemudian,...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Beragama dengan murung. Melahirkan ke-tak-bahagia-an. Tuhan yang diingat adalah Tuhan yang penuh murka. ‘Tuhan’ yang ribet dengan banyak aturan yang menjerat.

Tuhan, agama, dan spiritualitas tiga hal mendasar yang terlihat berakar sama dan sukar dipilah, tapi jelas berbeda dalam ranah teknisnya. Sebab konsep Tuhan lebih merujuk pada ke-mutlak-an, agama merujuk pada hal-hal teknis, sedang spiritualitas pada yang profan.

Andrew Newberg seorang neuroscientist dan Mark Robert Waldman, therapist, belasan tahun meneliti apa yang terjadi pada pikiran orang beragama, dan spiritualis.

Di belahan bumi bagian barat, kekecewaan terhadap ajaran agama yang ribet, banyak aturan, selisih dan berebut benar di antara pemeluk agama yang sama melahirkan sikap skeptis dan mengantarkan mereka pada sikap spiritualitas tanpa syariat-agama. Sekaligus sinyal kuat bagi paham Salafi Wahabi yang kerap menjadi bahan olok kaum Kristiani karena kaku pada hal-hal teknis.

Sejak tahun 2012, lima negeri Skandinavia selalu nangkring di urut atas dalam daftar “World Happiness Report” (WHR) yang diterbitkan PBB tiap tahun. Mereka dikenal sangat bahagia, percaya sesama, toleran, peduli, suka membantu, menghormati orangtua, adil, berkata sangat ramah. Yang kemudian disebut sebagai ‘Islamicity Index’ oleh beberapa ulama dan cendekiawan muslim.

Report ini untuk mengukur negeri mana saja yang punya nilai tinggi dalam soal: GDP per capita, freedom to make life choices, life expectancy, generosity, perception of corruption, and social support (ada 6 yang diukur).

Warga di lima negeri Skandinavia ini kerap disurvei, karena penduduknya yang dikenal happy atau bahagia, salah satunya oleh Philip Joseph Zuckerman, seorang sosiologis, pada tahun 2008 tapi sayang dinyatakan kebanyakan warganya tidak peduli lagi (lupa) pada soal Tuhan meski sangat religius. Sebuah konsep baru religiositas tanpa Tuhan.

Tantangan besar bagi agama-agama old ‘konvesional’ semisal Islam, Kristen, Katolik, Budha dan lainnya. Betapapun kita jujur bahwa pemeluk agama-agama kian menyusut, tempat-tempat ibadat semisal masjid, gereja, vihara mulai sepi ditinggal pemeluknya.

‘Ala bi dzikrillah tathmainul qulub —‘ dipersepsi sebagai bentuk spiritualitas tertinggi untuk menggantikan konsep keberagamaan yang dicap ribet dan berbelit karena urusan teknis. Allah berfirman: ‘Aku sebagaimana prasangka hambaKu —janganlah kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku’. Sebagai tambahan energi untuk lebih mendekap pada jalan spiritualitas.

Gejala spiritualisme tanpa agama ini harus ditangkap secara serius, jujur dan lapang dada, mungkin kaum agamawan ada salah saji— agama telah tereduksi pikiran buruk karena nafsu ikut menafsir- sebagaimana diingatkan dalam firman Tuhan pada surat al Jatsiyah ketika pandangan pandangan pribadi ikut mereduksi agama, menentukan benar salah yang kemudian disebut kaum Dahriyun.

Yang disajikan tentang Tuhan dan agama adalah pandangan pribadi yang diberhalakan dan dipaksakan sebagai kebenaran. Dari sinilah agama menjadi rusak binasa. Wallahu taala alm

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berperang Melawan Infodemi

Menurut (Eshet-Alkalai, 2004) ruang maya atau cyberspace bukan hanya desa global atau global village melainkan hutan belantara yang lebat dengan segala informasi. Informasi tersebut bisa jadi...

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.