Senin, Oktober 26, 2020

Spiritualitas Baru, Bertuhan Tanpa Agama

Sapi yang Tidak Peduli Keluhan Tikus

Pada suatu hari, seekor tikus sedang mencari makan. Seperti biasa, dia menyelinap masuk ke dalam gudang. Saat sibuk meraba-raba gudang yang gelap, tikus menemukan...

Perlukah Pasal Penghinaan Presiden?

Sampul majalah Tempo tanggal 16-22 September menuai kontroversi. Gambar yang memuat bayangan presiden Joko Widodo dengan hidung panjang itu menurut sebagian pendukung Jokowi telah...

Papua, Eksploitasi, dan Lahirnya Suatu Negeri

Negara dengan luas wilayah terbesar di Asia Tenggara merayakan hari jadinya ke-74. Dari Sabang Sampai Marauke, itulah klaim yang sampai detik ini didoktrinkan kepada...

Arteria, Hewan Peliharaan, dan Kelainan Psikologis

Tulisan ini tak ada hubungannya dengan Arteria yang sedang hangat dibicarakan gara-gara barangkali merasa "gelisah" dalam sebuah acara di televisi kemarin malam. Dalam acara...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Beragama dengan murung. Melahirkan ke-tak-bahagia-an. Tuhan yang diingat adalah Tuhan yang penuh murka. ‘Tuhan’ yang ribet dengan banyak aturan yang menjerat.

Tuhan, agama, dan spiritualitas tiga hal mendasar yang terlihat berakar sama dan sukar dipilah, tapi jelas berbeda dalam ranah teknisnya. Sebab konsep Tuhan lebih merujuk pada ke-mutlak-an, agama merujuk pada hal-hal teknis, sedang spiritualitas pada yang profan.

Andrew Newberg seorang neuroscientist dan Mark Robert Waldman, therapist, belasan tahun meneliti apa yang terjadi pada pikiran orang beragama, dan spiritualis.

Di belahan bumi bagian barat, kekecewaan terhadap ajaran agama yang ribet, banyak aturan, selisih dan berebut benar di antara pemeluk agama yang sama melahirkan sikap skeptis dan mengantarkan mereka pada sikap spiritualitas tanpa syariat-agama. Sekaligus sinyal kuat bagi paham Salafi Wahabi yang kerap menjadi bahan olok kaum Kristiani karena kaku pada hal-hal teknis.

Sejak tahun 2012, lima negeri Skandinavia selalu nangkring di urut atas dalam daftar “World Happiness Report” (WHR) yang diterbitkan PBB tiap tahun. Mereka dikenal sangat bahagia, percaya sesama, toleran, peduli, suka membantu, menghormati orangtua, adil, berkata sangat ramah. Yang kemudian disebut sebagai ‘Islamicity Index’ oleh beberapa ulama dan cendekiawan muslim.

Report ini untuk mengukur negeri mana saja yang punya nilai tinggi dalam soal: GDP per capita, freedom to make life choices, life expectancy, generosity, perception of corruption, and social support (ada 6 yang diukur).

Warga di lima negeri Skandinavia ini kerap disurvei, karena penduduknya yang dikenal happy atau bahagia, salah satunya oleh Philip Joseph Zuckerman, seorang sosiologis, pada tahun 2008 tapi sayang dinyatakan kebanyakan warganya tidak peduli lagi (lupa) pada soal Tuhan meski sangat religius. Sebuah konsep baru religiositas tanpa Tuhan.

Tantangan besar bagi agama-agama old ‘konvesional’ semisal Islam, Kristen, Katolik, Budha dan lainnya. Betapapun kita jujur bahwa pemeluk agama-agama kian menyusut, tempat-tempat ibadat semisal masjid, gereja, vihara mulai sepi ditinggal pemeluknya.

‘Ala bi dzikrillah tathmainul qulub —‘ dipersepsi sebagai bentuk spiritualitas tertinggi untuk menggantikan konsep keberagamaan yang dicap ribet dan berbelit karena urusan teknis. Allah berfirman: ‘Aku sebagaimana prasangka hambaKu —janganlah kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku’. Sebagai tambahan energi untuk lebih mendekap pada jalan spiritualitas.

Gejala spiritualisme tanpa agama ini harus ditangkap secara serius, jujur dan lapang dada, mungkin kaum agamawan ada salah saji— agama telah tereduksi pikiran buruk karena nafsu ikut menafsir- sebagaimana diingatkan dalam firman Tuhan pada surat al Jatsiyah ketika pandangan pandangan pribadi ikut mereduksi agama, menentukan benar salah yang kemudian disebut kaum Dahriyun.

Yang disajikan tentang Tuhan dan agama adalah pandangan pribadi yang diberhalakan dan dipaksakan sebagai kebenaran. Dari sinilah agama menjadi rusak binasa. Wallahu taala alm

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.