Senin, Januari 25, 2021

Spiritualitas Baru, Bertuhan Tanpa Agama

Memang Apa Sih Jalan Tol Itu Sebenarnya?

Saya tertarik pada satu berita yang ditulis oleh Tribunnews setahun yang lampau. Dalam berita yang berjudul cukup provokatif “Wah, Ternyata Jalan Tol Itu Singkatan...

Jalan Sunyi Ahok 2024

Dalam keraguan, selalu ada jawaban. Meski kerap kali jawaban itu dalam kesunyian. Kebangkitan lagi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dimulai. Tanda kebangkitan itu adalah peluncuran...

Mengapa Visi-Misi-Program Kandidat Harus Disusun Secara Partisipatif

Kebijakan pemerintah yang tidak nyambung dengan masalah yang dihadapi warga sudah menjadi cerita klasik yang terus terulang di berbagai tempat. Masalah kemacetan dan ketiadaan...

“Bumi Manusia” ini Berat, Dilan Saja Tak Sanggup!

Sebelum kuliah di Universitas Negeri Medan, tepatnya di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya sudah sering menonton film Harry Potter. Film ini...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Beragama dengan murung. Melahirkan ke-tak-bahagia-an. Tuhan yang diingat adalah Tuhan yang penuh murka. ‘Tuhan’ yang ribet dengan banyak aturan yang menjerat.

Tuhan, agama, dan spiritualitas tiga hal mendasar yang terlihat berakar sama dan sukar dipilah, tapi jelas berbeda dalam ranah teknisnya. Sebab konsep Tuhan lebih merujuk pada ke-mutlak-an, agama merujuk pada hal-hal teknis, sedang spiritualitas pada yang profan.

Andrew Newberg seorang neuroscientist dan Mark Robert Waldman, therapist, belasan tahun meneliti apa yang terjadi pada pikiran orang beragama, dan spiritualis.

Di belahan bumi bagian barat, kekecewaan terhadap ajaran agama yang ribet, banyak aturan, selisih dan berebut benar di antara pemeluk agama yang sama melahirkan sikap skeptis dan mengantarkan mereka pada sikap spiritualitas tanpa syariat-agama. Sekaligus sinyal kuat bagi paham Salafi Wahabi yang kerap menjadi bahan olok kaum Kristiani karena kaku pada hal-hal teknis.

Sejak tahun 2012, lima negeri Skandinavia selalu nangkring di urut atas dalam daftar “World Happiness Report” (WHR) yang diterbitkan PBB tiap tahun. Mereka dikenal sangat bahagia, percaya sesama, toleran, peduli, suka membantu, menghormati orangtua, adil, berkata sangat ramah. Yang kemudian disebut sebagai ‘Islamicity Index’ oleh beberapa ulama dan cendekiawan muslim.

Report ini untuk mengukur negeri mana saja yang punya nilai tinggi dalam soal: GDP per capita, freedom to make life choices, life expectancy, generosity, perception of corruption, and social support (ada 6 yang diukur).

Warga di lima negeri Skandinavia ini kerap disurvei, karena penduduknya yang dikenal happy atau bahagia, salah satunya oleh Philip Joseph Zuckerman, seorang sosiologis, pada tahun 2008 tapi sayang dinyatakan kebanyakan warganya tidak peduli lagi (lupa) pada soal Tuhan meski sangat religius. Sebuah konsep baru religiositas tanpa Tuhan.

Tantangan besar bagi agama-agama old ‘konvesional’ semisal Islam, Kristen, Katolik, Budha dan lainnya. Betapapun kita jujur bahwa pemeluk agama-agama kian menyusut, tempat-tempat ibadat semisal masjid, gereja, vihara mulai sepi ditinggal pemeluknya.

‘Ala bi dzikrillah tathmainul qulub —‘ dipersepsi sebagai bentuk spiritualitas tertinggi untuk menggantikan konsep keberagamaan yang dicap ribet dan berbelit karena urusan teknis. Allah berfirman: ‘Aku sebagaimana prasangka hambaKu —janganlah kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku’. Sebagai tambahan energi untuk lebih mendekap pada jalan spiritualitas.

Gejala spiritualisme tanpa agama ini harus ditangkap secara serius, jujur dan lapang dada, mungkin kaum agamawan ada salah saji— agama telah tereduksi pikiran buruk karena nafsu ikut menafsir- sebagaimana diingatkan dalam firman Tuhan pada surat al Jatsiyah ketika pandangan pandangan pribadi ikut mereduksi agama, menentukan benar salah yang kemudian disebut kaum Dahriyun.

Yang disajikan tentang Tuhan dan agama adalah pandangan pribadi yang diberhalakan dan dipaksakan sebagai kebenaran. Dari sinilah agama menjadi rusak binasa. Wallahu taala alm

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.