Minggu, Februari 28, 2021

Si Jenggot Kapitalis yang Berkedok Agama

Al Qur’an dan Pom Bensin

Foto pom bensin yang memberikan bonus dua liter gratis bagi pembeli yang apal dua jus al Quran jadi perbincangan publik. Beberapa menilai sebagai gimmick...

Mencari Arti dan Cara Dunia Bekerja Melalui Film Parasite

Parasite adalah film Bong Joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera kita pahami sebagian tak sampai sepertiga durasi....

Indonesia Tanpa Bali? Mustahil!

Bali belakangan ini kembali jadi buah bibir. Megawati melempar “humor tentang kursi” di Kongres V partainya di pulau indah itu. Padahal saya menantikan refleksi...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Kasus Injil berbahasa Minang akhirnya berbuntut panjang. Irfianda Abidin Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) bahkan mencoret identitas keminangan dari Ade Armando. Orang ini mungkin menganggap, kekerabatan Minangkabau seperti struktur pemerintahan. Jadi dia bisa berbuat seenaknya. Karena merasa jadi pemimpin tertinggi.

Irfianda Abidin ini tidak mengerti tentang kekerabatan dalam struktur adat Minang. Ia menganggap organisasi MTKAAM itu penting, padahal itu hanya ormas. Tidak punya kekuatan apa-apa selain koar-koar. Tidak mengikat. Dan tidak ada efeknya bagi kehidupan Ade Armando, serta orang Minang yang lain.

Dilihat dari sejarahnya, MTKAAM adalah organisasi politik, bahkan partai politik. Seiring berjalannya waktu, ormas sejenis ini sengaja dibentuk oleh Orde Baru untuk mengekang ninik mamak (sesepuh adat). Dalam sejarah Minangkabau, wali nagari itu yang tertinggi di nagari (wilayah adat). Tidak ada kekuatan adat yang lebih tinggi dari itu. Tidak ada penghulu di atas Penghulu Nagari.

Hubungan antar nagari tidak bersifat hierarkis, tapi kultural. Satu penghulu tidak bisa memerintah penghulu yang lain. Tapi Orde Baru ingin mengubah itu. Mereka ingin mengendalikan ninik mamak dan pemuka adat agar berjalan dalam koridor kepemimpinan Soeharto.

Dengan dasar inilah, MTKAAM tidak punya kekuatan apa-apa. Mereka tidak bisa memerintah dan menjatuhkan vonis pada siapapun. MTKAAM hanya ormas, kalau Pemerintah mau, besok bisa dibubarkan. Mungkin Irfianda Abidin menganggap, kalau jadi ketua MTKAAM dia bisa bertingkah seperti raja. Merasa punya kekuatan hukum dan politik untuk menekan seseorang. Ngimpi!

Ini ilusi yang tercipta akibat seseorang merindukan jabatan politik yang tak bisa dicapainya. Irfianda ini memang seorang politikus. Dia kader Partai Bulan Bintang. Partai gurem yang bermimpi muluk ingin kembali membangkitkan Masyumi yang telah jadi abu sejarah.

Yang menarik adalah, Irfianda Abidin ini memiliki kedekatan dengan gerombolan garis keras. Lelaki berjenggot panjang ini juga aktif dalam kegiatan politik dengan identitas keagamaan. Belum lama ini dia juga mendorong berdirinya Masyumi Reborn. Dan yang tak mengejutkan, Irfianda adalah salah satu motor penggerak perkumpulan tukang ribut 212.

Orang-orang seperti ini memang kerap kali menciptakan paradoks. Irfianda sekilas terlihat saleh, dan jika menerawang jenggotnya itu, ia adalah seorang yang wirai, tidak suka keduniawian. Tapi faktanya dia ini seorang kapitalis. Bisnisnya menggurita dalam banyak sektor. Mulai hotel, garmen, bimbingan belajar, sampai SPBU.

Bagi khalayak, mungkin dia adalah figur tokoh adat sekaligus tokoh agama. Padahal sejatinya orang ini ya hanya seorang politikus dan kapitalis tulen. Agama adalah komoditi biasa yang menjadi lapak dagangan orang-orang seperti ini.

Islam tidak melarang orang untuk kaya, tapi berpenampilan seolah-seolah ahli agama dan wara adalah sebuah kepalsuan beragama. Ini yang berbahaya. Karena orang-orang awam akan menganggapnya ulama dan panutan. Padahal sejatinya aktor politik dan bisnisman tulen berbaju agama.

Jadi, keributan yang ditimbulkan oleh orang-orang Minang semacam Irfianda ini karena ada kepentingan politik. Gubernurnya PKS, ketua adatnya PBB, anggota DPR-nya kader PAN. Jadi sejatinya ini bukan persoalan agama, tapi sudah masuk kepentingan politik. Tiga partai berlabel agama tadi memang sering jualan isu-isu soal agama. Karena konstituen mereka kebanyakan adalah orang-orang yang mabuk agama.

Minangkabau pernah mengalami zaman keemasan. Cerdik-pandai yang lahir di sana adalah tonggak pendiri negara ini. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, Minangkabau adalah suluh ilmu pengetahuan. Tapi zaman gemilang itu telah terkubur sekian lama. Kini dari tanah yang sama tumbuh para bigot yang mabuk agama.

Jangankan mengikuti ajaran secemerlang Tan Malaka, Sutan Syahrir atau Mohammad Hatta, untuk meniru Buya Syafii Maarif saja mereka jauh levelnya. Kegelapan di Sumatera Barat sudah terjadi sejak lama. Karena orang-orang seperti Irfianda ini merajalela di sana.

Bayangkan saja, orang seperti Irfianda berlagak mau mencabut status keminangan Ade Armando, padahal dia bukan siapa-siapa. Menjadi ketua MTKAAM juga tak bermakna apa-apa. Itu kan hanya organisasi yang tak punya kewenangan adat sama sekali. Sayangnya, orang seperti ini barangkali tidak punya cermin di rumahnya…

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.