Jumat, Januari 22, 2021

Si Jenggot Kapitalis yang Berkedok Agama

Adakah Hak Asasi Manusia untuk Pelaku Teror?

Menyatakan bahwa satu sistem pemerintahan lebih baik daripada yang lain itu pendapat, bukan kejahatan. Tapi Mengajak orang untuk melakukan tindakan pembunuhan atas nama Tuhan...

Kasus Neneng Nurhasanah dan Persoalan Birokrasi Kita

Bupati Bekasi Neneng Nurhasanah ditangkap KPK. Neneng bersama beberapa orang pejabat Pemda Bekasi diduga menerima suap dalam proses perizinan proyek perumahan berskala raksasa milik...

Nasib Bonus Demografi, Corona Tambah Ngeri

Dampak penyebaran virus corona terhadap manusia sungguh tidak main-main. Virus yang didapati berawal dari Wuhan, China ini dilaporkan telah menelan lebih ribuan korban. Di...

Ilusi 7.000 Triliun Para Pendukung Jokowi

Sejak beberapa waktu lalu, linimasa Facebook saya diisi oleh "berita" bahwa Presiden Jokowi akan menyita 7.000 triliun milik 84 warga Indonesia yang disimpan di...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Kasus Injil berbahasa Minang akhirnya berbuntut panjang. Irfianda Abidin Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) bahkan mencoret identitas keminangan dari Ade Armando. Orang ini mungkin menganggap, kekerabatan Minangkabau seperti struktur pemerintahan. Jadi dia bisa berbuat seenaknya. Karena merasa jadi pemimpin tertinggi.

Irfianda Abidin ini tidak mengerti tentang kekerabatan dalam struktur adat Minang. Ia menganggap organisasi MTKAAM itu penting, padahal itu hanya ormas. Tidak punya kekuatan apa-apa selain koar-koar. Tidak mengikat. Dan tidak ada efeknya bagi kehidupan Ade Armando, serta orang Minang yang lain.

Dilihat dari sejarahnya, MTKAAM adalah organisasi politik, bahkan partai politik. Seiring berjalannya waktu, ormas sejenis ini sengaja dibentuk oleh Orde Baru untuk mengekang ninik mamak (sesepuh adat). Dalam sejarah Minangkabau, wali nagari itu yang tertinggi di nagari (wilayah adat). Tidak ada kekuatan adat yang lebih tinggi dari itu. Tidak ada penghulu di atas Penghulu Nagari.

Hubungan antar nagari tidak bersifat hierarkis, tapi kultural. Satu penghulu tidak bisa memerintah penghulu yang lain. Tapi Orde Baru ingin mengubah itu. Mereka ingin mengendalikan ninik mamak dan pemuka adat agar berjalan dalam koridor kepemimpinan Soeharto.

Dengan dasar inilah, MTKAAM tidak punya kekuatan apa-apa. Mereka tidak bisa memerintah dan menjatuhkan vonis pada siapapun. MTKAAM hanya ormas, kalau Pemerintah mau, besok bisa dibubarkan. Mungkin Irfianda Abidin menganggap, kalau jadi ketua MTKAAM dia bisa bertingkah seperti raja. Merasa punya kekuatan hukum dan politik untuk menekan seseorang. Ngimpi!

Ini ilusi yang tercipta akibat seseorang merindukan jabatan politik yang tak bisa dicapainya. Irfianda ini memang seorang politikus. Dia kader Partai Bulan Bintang. Partai gurem yang bermimpi muluk ingin kembali membangkitkan Masyumi yang telah jadi abu sejarah.

Yang menarik adalah, Irfianda Abidin ini memiliki kedekatan dengan gerombolan garis keras. Lelaki berjenggot panjang ini juga aktif dalam kegiatan politik dengan identitas keagamaan. Belum lama ini dia juga mendorong berdirinya Masyumi Reborn. Dan yang tak mengejutkan, Irfianda adalah salah satu motor penggerak perkumpulan tukang ribut 212.

Orang-orang seperti ini memang kerap kali menciptakan paradoks. Irfianda sekilas terlihat saleh, dan jika menerawang jenggotnya itu, ia adalah seorang yang wirai, tidak suka keduniawian. Tapi faktanya dia ini seorang kapitalis. Bisnisnya menggurita dalam banyak sektor. Mulai hotel, garmen, bimbingan belajar, sampai SPBU.

Bagi khalayak, mungkin dia adalah figur tokoh adat sekaligus tokoh agama. Padahal sejatinya orang ini ya hanya seorang politikus dan kapitalis tulen. Agama adalah komoditi biasa yang menjadi lapak dagangan orang-orang seperti ini.

Islam tidak melarang orang untuk kaya, tapi berpenampilan seolah-seolah ahli agama dan wara adalah sebuah kepalsuan beragama. Ini yang berbahaya. Karena orang-orang awam akan menganggapnya ulama dan panutan. Padahal sejatinya aktor politik dan bisnisman tulen berbaju agama.

Jadi, keributan yang ditimbulkan oleh orang-orang Minang semacam Irfianda ini karena ada kepentingan politik. Gubernurnya PKS, ketua adatnya PBB, anggota DPR-nya kader PAN. Jadi sejatinya ini bukan persoalan agama, tapi sudah masuk kepentingan politik. Tiga partai berlabel agama tadi memang sering jualan isu-isu soal agama. Karena konstituen mereka kebanyakan adalah orang-orang yang mabuk agama.

Minangkabau pernah mengalami zaman keemasan. Cerdik-pandai yang lahir di sana adalah tonggak pendiri negara ini. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, Minangkabau adalah suluh ilmu pengetahuan. Tapi zaman gemilang itu telah terkubur sekian lama. Kini dari tanah yang sama tumbuh para bigot yang mabuk agama.

Jangankan mengikuti ajaran secemerlang Tan Malaka, Sutan Syahrir atau Mohammad Hatta, untuk meniru Buya Syafii Maarif saja mereka jauh levelnya. Kegelapan di Sumatera Barat sudah terjadi sejak lama. Karena orang-orang seperti Irfianda ini merajalela di sana.

Bayangkan saja, orang seperti Irfianda berlagak mau mencabut status keminangan Ade Armando, padahal dia bukan siapa-siapa. Menjadi ketua MTKAAM juga tak bermakna apa-apa. Itu kan hanya organisasi yang tak punya kewenangan adat sama sekali. Sayangnya, orang seperti ini barangkali tidak punya cermin di rumahnya…

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.