Jumat, Oktober 30, 2020

Setelah Kudeta Film Dilan 1991, Mahasiswa Makassar Akan Sweeping Buku La Galigo. Ada Apa?

Duh, Ironi Privasi dan Kita yang Diawasi

Sejak mulai diberlakukannya tatanan normal baru Juni lalu, kantor saya mulai memberlakukan presensi pegawai secara online dengan share location melalui aplikasi Whatsapp sesuai jam kerja...

Pak Gubernur, Jangan Tutup Sekolahku!

Hanya 20 siswa. Dibagi 3 rombel. Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, tempat gadis penyandang disabilitas dirundung—semua murid kami terima karena hanya...

Prabowo Subianto, Donald Trump Kecil dari Indonesia

Ketika melihat pidato capres Prabowo Subianto tentang hotel-hotel di Jakarta, saya merasa sesuatu yang sangat familiar. Berbeda dari banyak orang yang menganggap Prabowo mengejek...

Pertarungan Dua Petisi: Mendukung atau Membubarkan FPI?

Ijin Front Pembela Islam (FPI) akan habis tanggal 20 Mei ini. Perdebatan menyeruak tentang apakah pemerintah harus memperpanjang ijin organisasi ini atau tidak. Kita tahu,...
Avatar
Dhihram Tenrisau
Penulis dan juga Dokter Gigi Muda.

Makassar, MANDHANINEWS — Setelah Mahasiswa Makassar melakukan penolakan dan kericuhan terkait film Dilan 1991, para mahasiswa ini akan melakukan kudeta terhadap film tersebut di bioskop-bioskop kota Makassar.

Niat itu disampaikan dalam konfrensi pers Aliansi Mahasiswaan Peduli Pendidikang di Liquid Club, Hotel Clarion, Sabtu dini hari (2/3).

“Kami akan melakukan kudeta terhadap orang-orang yang terlibat pemutaran film Dilan 1991, seperti adegan di G30SPKI,” tutur Baco selaku ketua Aliansi tersebut sembari diiringi musik oleh DJ.

Mereka bertutur akan melakukan penculikan terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film ini. Mulai dari Iqbal Ramadhan, sang penulis Pidi Baiq, sang sutradara Fajar Nugros, hingga mbak-mbak yang menjual tiket dan menjaga pintu studio sekuel film Dilan 1990 ini.

“Akan kami bilang, ‘Makassar itu merah, Dilang, seperti jersey PSM (Pesatuan Sepakbola Makassar)’, lalu kita sayat bersama-sama,” tuturnya setelah menenggak sebotol whiskey.

Menurutnya, film ini sangat jauh dari nilai kearifan lokal Bugis-Makassar. Juga dapat berbahaya bagi warisan budaya di Bugis-Makassar.

“Di film Dilang, tidak ada adegan berartung pakai badik dan sitobo lalang lipa‘ (pertarungan dalam sarung khas Bugis-Makassar). Harusnya Dilang sama gurunya seperti itu, itu baru laki dan jantan,” lanjut Baco sembari mengangkat sebotol whiskey yang sisa seperempat itu.

Selain dari itu, aliansi lintas mahasiswa Makassar ini sepakat untuk memberi tiada batasan umur untuk film Foxtrot Six dan The Night Comes for Us. Film aksi yang menunjukkan kekerasan dan kesadisan itu menurutnya bagus untuk anak-anak.

“Karena ini akan bagus untuk pembinaan karakter usia dini, utamanya untuk anak SD,” tutur mahasiswa semester 20 Universitas Hampir Swasta Makassar (Uhamsam).

Menurutnya anak-anak harus dibiasakan terhadap kekerasan, agar mereka dapat terbiasa dengan lingkungan yang keras di Indonesia.

Dalam acara yang dilangsungkan hingga subuh itu, dia mengatakan pihaknya akan mendukung remake film G30SPKI.

Setelah melakukan kudeta terhadap film Dilan 1991, Baco menuturkan pihaknya akan melakukan sweeping terhadap buku-buku yang melecehkan nilai dan budaya Bugis-Makassar.

Dalam rilisan yang diterima oleh Bombonews, terlihat beberapa penelitian di sejumlah institusi pendidikan. Juga terlihat beberapa buku, seperti, Latoa karya antropolog begawan Prof. Mattulada, Manusia Bugis karya peneliti senior Christian Pelras, Semesta Manusia karya budayawan Nirwan A. Arsuka, dan La Galigo.

“Buku-buku itu mengajarkan bahwa masyarakat Bugis-Makassar itu bersifat terbuka, intelektual, dan ramah. Padahal dari kata ‘kasar’ di ‘Makassar’, sudah jelas bahwa orang Bugis-Makassar itu primitif,” lanjutnya.

Dia juga menuturkan bahwa epik La Galigo—epik mitos tentang penciptaan dari Bugis Makassar, karya yang diduga sebelum Mahabarata sudah tidak orisinil dan adalah rekaan semata. Menurutnya, La Galigo adalah buatan asing, untuk menghancurkan peradaban Bugis-Makassar.

“Kalau La Galigo itu asli, harusnya ada PDF dan ebooknya, toh,” paparnya menahan tubuhnya yang oleng.

Kontroversi Budaya Bugis-Makassar

Perdebatan mengenai budaya Bugis-Makassar, memantik pendapat ahli. Salah satunya Pakar Sejarah Kotoran Manusia, Prof. Andi Tipu-Tipu. Saat ditemui oleh Bombonews di kediamannya Minggu (3/3), dia menuturkan bahwa banyak kebohongan yang dihembuskan mengenai budaya Bugis-Makassar.

“Mattulada, Pelras, dan Nirwan A. Arsuka adalah pembohong besar,” tegasnya.

Menurutnya budaya Bugis-Makassar memang selalu terikat dengan kericuhan dan kekacauaan. Dia juga melanjutkan bahwa gambaran soal asal muasal terma ‘Makassar’ dari mangkasarak sebagai masyarakat yang ramah dan terbuka adalah penistaan terhadap akal sehat.

Turut juga dia menentang mitos terhadap Karaeng Pattingalloang, intelektual dan perdana menteri Makassar, dan ketenaran Makassar sebagai bandar terbesar di abad ke-17

“Semua itu adalah hoax. Makassar sudah jelas berasal dari kata ‘kasar’. Saya kira itu sudah terbukti sekarang kan, kalau demo di Makassar pasti keos,” lanjut guru besar Uhamsam ini.

Dia menyebutkan gerakan-gerakan literasi seperti yang dilakukan oleh banyak komunitas-komunitas ataupun festival sastra di Makassar, justru akan melemahkan nilai budaya Bugis-Makassar itu sendiri.

“Buat apa itu gerakan literasi, itu yang bikin gerakan mahasiswa melemah. Karena jadinya, mereka lebih melatih otak ketimbang otot,” ujar Tipu.

Lanjutnya, Tipu melanjutkan bahwa  Budaya Makassar yang sebenarnya dapat dilihat dari sikap tawuran, bakar ban, tutup jalan, hingga uang panaik yang tinggi (semacam mahar dalam tradisi Bugis-Makassar).

Dia mendukung framing media tentang mahasiswa Makassar yang gemar tawuran dan primitif.

Framing media terkait mahasiswa yang gemar ricuh itu baik, utamanya untuk kebugaran tubuh, apalagi Pak JK (Jusuf Kalla) sepakat ji juga toh,” lanjutnya.

Untuk itu, dia menyarankan agar budaya Bugis-Makassar ini segera dilestarikan dan masuk dalam cagar budaya baik nasional ataupun internasional.

“Di mana lagi dapat mahasiswa yang lebih suka tutup jalan dan demo dibandingkan baca buku? Saya kira berkat kegiatan bermanfaat para mahasiswa itu, prestasi minat baca rendah dan tidak masuk Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018  dapat diraih. Itu cukup baik untuk masyarakat primitif,” tutur Tipu.

Selanjutnya, menurut ketua pakar kotoran se-Indonesia ini, visi-misi terkait Walikota Makassar, Danny Pomanto terkait Makassar kota dunia adalah omong kosong.

“Makassar tidak butuh jadi kota dunia, Makassar cuma butuh ruang yang lebih banyak untuk tawuran dan bakar ban,” ujarnya.

Dia kemudian sepakat mendukung gerakan penolakan film Dilan 1991 dilarang diputar di Makassar. Menurutnya itu berbahaya penolakan dari mahasiswa dan dapat berefek pada pengrusakan bioskop-bioskop dan fasilitas umum lainnya.

“Lebih baik tidak usah putar itu film. Maumi diapa? (Mau bagaimana lagi?),” tutupnya.

Avatar
Dhihram Tenrisau
Penulis dan juga Dokter Gigi Muda.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.