OUR NETWORK

Setelah KPAI dan Djarum Bersalaman: Siapa Mengeksploitasi Anak?

Jika Djarum melakukan eksploitasi, segala ranah kehidupan kita sebenarnya sudah melakukan lebih banyak eksploitasi lewat sekolah. Gurukah?

Berita terbaru yang membuat saya semakin bersemangat, bahkan tulisan ini saya buat tepat pada musim sibuk Latsar CPNS Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, adalah kembali dilanjutkannya proyek yang telah melahirkan banyak atlet berbakat oleh Djarum. Djarum bahkan merelakan namanya dicoret, logonya dihapus, dan brand image-nya dihilangkan menjadi Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis. Pada saat bersamaan, KPAI juga sepakat untuk mencabut surat KPAI tertanggal 29 Juli 2019. Ini solusi yang tepat.

Namun, di luar itu, saya tetap harus mengakui ini: sering tak simpatik dengan kinerja KPAI. Mereka tak hanya mengurusi anak. Lebih jauh dari itu, mereka semacam malah menjerumuskan anak. Coba hitung-hitung berapa kali lembaga ini selalu hadir paling depan untuk menjerumuskan moral anak. Maaf, saya harus menyebutnya demikian. Betapa tidak, ketika terjadi kekerasan guru terhadap siswa, misalnya, lembaga ini dengan sangat atraktif akan selalu hadir paling depan dan paling awal.

Mereka akan bertitah bahwa tak seharusnya lagi kekerasan terjadi pada anak. Benar sekali. Justru itulah, melalui tulisan ini, saya hendak mengatakan bahwa sudah bukan saatnya lagi kekerasan terjadi pada dunia pendidikan. Semuanya sudah berubah: dari metode hingga sumber belajar. Pepatah Latin yang sudah menjadi klasik menyebutnya demikian: tempora mutantur et nos mutammur in illis. Kita sudah merasakan perubahan itu. Guru, misalnya, tak lagi menjadi sumber belajar utama. Ruang kelas bukan lagi wilayah otoritas tunggal guru.

Guru hanya fasilitator atau pemantik api diskusi sebab pikiran anak kita hanya perlu dirangsang. Demikianlah Plutarch menyebutnya dengan sangat puitis: pikiran bukanlah bejana untuk diisi, tapi api untuk dinyalakan. Semua guru sudah tahu perubahan itu. Dan, perubahan itu bukanlah sesuatu yang baru.

Sejak era Paulo Freire, konsep pendidikan banking concept of education ini sudah ditolak mentah-mentah karena memang, sekali lagi, siswa bukan celengan. Siswa bukan kertas kosong dan guru bukan buku yang penuh informasi.

Namun, faktanya, sistem pendidikan kita sering lelap dengan metode itu sehingga menganggap siswa celengan kosong. Guru pun pada akhirnya mengisi kepala siswa sesuai dengan kepala guru. Guru memosisikan diri sebagai mahatahu dan siswa sebagai maha tak tahu. Padahal, jika dianalogikan, pendidikan kita seharusnya ibarat  bertani. Pada posisi itu, guru adalah penggarap sawah, sekolah sebagai lahan sawah, dan siswa sebagai bibitnya. Sayangnya, pada praktiknya, sistem pendidikan kita tak menanam bibit jagung, tetapi memaksanya harus menjadi padi.

Sekolah kita tak lagi ramah, bahkan malah mengesampingkan bakat alami dari anak. Begitulah hikayat pendidikan kita: kian kemari cenderung makin tak baik. Semua seperti sibuk mengurusi pendidikan kita. Sayangnya, semua mengurus pendidikan pada akhirnya malah membuat kita semua abai.

Semua memang memberikan program. Tetapi, semuanya menjadi tak berarah dan terpusat. Sekolah penuh dengan program. Di sinilah John Holt benar bahwa kegagalan akademik siswa bukanlah dikarenakan tidak adanya/kekurangan upaya oleh sekolah, melainkan justru akibat “ulah” sekolah itu sendiri

KPAI, dalam hal ini, termasuk sekolah. Malah, lebih dari sekadar sekolah. Mereka mengurusi segala peristiwa terkait anak, mulai dari pintu gerbang sekolah hingga ke luar gedung. Mereka memang kelihatan selalu gigih mengedepankan hak anak. Itu baik sekali. Namun, kebaikan yang membabi buta kadang malah membutakan. Sibuk melindungi hak anak, misalnya, pada akhirnya membuat kuda-kuda anak lemah. Anak-anak jadi manja dan cengeng. Mereka jadi generasi yang teramat rapuh. Anak-anak jadi bebal. Moral mereka morat-marit.

Perhatikanlah, sudah bukan hal yang tragis lagi jika saat ini siswa melawan, bahkan melecehkan guru, bukan? Di beberapa kasus, guru malah harus menjadi pesakitan hukum. Bahkan, sudah ada guru meregang nyawa. Meregang nyawa ini tentu bukan proses yang terjadi tiba-tiba. Prosesnya sudah cukup lama.

Siapa pun tahu bagaimana proses itu berlangsung. Semula guru menegur siswa yang ribut. Dan, oh, siswa selalu ribut saja. Beberapa kali mungkin dihukum, namun beberapa kali selalu melawan. Si Anak beruntung. Hukum selalu membelanya.

Guru makin tersudut. Ruang kelas baginya menjadi ruang penjagalan. Hanya jika mengikut selera siswa, maka ia bisa selamat. Jika menolak selera siswa, ia bisa jadi tawanan. Mengerikan sekali. Celakanya, para guru tak bisa berbuat apa. Kepada siapa guru bisa mengadu? Kepada rekan sebaya, apa yang bisa mereka perbuat? Kepada kepala sekolah, si guru kadang makin tersudut. Kepada orang tua? Jangan! Saat ini, orang tua sudah acap memandang guru sebagai karyawan atau pembantu.

Orang tua acap memahami sekolah adalah tempat penitipan anak. Maka, bagi orang tua, urusan pendidikan sudah beres manakala uang sekolah dibayarkan. Orang tua mengharap guru betul-betul jadi pembantu. Sebagai pembantu, guru tak punya kuasa lagi untuk mendidik. Mereka harus patuh pada kemauan dan selera anak. Dalam kacamata inilah saya melihat peristiwa KPAI versus Djarum. Djarum adalah sebuah perusahaan. Motif dan tujuannya tentu bisnis. Pengabdian hanya merek lain yang bisa mereka perdagangkan.

Tak jarang memang, dalam pengabdian itu, mereka malah membonceng isu lain: perdagangan. Pada baju mereka, juga berbagai peralatan dan perlengkapan lain disematkan embel-emble Djarum. Dan, terjadilah tuduhan itu: Djarum mengeksploitasi anak. Tuduhan yang sangat kejam, tentu saja. Siapa pun tahu, di dunia olahraga, sponsor-sponsor besar selalu menyematkan nama mereka. Di pertandaingan-pertandingan sepak bola kecil hingga mahaakbar internasional, anak-anak selalu dibawa ke tengah lapangan.

Mereka memakai baju yang tak jarang malah menyematkan nama-nama sponsor besar. Apakah pertandingan itu telah mengeksploitasi anak dengan cara seperti itu? Lebih dalam lagi, apa itu eksploitasi anak? Apakah dengan membawa anak bertanding lalu memakai baju bertuliskan Djarum, maka serta-merta anak akan menjadi perokok hebat? Setimpal juga, apakah dengan kalimat imbauan dari KPAI serta-merta akan membuat anak semakin berkarakter? Saya tak sedang membela Djarum di sini.

Mereka sudah berbuat, bahkan meski dengan aroma bisnis. Lalu, apa poin saya menuliskan ini? Saya hanya ingin mengatakan bahwa jika Djarum sudah melakukan eksploitasi, segala ranah kehidupan kita sebenarnya sudah melakukan lebih banyak eksploitasi. Sekolah adalah tempat eksploitasi anak yang paling hebat. Demi akreditasi yang moncer agar mendapat siswa yang banyak, lalu setelah mendapat siswa yang banyak akan mendapat dana BOS yang melimpah, sekolah pun membuat dunia pendidikan jadi dunia bisnis.

Sekolah menjadi pasar bebas. Anak yang lulus ke perguruan tinggi negeri (PTN) favorit akan dibangga-banggakan dan dipamer-pamerkan melalui berbagai brosur. Tujuannya satu: sekolah ini sudah sukses. Mau lulus seperti mereka, masuklah ke sekolah kami. Siswa jadi komoditas. Itu masih dari segi bisnis. Dari segi lainnya lebih brutal lagi. Kapan-kapan kita bahas! Yang pasti, Djarum telah mengendorkan egoismenya. Lantas, KPAI kapan berbuat banyak untuk membenahi karakter yang makin morat-marit ini?

Bacaan terkait

Audisi Djarum Disetop, Bye Bye “Indonesia Raya”

KPAI vs PB Djarum: Ada Tangan Asing?

Terbukti Lakukan Eksploitasi Anak, Pemerintah Dukung KPAI Bubarkan PB Djarum

Mencari Djarum dalam Jerami

Hapuskan Olahraga, Budayakan Merokok

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…