Rabu, Maret 3, 2021

Sejak Kapan Tuhan Ada?

Surat Terbuka untuk Susi Pudjiastuti Tentang Tuduhan Sampah Plastik di Pulau Tabuhan Banyuwangi

Perkenalkan bu. Nama saya Rachmawati. Tapi biasa dipanggil Iraa dengan doubel a di belakang. Sederhana karena saya suka matatahari. Di Yunani, masyarakatnya menyebutnya Raa....

Inilah Agama yang Saya Kagumi

Meski tak sepi dari doktrin eksklusif dan mengalami deviasi serta friksi akibat intervensi politik kotor sebagaimana agama-agama pada umumnya, teologinya bukan gertak teks klerik...

Memahami Gejolak Batin Indonesia

Tak mudah membaca dan memahami buku yang baru saya terima dua hari lalu (Sabtu pagi, tepatnya pukul 10.30). Kemudian baru saya baca dengan serius...

Gagasan Literasi Kita yang Terbentur oleh Original dan Bajakan

Saya ingin mengajak Anda untuk menyelami satu isu yang menarik saat ini. Bukan. Bukan tentang RUU KUHP dan PKS, pemilihan pimpinan KPK yang kontroversial,...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Dari sudut usia sejujurnya saya masih terbilang muda untuk memasuki jenjang pernikahan. Usia saya belum genap 25 tahun. Pekerjaan tetap belum punya. Masa pembelajaran formal juga belum terbilang tuntas.

Namun, ketika berjumpa dengan teman-teman yang sudah menikah, beberapa di antara mereka kadang suka bertanya: Kapan mau nyusul? Kapan mau nikah? Kapan mau melengkapi separuh agama? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya. Masing-masing orang biasanya saya jawab dengan jawaban yang berbeda-beda.

Tapi, betapapun beragamnya jawaban itu, satu hal yang perlu kita amini bersama ialah: pertanyaan yang diawali dengan kata kapan itu sudah pasti menanyakan tentang waktu dan keberwaktuan. Dengan ungkapan lain, pertanyaan tersebut hendak meminta penjelasan tentang penisbatan sesuatu kepada waktu.

Dan dari situ muncullah kategori “keberwaktuan” yang oleh para filsuf paripatetik dimasukkan kedalam salah satu dari kategori yang sepuluh (maqûlât ‘asyrah/ten categories).

Hakikat waktu itu sendiri masih diperselisihkan oleh para pakar. Bahkan, soal keberadaan waktu itu sendiri mereka masih berbeda pendapat. Apakah waktu itu benar-benar ada atau dia hanya sekedar ilusi belaka.

Dalam pandangan para teolog (mutakallimûn), waktu itu diartikan sebagai “mutajaddidun ma’lûm, yuqaddaru bihi mutajaddidun mauhûm” (suatu hal baru yang diketahui, yang dengannya sesuatu yang lain, yang masih samar, itu bisa ditentukan).

Lebih jelasnya, para teolog memandang waktu itu sebagai sebuah ilusi, atau makna ilusif yang dihasilkan dari pengamatan kita atas kejadian-kejadian, atau peristiwa-peristiwa tertentu. Tapi bukan kejadian/peristiwa itu sendiri.

Dalam contoh tersebut, misalnya, pernikahan saya adalah sesuatu yang masih samar. Ketika ada pertanyaan kapan saya akan menikah? Maka, untuk menjelaskan hal yang masih samar itu, saya menyertakan keterangan lain yang sudah diketahui (ma’lûm) oleh mitra bicara.

Misalnya saya katakan bahwa “saya akan menikah tahun depan ketika saya lulus S2”. Kesamaran pernikahan saya dijelaskan oleh kelulusan S2. Lalu mana yang disebut waktu? Yang disebut waktu bukan kejadiannya, juga bukan hubungan antara kejadiannya, melainkan makna ilusif yang ditangkap dari keberiringan dua kejadian itu.

Frase “tahun depan ketika saya lulus S2” itu menunjukan makna waktu. Dia disertakan untuk menjelaskan dan menentukan sesuatu yang masih samar tadi. Dan itulah yang dimaksud dengan waktu. Ini satu definisi yang diamini secara luas oleh para teolog Asy’arian (Asyâirah), di samping definisi para filsuf yang pernah saya singgung dalam tulisan yang lalu.

Contoh lain: Kapan kamu diputusin sama pacar kamu? Jelas, pertanyaan tersebut juga bertujuan untuk meminta penjelasan terkait suatu hal yang masih samar. Lalu, misalnya, Anda menjawab: Saya diputusin kemarin malam ketika sedang makan di restoran.

Penyertaan kata “kemarin malam…” dalam pernyataan tersebut berfungsi sebagai penjelas dan penentu atas hal yang masih samar tadi, yang dalam hal ini adalah terputusnya hubungan Anda dengan pacar.

Terputusnya hubungan Anda masih samar, lalu diperjelas dengan ungkapan “kemarin malam ketika sedang makan bareng.” Setelah itu nalar kita menangkap suatu makna dari keberiringan/keberurutan dua kejadian itu. Dan itulah yang disebut dengan waktu.

Jadi, dalam pandangan para teolog, waktu itu sebenarnya hanyalah ilusi, atau makna ilusif, yang ditangkap oleh nalar dari pengamatan kita atas keberiringan atau keberurutan antara kejadian-kejadian.

Karena itu, dalam pandangan mereka, waktu itu tidak ada wujud eksternalnya. Dia hanya sekedar makna yang ditangkap oleh nalar manusia. Apakah di alam luar ada sesuatu yang bernama waktu atau tidak? Mereka akan menjawab tidak ada. Waktu itu hanya amrun ‘itibâri saja.

Apakah definisi ini bisa kita setujui atau tidak, kita tidak akan mendiskusikannya di ruangan yang sempit ini. Poin utama yang hendak saya tekankan ialah: pertanyaan yang diawali oleh kata kapan (matâ/when) ialah pertanyaan yang hendak menanyakan keberwaktuan, atau penisbatan sesuatu kepada waktu. Ini satu hal yang perlu kita pahami dengan baik.

Nah, karena pertanyaan tersebut hendak menanyakan keberwaktuan, maka konsekuensinya kita tidak bisa menanyakan sesuatu yang tak berwaktu dengan menggunakan kata kapan.

Pertanyaannya: Tuhan berwaktu atau tidak? Kalau Anda menjawab iya, berarti Tuhan Anda baru ada dengan adanya waktu. Tuhan yang Anda yakini itu pasti memiliki permulaan. Kalau dia memiliki permulaan, berarti dia disebabkan oleh sesuatu yang lain. Kalau dia disebabkan oleh sesuatu yang lain, berarti dia bergantung pada sesuatu yang lain itu. Kalau dia sudah bergantung pada sesuatu yang lain, apakah ketika itu kita layak menyebut dia sebagai Tuhan?

Ketergantungan itu merupakan tanda akan adanya kebutuhan. Kalau sesuatu sudah butuh, tidak mungkin kita menyebutnya sebagai Tuhan. Karena ketuhanan meniscayakan ketak-tergantungan. Yang butuh itu makhluk, bukan khaliq. Yang butuh itu lemah, sementara Tuhan tidak mungkin kita yakini sebagai sesuatu yang lemah.

Kalau Tuhan lemah, apa gunanya kita meyakini Dia sebagai pengatur utama di balik keberlangsungan jagad raya? Karena itu, logika yang sehat akan berkata dengan tegas bahwa Tuhan bukanlah sesuatu yang berwaktu.

Tetapi kapan Dia ada? Pertanyaan ini mengemuka karena nalar kita sudah kadung terkurung dalam pengalaman-pengalaman inderawi. Kita terbiasa mengajukan pertanyaan tersebut, karena segala sesuatu yang ada di sekeliling kita semuanya terikat dengan waktu.

Tidak ada makhluk yang terbebas dari kategori waktu. Semuanya berwaktu. Sehingga kita terbiasa menggunakan kata kapan untuk menanyakan keberwaktuan sesuatu yang hendak kita tanyakan itu.

Namun, kalau kita punya keyakinan bahwa Tuhan berbeda dengan makhluk—dan kita memang harus meyakini itu sebagai salah satu keyakinan mendasar dalam Agama kita—tidak akan sulit bagi kita untuk menerima penjelasan di atas. Makhluk itu berbeda dengan Sang Khaliq. Di antara perbedaannya, makhluk itu berwaktu, sementara Tuhan terbebas dari waktu.

Dalam kehidupan sehari-sehari kita mengenal masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Bagi Tuhan ya jelas hal itu tidak berlaku. Karena Dia tak terikat dengan waktu, seperti halnya kita. Intinya, yang berwaktu itu hanyalah makhluk. Sementara ketak-berwaktuan hanya dimiliki oleh Sang Khaliq.

Sebagai konsekuensi dari keyakinan tersebut, maka Tuhan tidak mungkin memiliki permulaan. Karena itu Tuhan sering disebut sebagai Dzat yang qadîm. Nama sifatnya qidam (ketak-berawalan). Ketika Allah dinyatakan qadîm, ungkapan tersebut mengandung makna bahwa Allah itu tidak memiliki permulaan.

Karena Dia tidak memiliki permulaan, maka Dia tidak berwaktu. Dan kalau kita mempercayai Tuhan sebagai sesuatu yang tak berwaktu, niscaya kita akan tersadar bahwa pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang keliru. Demikian, wallâhu ‘alam bisshawâb.

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.