Kamis, Oktober 29, 2020

Sapi yang Tidak Peduli Keluhan Tikus

Ahok: PSI Partai Kecil Omong Gede?

Ahok adalah "manusia kontroversial abadi". Kapan dan di mana pun dia berada, pikiran dan mulutnya tak berjarak. Bahkan, untuk sedikit menimbang manfaat dan mudaratnya,...

Ijtima Pengasong Agama

Kalau ada sekumpulan orang yang mengaku ulama, tapi berniat mengalahkan kemasyhuran sinetron Cinta Fitri, mungkin merekalah yang sekarang paling getol menggelar Ijtima Ulama. Sampai...

Skenario Tahun Ajaran Baru

Situasi Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak agenda besar Nasional terpaksa ditunda, digeser, atau dijadwalkan ulang. Salah satunya adalah agenda tahun ajaran sekolah. Sampai saat ini, pemerintah,...

Kiagus Wafat, Apa Kabar Jiwasraya dan Asabri?

Kabar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya positif virus corona membuat para menteri ikut "gemetar". Bahkan kabarnya Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto menjadi sorotan setelah...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Pada suatu hari, seekor tikus sedang mencari makan. Seperti biasa, dia menyelinap masuk ke dalam gudang. Saat sibuk meraba-raba gudang yang gelap, tikus menemukan sebongkah keju yang sangat besar. Tapi sayang, keju tersebut melekat pada alat perangkap tikus yang terbuat dari besi. Sebuah perangkap yang mampu menghancurkan tubuh tikus hanya dalam beberapa detik saja.

Tikus pun tak berani mendekati perangkap itu. Lalu, ia menemui ayam.

“Hei ayam, di gudang ada perangkap tikus! Berhati-hatilah saat memasuki gudang!” kata tikus.

“Perangkap tikus itu harus disingkirkan supaya tidak membahayakan makhluk lain-lain,” ujar sang tikus.

Tapi apa kata ayam? “Saya tahu kalau ini adalah masalah besar bagi kamu, tikus.” “Maaf ya tikus, itu bukan urusanku. Aku tidak terganggu dengan perangkap itu,” tambah ayam.

Tidak puas dengan jawaban ayam, tikus kemudian menemui kambing. Setelah menceritakan adanya bahaya perangkap tikus di gudang itu, kambing pun bersuara.

“Maaf, ya!,” kata kambing, “Saya tidak bisa berbuat banyak. Sebaiknya kau berdoa saja agar keju itu lepas dari perangkapnya.”

Jawaban kambing yang asal-asalan itu membuat tikus kesal. Ia kemudian menemui sapi untuk memberi tahu adanya perangkap tikus di gudang tadi dengan harapan sapi dapat menyingkirkannya.

Lagi-lagi, tikus mendapat jawaban yang sama dari sapi.

“Maaf, ya,” kata sapi sambil tertawa, “Perangkap sekecil itu tidak berarti apa-apa bagi tubuhku yang besar ini. Saya tidak merasa terganggu dengan adanya perangkap itu.”

Karena bosan tidak mendapat perhatian teman-temannya, kemudian tikus meninggalkan gudang dan mencari makan di tempat lain. Saat tengah malam, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. “Bruug…” Perangkap tikus itu sepertinya telah menemukan mangsanya.

Mendengar suara ini, istri sang petani langsung terbangun dan berlari ke gudang. Tetapi karena gelap, istri petani tersebut tidak menyadari bahwa yang tertangkap di perangkap tersebut adalah seekor ular berbisa. Ular itu lalu menggigitnya. Istri petani pun menjerit-jerit kesakitan.

Melihat keributan itu, sang petani segera berlari menuju dapur. Ia menemukan istrinya pingsan karena tergigit ular. Kemudian ia membawa istrinya untuk berobat. Esok paginya, tubuh si istri masih demam. Maka petani itu memutuskan menyembelih si ayam untuk dibuat sup kesukaan istrinya.

Selama istrinya sakit, banyak sekali tetangga yang menungguinya. Lalu petani itu menyembelih kambingnya. Daging kambing tersebut kemudian dibuat sate untuk hidangan tamu.

Setelah lebih dari seminggu sakit, sang istri akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang yang hadir di pemakamannya. Akhirnya sang petani memutuskan untuk menyembelih satu-satunya sapi miliknya. Daging sapi itu dimasak untuk tamu yang telah hadir di pemakaman istrinya.

Kisah di atas menggambarkan dampak ketidakpedulian sesama makhluk dalam menghadapi bahaya. Tadinya hanya masalah perangkap tikus. Tapi kemudian berkembang menjadi masalah bagi semuanya. Ini terjadi karena yang lain tidak peduli pada perangkap tikus tersebut. “Biarlah tikus yang mati,” sindir sapi.

Hidup adalah sebuah perputaran atau yang biasa disebut siklus quantum. Masalah dan ancaman yang diderita orang lain dapat menjadi rantai yang akhirnya menimpa diri kita.

Karena itu, untuk menghindari bahaya lebih besar — sekecil apa pun benda berbahaya yang anda temui seperti jarum atau paku di jalan —
lekas singkirkan. Bayangkan, paku di jalan, akan melukai orang berpenyakit jantung. Ia kaget. Jantungnya kaget. Dan ia tewas.

Maka, keep the arms wide open and show your love; Buka lebar tanganmu dan tunjukkan cintamu pada sesama.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Berita sebelumnyaJurnalisme Ala Bangku Kosong
Berita berikutnyaSaham Apple Dibeli
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.