Minggu, November 29, 2020

Saatnya Bung Fahri Jadi Jubir Jokowi

Dikutuk Pengetahuan?

Dalam Islam lazim dikenal ungkapan: makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Intinya, makanlah dengan porsi secukupnya, tetap kita sisakan ruang kosong di lambung, biar...

Hafiz, Ruang Publik, dan Intelektual yang Diam

Seorang hafiz (penghapal Qur'an) idealnya adalah juga seorang ilmuwan yang berpikir analitis dan kritis. Seperti Ibnu Sina (kedokteran), Al-Jabbar (matematika), atau Al-Battani (astronomi). Mereka...

The Boy Who Harnessed The Wind Film Penting Di Netflix Saat Ini

Konon di kalangan para peneliti sosial-pembangunan beredar istilah “Penelitian Helikopter”. Sebuah istilah yang menunjukan aktivitas penelitian yang tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya karena dia...

Bahaya Laten Hizbut Tahrir Indonesia

Saya mengenal Hizbut Tahrir sekitar 28 tahun yang lalu, ketika publik belum mengenalnya. Di masa itu Hizbut Tahrir memang belum memperkenalkan diri secara formal....
Alja Yusnadihttp://aljayusnadi.com
Kolumnis, tinggal di Aceh.

Fahri Hamzah—Selanjutnya saya sebut Bung Fahri—adalah satu dari sedikit politisi berkarakter di Indonesia, setidaknya menurut saya.

Semasa dia menjabat Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019, Fahri tampil dengan gaya khas: keras dan bertenaga.

Menjadi politisi yang secara politik berbeda dengan Pemerintah tidak mudah. Fahri dan partainya pada saat itu konsisten berada di luar pemerintah, entah karena pilihan atau karena tidak diajak.

Jelasnya, sedikit sekali partai politik yang mampu berada di luar pemerintah dalam waktu yang lama. Pasca reformasi, PDI Perjuangan satu-satunya partai yang konsisten berada di luar pemerintah selama sepuluh tahun berturut-turut.

Selama SBY menjadi Presiden, selama itu pula di bawah komando Ketua Umum Megawati Soekarno Putri PDI Perjuangan kekeh menjadi oposisi, walaupun sudah ditawar sejumlah posisi Menteri. Hasilnya, pada Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, PDI Perjuangan digdaya, memenangkan pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

Mungkin, itu juga yang ingin dilakukan Fahri bersama partainya dulu, PKS. Sekarang Fahri sudah keluar dari PKS dan mendirikan Partai Gelora.

Fahri bukan hanya keras saat berhadapan dengan lawan politik. Di dalampun, Fahri tidak mau tunduk begitu saja kepada Presidennya.

Ketika PKS menggantikan Fahri dari kursi pimpinan DPR RI, dia menggugat partai yang telah melambungkan namanya.

Hebatnya, dia menang di pengadilan dan memerintahkan PKS untuk membayar kerugian yang dialaminya.

Itu cerita dulu. Sekarang, Fahri bersama Anis Mata, dan kawan-kawan sudah keluar atau dikeluarkan dari PKS dan membentuk partai politik: Gelora. Bersama partai baru ini, Fahri di dapuk sebagai Wakil Ketua Umum.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita bahwa Fahri bersama Gelora bertemu dengan Presiden Jokowi. Saya melihat senyum yang terkembang dari wajah Fahri dibalik masker Gelora.

Itu memang pertemuan biasa. Menurut Anis, sang pimpinan tertinggi, pertemuan itu hanya silaturrahmi biasa setelah Gelora resmi menjadi partai politik di Indonesia.

Tentu tidak mudah bagi Gelora untuk tumbuh dan berkembang di tengah jagad perpolitikan Indonesia. Jika Gelora tetap memilih jalan eklusif seperti saudara tuanya, Fahri dan kawan-kawan akan bertarung merebut segmen pemilih bersama PKS.

Bertanding dengan PKS ibarat mengikuti lomba Maraton, Gelora memulai start di saat PKS sudah berlari 20 km, tentu tidak seimbang.

Gelora memerlukan beberapa afirmasi, mulai dari sistim partai yang membuka diri kepada kader non-halaqah sampai berhubungan baik dengan pemerintah.

Sampai saat ini, PKS masih berada di luar pemerintah dan menjadi “sandungan” koalisi pemerintah di DPR.

Jika Gelora ingin bertahan setelah pemilu 2024, maka jalan salah satunya adalah menjadi bagian dari pemerintah.

Mengenai cara, saya kira Gelora lebih paham bagaimana mekanismenya. Yang jelas, Gelora berkontribusi untuk membawa pemerintah ke arah yang lebih baik.

Salah satu caranya, Preisiden mengajak salah satu petinggi Gelora untuk membantu pemerintah. Kalau saya, melihat potensi itu ada di Bung Fahri.

Fahri cocok untuk berbagai posisi, mulai Jubir Presiden, Kepala Staf bahkan Menteri. Tergantung selera Presiden Jokowi.

Saya melihat Fahri cocok menjadi Jubir Presiden. Nalarnya jalan, pengetahuannya luas, gaya bicaranya jelas, nadanya hidup: kadang keras, kadang lembut.

Sebagai Jubir Presiden, Bung Fahri akan berbicara di panggung-panggung yang selama ini tidak dikuasai Jokowi.

Kita bisa melihat, bagaimana kuat dan tegasnya Fahri dalam menyampaikan gagasan. Salah satunya soal KPK. Walau melawan arus deras, dia tidak sungkan mengkritik, bahkan membubarkan KPK. Fahri tidak tersandera dengan kutukan konstituen atau elektabilitas yang turun.

Pada saat itu, mengkritik KPK sama dengan melawan kehendak publik. Dan, Fahri tidak gentar dengan itu. ini memang bukan perkara pro atau kontra KPK, tapi saya melihat bagaimana teguhnya Fahri dalam bersikap.

Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Fahri. Bahkan, dalam beberapa hal saya tidak sependapat dengannya. Saya pendukung Jokowi, tentu berbeda dengan Fahri.

Beberapa panggung debat di ruang televisi terasa sepi tanpa Fahri. Saya duga, dengan kehadiran Fahri sebagai Jubir Presiden dapat memberi warna baru.

Coba Anda bayangkan, dalam debat di ILC misalnya, Bung Fahri ini menyampaikan pendapat Presiden terhadap suatu masalah. Saya yakin, publik akan lebih cepat menangkap dan bagi sebagain masyarakat yang segaris dengan Fahri dapat memahaminya dengan baik.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Jubir yang ada sekarang, kehadiran Bung Fahri saya kira dapat menjembatani Presiden dengan publik.

Ini hanya pendapat saya, tanpa mewakili organisasi saya bekerja maupun The Geotimes tempat saya menulis. Pun demikian, pertimbangan akhirnya tetap di tangan Presiden Jokowi.

Alja Yusnadihttp://aljayusnadi.com
Kolumnis, tinggal di Aceh.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.