Kamis, Desember 3, 2020

Rupa Pendidikan di Tengah Wabah

Angkutan Sekolah Terpadu atau Mati

Selama empat hari ini saya mengunjungi tiga SMA negeri di tiga kota berbeda: SMA 1 Sugihwaras Bojonegoro, SMA 15 Surabaya dan SMA 7 Semarang,...

Jangan Jual Nama Relawan dan Influencer Medsos ke Jokowi, Kami Bukan Komoditi

Apa yang hendak saya sampaikan sebenarnya tidak pantas dibicarakan. Ini aib bagi kerelawanan. Tapi saya lihat, fenomena ini terus terjadi. Oknum-oknum penyambung lidah istana...

Ijtima Pengasong Agama

Kalau ada sekumpulan orang yang mengaku ulama, tapi berniat mengalahkan kemasyhuran sinetron Cinta Fitri, mungkin merekalah yang sekarang paling getol menggelar Ijtima Ulama. Sampai...

Yeo Bee Yin, Syed Saddiq, dan Rongsokan Politik Kita

Malaysia sedang mabuk kepayang dengan demokrasinya. Kemenangan Pakatan Harapan menaikkan politisi umur 92 tahun, Mahathir Muhammad, menjadi perdana menteri. Dia menjadi politisi tertua di...
Aziz Setya Nurrohman
Mahasiswa jurusan komunikasi penyiaran islam

Wabah Covid-19 telah banyak mengubah sistem pendidikan di Indonesia. Kini kegiatan belajar mengajar bisa dilaksanakan tanpa harus tatap muka. Namun regulasinya telihat seperti solusi bersifat sementara dan spontan menghadapi wabah.

Indonesia memang belum siap untuk sistem pendidikan daring. Ketika diterpa wabah maka kegagapan pemerintah terlihat ketika ingin melanjutkan sistem pendidikan. Memang telah ada regulasi seperti Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ, tetapi efektivitas sangat dipertanyakan.

Permasalahan utama PJJ ialah banyak guru yang hanya memberikan tugas semata. Siswa hanya disuruh mengerjakan soal dan membaca buku tanpa ada penjelasan dari guru sendiri. Penjelasan sangat diperlukan ketika siswa sulit memahami bahasa dari buku.

Kendala lainya ialah akses dan fasilitas sangat terbatas bagi para siswa. Bila tinggal di sekitar perkotaan maka akan mudah melaksanakan PJJ, namun bagi mereka yang jauh bahkan di pegunungan akan sulit mendapatkan akses internet.

Guru bisa saja mengunjungi ke rumah siswa, tetapi apakah itu efektif? Jawabannya tidak. Guru hanya bisa mengunjungi yang terdekat dan bagi rumahnya jauh tidak mungkin akan dikunjungi. Semua itu kembali ke masalah biaya dan dampak dari Covid-19.

Jika pemerintah terlalu memfokuskan pada masalah itu maka sistem PJJ tidak akan menjadi solusi, tetapi hal itu juga tidak boleh diabaikan. Apalagi saat ini akan segera menghadapi Tahun Ajaran Baru.

Kemendikbud sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Tidak cukup hanya menyusun materi untuk Tahun Ajaran Baru. Penyampaian materi juga harus dipikir lebih matang lagi. Bekerja sama dengan kementerian lain bisa menjadi solusi untuk pemerataan akses dan fasilitas pembelajaran.

Selain itu, Tahun Ajaran Baru pihak sekolah akan menerima siswa baru. Mereka belum tahu guru-guru yang akan mengajarnya nanti. Penyampaian materi nanti juga harus memberikan kesan agar bisa mengenal guru mereka. Bila ingin mempertemukan langsung antara guru dan siswa maka harus berkoordinasi dengan Satuan Tugas Covid-19.

Semua bisa dijalani bila terus melakukan evaluasi. Tidak ada sistem pendidikan yang sempurna, apalagi mengingat Indonesia sangatlah beragam. Sistem PJJ harus menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif supaya hasilnya sama-sama berkualitas seperti sistem tatap muka.

Aziz Setya Nurrohman
Mahasiswa jurusan komunikasi penyiaran islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.