Jumat, Februari 26, 2021

Rupa Pendidikan di Tengah Wabah

Kami Harus Terus Bekerja, Justru Karena Pandemi

Dua hari berturut-turut ini saya mendengar kabar meninggalnya tiga orang rekan kerja kami di ATR/BPN, satu di Kalimantan Barat, satu di Nusa Tenggara Barat,...

Kasus Miftahul Jannah dan Narasi Islam Terzalimi

Masalahnya sederhana, sebenarnya. Atlet Indonesia Miftahul Jannah dilarang bertanding di Asian Para Games karena ia memakai jilbab. Disuruh melepas ia enggan. Apa boleh buat,...

Kekerasan Seksual Anak dan “Homoseksualitas” Islam

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 ini terasa paradoks. Jeritan puluhan anak korban kekerasan seksual tenggelam di tengah gegap gempitanya perayaan dan seremonial. Setidaknya...

Mengapa Sebagian PNS Membenci Jokowi?

Selama mudik lebaran kemarin saya bertemu dengan sahabat SMA yang sudah lima tahun tak berjumpa. Kami mengobrol sejak isya sampai subuh. Hal yang kami...
Aziz Setya Nurrohman
Mahasiswa jurusan komunikasi penyiaran islam

Wabah Covid-19 telah banyak mengubah sistem pendidikan di Indonesia. Kini kegiatan belajar mengajar bisa dilaksanakan tanpa harus tatap muka. Namun regulasinya telihat seperti solusi bersifat sementara dan spontan menghadapi wabah.

Indonesia memang belum siap untuk sistem pendidikan daring. Ketika diterpa wabah maka kegagapan pemerintah terlihat ketika ingin melanjutkan sistem pendidikan. Memang telah ada regulasi seperti Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ, tetapi efektivitas sangat dipertanyakan.

Permasalahan utama PJJ ialah banyak guru yang hanya memberikan tugas semata. Siswa hanya disuruh mengerjakan soal dan membaca buku tanpa ada penjelasan dari guru sendiri. Penjelasan sangat diperlukan ketika siswa sulit memahami bahasa dari buku.

Kendala lainya ialah akses dan fasilitas sangat terbatas bagi para siswa. Bila tinggal di sekitar perkotaan maka akan mudah melaksanakan PJJ, namun bagi mereka yang jauh bahkan di pegunungan akan sulit mendapatkan akses internet.

Guru bisa saja mengunjungi ke rumah siswa, tetapi apakah itu efektif? Jawabannya tidak. Guru hanya bisa mengunjungi yang terdekat dan bagi rumahnya jauh tidak mungkin akan dikunjungi. Semua itu kembali ke masalah biaya dan dampak dari Covid-19.

Jika pemerintah terlalu memfokuskan pada masalah itu maka sistem PJJ tidak akan menjadi solusi, tetapi hal itu juga tidak boleh diabaikan. Apalagi saat ini akan segera menghadapi Tahun Ajaran Baru.

Kemendikbud sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Tidak cukup hanya menyusun materi untuk Tahun Ajaran Baru. Penyampaian materi juga harus dipikir lebih matang lagi. Bekerja sama dengan kementerian lain bisa menjadi solusi untuk pemerataan akses dan fasilitas pembelajaran.

Selain itu, Tahun Ajaran Baru pihak sekolah akan menerima siswa baru. Mereka belum tahu guru-guru yang akan mengajarnya nanti. Penyampaian materi nanti juga harus memberikan kesan agar bisa mengenal guru mereka. Bila ingin mempertemukan langsung antara guru dan siswa maka harus berkoordinasi dengan Satuan Tugas Covid-19.

Semua bisa dijalani bila terus melakukan evaluasi. Tidak ada sistem pendidikan yang sempurna, apalagi mengingat Indonesia sangatlah beragam. Sistem PJJ harus menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif supaya hasilnya sama-sama berkualitas seperti sistem tatap muka.

Aziz Setya Nurrohman
Mahasiswa jurusan komunikasi penyiaran islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.